Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Bertanam Bonsai Santigi, Si Kulit Kering bak Pohon Tua

Damianus Bram • Sabtu, 20 April 2024 | 01:10 WIB
EKSOTIS: Ariel Hidayat (kiri) bersama sang anak, Muhammad Bayu Abisatya dengan koleksi bonsai santigi.
EKSOTIS: Ariel Hidayat (kiri) bersama sang anak, Muhammad Bayu Abisatya dengan koleksi bonsai santigi.

RADARSOLO.COM - Bonsai santigi dikenal dengan corak batangnya yang menyerupai kulit pohon berusia puluhan tahun. Kering dan penuh guratan. 

Namun, kolektor harus merogoh kocek agak dalam untuk memiliki Bonsai Santigi ini.

Bonsai santigi tumbuh di pesisir pantai. Akar-akarnya terikat pada karang-karang di pantai. Membuat bonsai santigi ”kekurangan” gizi.

Hal itu juga yang membuat bonsai santigi punya karakteristik batang seperti pohon berusia puluhan tahun.

”Karena gizinya sedikit, dia berhemat dengan memiliki karakter kulit seperti itu,” ucap Arief Hidayat, kolektor bonsai asal Surabaya, dilansir dari Jawa Pos.

Tanaman pesisir itu biasanya dimiliki kolektor, lengkap dengan karang yang terikat akar.

Karang tersebut juga yang membuat bonsai santigi makin estetik. Harganya turut meroket jika karang itu punya ukuran besar.

”Jangan pernah dipisahkan. Karangnya itu yang membuat santigi bisa stabil dan bertumbuh,” tutur Arief.

Sebagai pencinta bonsai, tak sekali dua kali Arief menjajal reproduksi bonsai santigi. Ada yang gagal, ada yang berhasil. ”Kadang kita nih suka di-prank sama santigi,” ucapnya.

Sebab, bonsai santigi bisa tumbuh tanpa akar hingga dua bulan dan hanya tumbuh dengan konsumsi kambium di lapisan batangnya. Lalu tiba-tiba mati.

Setelah diperhatikan, bonsai santigi yang bergantung pada kambium akan jarang memunculkan cabang baru.

Tanaman hanya bertambah panjang dan memunculkan beberapa helai daun. Batang-batang baru akan tumbuh di ketiak daun jika akar sudah tumbuh dan menguat.

”Ini setelah eksperimen beberapa kali. Ketahuan tanda-tandanya sebelum drop,” imbuhnya.

Arief mengatakan, perawatan bonsai santigi memang gampang-gampang susah. Kebutuhan panas dan air wajib dipenuhi.

Bonsai santigi sebaiknya diletakkan di taman terbuka agar terkena matahari sepanjang hari.

”Penyiraman juga wajib dua kali sehari. Mau itu hujan atau tidak,” jelasnya.

Air hujan saat ini dinilai lebih banyak membawa asam bagi bonsai santigi. Polusi udara jadi salah satu penyebab tingginya asam dalam air hujan. Dampaknya, daun-daun bisa menguning jika kondisi medium terlalu asam.

”Makanya, kalau sore hujan, malam tetap saya siram lagi. Ini dilakukan supaya air hujannya malah terbuang dan nggak banyak terserap,” tuturnya.

Dia juga punya trik untuk menjaga kecantikan bonsai santigi. Satu sendok makan garam gosok rutin ditaburkan ke medium bonsai setiap tiga bulan. ”Ini menggantikan asinnya air laut di tempat bonsai santigi tumbuh,” jelasnya.

Jika daun mulai menunjukkan warna kuning, garam gosok bisa diberikan lebih cepat. ”Biasanya seminggu setelahnya, warna daun sudah hijau lagi,” ucap anak bungsu dari tujuh bersaudara itu.

Arief dan Muhammad Bayu Abisatya, putranya, kini sudah merawat sekira 30 pot bonsai santigi berbagai jenis dan ukuran.

”Bonsai kami yang paling besar ditanam di depan rumah. Harganya Rp 40 juta,” ucap Bayu.

Tinggi tanaman tersebut bahkan hampir menyentuh 2 meter. Tanaman itu sudah dirawat selama dua tahun terakhir. (dya/c7/ai/adi)

Editor : Damianus Bram
#tanaman #Menanam Bonsai #Bonsai Santigi