Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kucing Terlantar Dan Cacat Bisa Jadi Peliharaan Menarik, Dirawat Sampai Jadi Peliharaan Yang Jinak

Damianus Bram • Minggu, 7 Juli 2024 | 20:34 WIB
Lusi Qoriah bersama kucing peliharaannya yang dia beri nama Cantik.
Lusi Qoriah bersama kucing peliharaannya yang dia beri nama Cantik.

RADARSOLO.COM - Hewan peliharaan bisa didapat dari berbagai hal. Mulai dari membelinya, diberi dari seseorang, atau memungut hewan liar yang tak ada yang punya.

Untuk hewan liar yang kerap menjadi peliharaan adalah kucing.

Bagi sebagian orang memelihara kucing ras tertentu lebih menarik ketimbang memelihara kucing domestik, namun hal ini tidak berarti bagi Lusi Qoriah, 56.

Perempuan asal Solo ini lebih gemar memelihara kucing terlantar terlepas dari jenis ras yang lebih diminati para pecinta kucing umumnya.

Ditemui di salah satu resto di kawasan Mojosongo, Jebres belum lama ini, perempuan yang gemar bercengkrama dengan kucing itu mengaku senang dengan kucing terlepas dari apa jenis dan ras kucing tersebut.

Ketimbang bicara soal ras, Lusi lebih senang mengisahkan pertemuannya dengan kucing-kucingnya tersebut.

”Ini namanya Cantik, seperti namanya sekarang sudah jauh lebih cantik dari setahun lalu saat pertama kali saya bertemu dengan dia,” katanya sembari memeluk kucing peliharaannya.

Cantik adalah kucing difabel yang hanya memiliki tiga kaki. Satu kakinya diamputasi karena patah dan terlanjur menjadi cacat.

Si kucing tiga kaki itu kini sudah tumbuh dengan sehat pasca dipungut dari tepi jalan setahun lalu.

“Kira-kira setahun lalu itu ada kenalan saya menginfokan melihat kucing ini di tepi jalan kawasan Fajar Indah. Saat itu kondisinya kaki patah dan perutnya ada benjolan besar berisi nanah,” bebernya.

Setelah dipungut dari pinggir jalan itu, Lusi merawat si kucing dengan ras campuran itu selama 6 bulan.

Dia kemudian menamai si kucing tersebut dengan sapaan Cantik. Harapannya kucing betina pesakitan itu bisa kembali sehat dan tumbuh menjadi kucing yang cantik seperti nama yang diberikan itu.

“Enam bulan pertama saya rawat sendiri, setelah itu saya serahkan ke Difabel Meong. Ini agar dapat perawatan yang lebih baik karena kondisinya patah tulang dan bagian dalam perut itu. Akhirnya setelah dirawat hampir setahun sekarang kondisinya sudah baik dan sehat,” terangnya.

Lusi sudah melakoni kegiatan menyelamatkan kucing terlantar itu sejak 2002 lalu. Dia pun tak hafal berapa banyak kucing yang sudah ia rawat sejak saat itu.

Kucing-kucing dari jalan itu ada yang dirawat sampai mati di usia tua dan sebagian ada yang diadopsi oleh orang lain.

Bagi pecinta kucing seperti dirinya, kucing ras atau kucing domestik bukan menjadi sebuah persoalan yang membatasi kecintaannya pada kucing.

“Kalau sudah suka, mau kucing ras atau kucing kampung tidak jadi soal. Yang penting kita merawat kucing terlantar itu jadi lebih sehat,” hemat Lusi. (ves/nik)

Editor : Damianus Bram
#hewan liar #kucing #hewan peliharaan #Lusi Qoriah