RADARSOLO.COM-Selain bahan dan proses penciptaan, terdapat tradisi memperlakukan keris yang tak kalah istimewa.
Ketua I sekaligus Ketua Bidang Edukasi Komunitas Boworoso Tosan Aji Solo (Brotosuro) Ady Sulistyo merangkum ada enam tradisi dalam memperlakukan keris dan maknanya.
1. Tradisi Nglolos Dhuwung (keris) di Adat Temanten Jawa
Sebelum acara sungkeman atau pangabekten mempelai kepada kedua orang tua atau mertua, keris dilolos atau dilepas dari badan. Sesudah acara sungkeman, barulah keris dikenakan kembali.
Tradisi tersebut menyimbolkan bahwa sesuatu yang bernilai luhur tentang Ketuhanan, tidak sungkem atau menyembah kepada manusia.
2. Tradisi Tari Keris di Bugis Pra Islam dan di Bali (Tari Ngurek)
Yaitu dengan menusukkan keris ke badan, bahkan bagian tubuh yang paling lemah sekalipun (antara lain kelopak mata).
Itu artinya, jika badan kita besi, maka tidak akan terluka (karena besi sama besi). Makna yang terkandung adalah, kalau kita ajur-ajer menyatu dengan daya kuasa-NYA atau selalu mendapatkan tuntunan-NYA, maka tidak akan sengsara hidup di dunia maupun hidup sesudah di dunia.
3. Tradisi Penjamasan
Yakni membersihkan bilah keris dan warangkanya. Artinya, keris juga merupakan simbol dari si manusia itu sendiri. Manusia harus selalu bersih dari kotoran (dosa). Upacara jamasan ditentukan waktunya dalam tradisi.
4. Tradisi Melolos Keris dengan Mengangkat Bilah ke Atas dan Samping Kepala
Keris sebagai simbol luhur Ketuhanan, dengan perlakuan tersebut adalah sebagai penghormatan kepada daya kuasa-NYA yang mencipta, memelihara, dan melebur atau penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
5). Tradisi Keris "Menggantikan" Kehadiran Mempelai Pria
Keris juga digunakan untuk mewakili mempelai pria yang tidak bisa menghadiri acara pernikahan karena sesuatu hal.
Ini bermakna bahwa keris adalah simbol dari si manusia itu sendiri. Maka keris bisa mewakili pemiliknya saat berhalangan hadir dalam upacara pernikahan.
Begitu pun dalam tradisi keris untuk mewakili keberadaan seorang raja untuk dibawa oleh orang yang mewakilinya.
6. Tradisi Pemberian Kepangkatan (Gelar) dan Nama (Sesebutan).
Keris yang juga simbol si manusia itu sendiri, maka terjadi proses personifikasi. Selain diberi nama atau sesebutan, juga diberikan kepangkatan atau gelar dalam proses personifikasi tersebut.
Kepangkatan yang diberikan bermakna bahwa manusia mempunyai tingkatan sosial dan spiritual (makhom)-nya masing-masing. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono