RADARSOLO.COM - Menyewa kendaraan, rumah, serta barang berharga lain mungkin sudah biasa. Tapi apa jadinya jika yang disewa seorang pacar?
Fenomena tersebut baru-baru ini marak di Kota Bengawan. Sesuai namanya, jasa ini khusus menyewa lawan jenis untuk teman berkencan.
Wartawan Jawa Pos Radar Solo coba menelusuri jasa pacar sewaan melalui akun medsos X.
Hingga akhirnya menemukan akun X @RentalPac******. Akun ini menjanjikan bisa menyediakan lawan jenis sebagai pacar sewaan.
Lalu dimulailah transaksi lewat dirrect message (DM) di akun tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, akun tersebut membalas. Namun untuk melanjutkan transaksi, obrolan beralih via pesan WhatsApp (WA).
Setelah nomor WA dikirim, segera transaksi dimulai. Pesan yang dikirim disertai alasan mengapa menggunakan jasa pacar sewaan. Lalu dibalas bisa menyediakan, disertai jadwal kencan.
Sesuai jadwal, Radar Solo ini akhirnya bisa bertemu dengan admin jasa pacar sewaan tersebut.
Lokasinya di sebuah coffe shop di Kecamatan Laweyan. Sosoknya seorang pria. Mengaku bernama Temon (nama samaran).
Setelah mengobrol beberapa saat sebagai awalan, Temon menanyakan kriteria wanita seperti apa yang diingikan pemesan.
“Soal tarif rata-rata sama. Per tiga jam Rp 2 juta. Tapi kalau mau jadi pacar seharian lebih murah. Tarifnya Rp 10 juta per hari. Syaratnya nanti mengumpulkan KTP sebagai jaminan,” kata Temon kepada Jawa Pos Radar Solo.
Selain offline, jasa ini juga melayani pacar virtual alias online. Nantinya, komunikasi hanya dilakukan via WA.
“Kalau cuma WA juga bisa. Per jam Rp 25 ribu. Terus kalau tambah layanan video call, per jam Rp 50 ribu,” imbuh Temon.
Demi meyakinkan Radar Solo ini, Temon sempat menghubungi salah satu tallent-nya. Di balik layar handphone, muncul sesosok wanita cantik dengan rambut warna hitam sebahu.
Dia terlihat duduk di sebuah restoran. Temon mengaku, sehari-hari sosok wanita tersebut berkerja sebagai SPG di dealer mobil.
Temon juga mengaku punya 10 tallent dengan berbagai latar belakang. Ada yang berprofesi sebagai foto model, SPG, hingga taller bank. Mayoritas masih berstatus mahasiswa.
“Ya rata-rata masih anak kampus. Buat tambah-tambah uang jajan mereka,” bebernya.
Tak lama, Temon menanyakan keperluan mencari pacar sewaan. Radar Solo ini mengaku akan diajak mudik ke Sragen saat Lebaran, untuk dikenalkan ke keluarga besarnya. Mendengar jawaban tersebut, Temon spontan tertawa.
“Banyak sekali yang mengajak ke acara keluarga seperti kondangan, atau acara ulang tahun teman. Ada juga yang sekadar jalan-jalan, nonton film, karoke, banyak pokoknya,” ungkap Temon.
Di sisi lain, ada juga akun medos lain yang menyediakan jasa serupa. Kali ini nama akunnya @Salsa**.
Beda dengan Temon yang sistemnya agensi, akun ini menjalankan bisnisnya secara mandiri. Singkat cerita, bertemulah Radar Solo ini dengan pemilik akun @Salsa** di salah satu cafe di Kecamatan Banjarsari.
Mengenakan dress warna coklat berbahan bludru dan berkaca mata, wanita ini mengaku bernama Sipon.
Rambutnya dicat pirang dengan panjang sepunggung. Sudah setahun ini sengaja membuka jasa pacar sewaan.
“Awalnya ikut agensi. Tapi karena potongannya besar, akhirnya jalan sendiri. Lebih enak. Kalau mau ya berangkat, kalau nggak cocok ya tinggal di-skip saja,” kelakar wanita 24 tahun ini.
Ditanya latar belakang pekerjaan, Sipon mengaku sebagai foto model freelance. Dia membuka jasa pacar sewaan, sekadar mengisi waktu luang.
“Sekalian lebih mengenal tipe-tipe cowok itu seperti apa saja?” bebernya.
Soal tarif offline, Sipon mematok Rp 1 juta per jam. Sedangkan untuk tarif offline via video call, hanya Rp 250 ribu per jam. “Kalau ketemu langsung kan harus dandan dulu. Pakai modal,” urainya.
Sementara itu menjadi pacar sewaan, menurut Salsa tidak sekadar modal cantik. Namun harus diimbangi wawasan yang luas. Supaya tidak canggung ketika diajak ngobrol pelanggan.
“Tidak boleh baper (bawa perasaan) juga. Tapi yang sudah-sudah, yang nyewa sering baperan. Ada juga yang mengajak nikah. Yo aku emoh (ya saya tidak mau),” candanya.
Ditanya apakah pernah berlanjut ke hubungan ranjang kliennya, Sipon geleng kepala. Meskipun pernah ada tawaran mengajak kencan di hotel atau ke rumah kliennya.
“Ya takut. Harus pintar-pintar menolak ajakan itu,” ujarnya. (atn/fer)
Editor : Damianus Bram