Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

KERIS KAMARDIKAN | Potensi di Zaman Generasi Z dan Sisi Isoterinya

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 28 Maret 2024 | 12:01 WIB
Toni Junus (dua dari kiri) serahkan cenderamata kepada Empu Subandi di sela Seminar Budaya-Kuliah Umum Prodi Keris FSRD ISI Surakarta belum lama ini.
Toni Junus (dua dari kiri) serahkan cenderamata kepada Empu Subandi di sela Seminar Budaya-Kuliah Umum Prodi Keris FSRD ISI Surakarta belum lama ini.

RADARSOLO.COM- Keris kamardikan atau keris yang dibuat setelah Indonesia merdeka, selalu menarik untuk diperbincangkan.

Apalagi, keris kamardikan dikaitkan dengan era generasi (gen) Z.

Seperti diketahui, gen Z sudah sangat akrab dengan teknologi digital, dan terkesan menyukai hal-hal yang instan.

Berbanding terbalik dengan keris yang proses pembuatannya butuh banyak tahapan.

Ditambah, stigma tentang keris yang membuatnya terkesan kental dengan aroma mistis.

Nah, fenomena tersebut dibahas dalam Seminar Budaya-Kuliah Umum Prodi Keris FSRD ISI Surakarta belum lama ini.

Menghadirkan Toni Junus, tokoh keris kamardikan dan moderator Intan Anggun Pangestu, dosen dan praktisi keris ISI Surakarta.

Hadir para pakar perkerisan, salah satunya Empu Subandi, para pelajar SMK, dan mahasiswa.

Diterangkan Toni, di Taiwan, anak-anak usia dini sudah dikenalkan dengan keris.

Berbeda dengan di tanah air yang menjadi punjernya alias pusat pembuatan keris, tapi belum ada gerakan masif untuk mengenalkan keris sejak dini.

“Ini menjadi tantangan bagi pemerintah,” terang Toni.

Lalu bagaimana caranya mengedukasi dan mempromosikan keris kamardikan kepada masyarakat?

Toni menyebut, bisa dilakukan dengan memanfaatkan media sosial.

Secara konsisten memberikan pencerahan lewat tulisan maupun konten visual tentang keris kamardikan.

Ketika masyarakat telah teredukasi tentang keris kamardikan, diharapkan mereka tertarik untuk memilikinya.

Dengan begitu, pasar atau peminat keris kamardikan bisa lebih luas.

“Dengan penggarapan yang bagus, kualitas keris kamardikan tak kalah indah dengan keris-keris sepuh,” ujar Toni.

Itu dibuktikan Toni dengan menjual keris kamardikan koleksinya dengan harga puluhan juta rupiah.

Di tempat yang sama Empu Subandi menuturkan, mahasiswa Prodi Keris dicetak sebagai seniman, bukan menjadi bakul alias pedagang.

“Karyamu ditunggu. Buat karya yang baik,” pesan Empu Subandi.

Tidak kalah menariknya turut dibahas tentang isoteri keris, yakni aspek tidak kasat mata yang dimiliki sebuah keris.

Nah, apakah keris kamardikan memiliki isoteri?

Toni pun bercerita, ada warga negara Filipina memesan keris kepadanya.

Hingga suatu hari, si pemesan keris didatangi remaja perempuan yang mengaku sebagai anaknya.

Remaja perempuan itu ditemui sang istri si pemesan keris. Sempat kaget, tapi sang istri bisa menerima remaja perempuan itu dengan baik.

Tidak marah-marah dengan suaminya karena selama ini tidak pernah cerita bila telah memiliki seorang anak.

“Nah, apakah itu gara-gara kerisnya ‘hebat’ (ada unsur isoteri) yang bisa membawa suasana damai dalam keluarga, saya juga tidak tahu,” terang Toni.

Ditambahkan Toni, keris baru juga dibuat dari banyak bahan yang memiliki partikel-partikel.

Dari partikel-partikel yang diulet (ditempa) menjadi bilah keris, bisa jadi ada energinya.

Sementara itu, ketua I sekaligus ketua bidang Ketua Bidang Edukasi Komunitas Boworoso Tosan Aji Solo (Brotosuro) Ady Sulistyo menjelaskan, isoteri keris dapat dijelaskan menggunakan logika.

Menurutnya, dalam proses pembuatan keris, disematkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Jadi pembuatan keris tidak semata-mata hanya karena kemahiran sang pembuatnya, tapi ada campur tangan Tuhan Yang Maha Esa lewat doa-doa tadi,” beber dia. (wa)

 

 

 

 

 

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#keris kamardikan #isi surakarta #FSRD #isoteri