RADARSOLO.COM - Selebgram Resti Indah baru-baru ini membagikan cerita mengerikan tentang pengalamannya sebagai korban teror di kampusnya.
Diketahui, Resti diterima di Universitas Brawijaya (UB) pada program studi impiannya, yang sudah ia cita-citakan sejak SMP.
Ia sangat bahagia saat dinyatakan lolos, mengingat ia selalu berusaha menjadi siswa berprestasi dengan meraih peringkat 1 di sekolahnya.
Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi mimpi buruk setelah ia pindah ke Kota Malang.
Resti mulai mendapatkan banyak teror dan ancaman dari orang tak dikenal. Kondisinya semakin menakutkan karena ia tinggal sendirian di kota tersebut.
Klarifikasi mengejutkan ini diungkapkan oleh Resti Indah melalui akun TikTok @_restiindahhh, menjawab berbagai rumor yang beredar tentang dirinya.
"Beberapa hari kemudian aku dapat teror. Aku dibuntuti tiga orang, mereka ngajak aku check in," tulisnya.
Tidak hanya itu, Resti juga menceritakan bahwa ia sering menerima pesan singkat bernada ancaman melalui Direct Message (DM) di Instagram pribadinya. Pesan-pesan ini semakin membuatnya ketakutan.
"Mereka bilang kalau sudah tahu jalan pulangku, tahu kost-ku. Salah satu dari mereka juga DM, kalau aku di Malang, jangan harap bisa tenang," lanjutnya.
Ancaman-ancaman ini menjadi hambatan besar bagi Resti untuk melanjutkan studinya di Malang.
Apalagi, ia harus tinggal jauh dari kampus agar lokasi tempat tinggalnya tidak mudah diketahui orang lain.
Langkah ini diambil sebagai antisipasi dari kedua orang tuanya yang khawatir, mengingat Resti memiliki paras cantik dan popularitas sebagai selebgram.
Namun, tindakan antisipasi itu tampaknya tidak cukup untuk menghentikan orang-orang yang berniat jahat.
Bahkan, Resti sempat mengungkapkan bahwa beberapa orang sempat mengikutinya saat pulang dari kampus.
Setelah mengunggah curhatan di TikTok, banyak penggemarnya turut memberikan dukungan di kolom komentar.
"Beauty is pain nyata banget," tulis salah satu pengguna @rikadumpiess.
"Ternyata jadi cantik itu juga nggak enak," komentar @creamyylattevv.
Kini, Resti Indah memutuskan untuk berhenti dari Universitas Brawijaya dan kembali ke Jombang untuk tinggal bersama keluarganya. (nda)
Editor : Nindia Aprilia