RADARSOLO.COM-Pernikahan adat Jawa identik dengan banyaknya uba rampe atau segala keperluan pelengkap upacara.
Salah satunya adanya kembar mayang. Uba rampe yang digunakan pada pernikahan adat Jawa sebagai lambang untuk menghantarkan kedua mempelai ke kehidupan baru setelah pernikahan.
Kembar mayang berasal dari dua kata, yakni kembar dan mayang.
Kembar berarti padha, dalam bahasa Indonesia berarti sama dan mayang yang berarti kembang, dalam bahasa Indonesia berarti bunga.
Seperti namanya, kembar mayang dibuat dua buah dan memiliki bentuk yang sama persis.
Sedangkan menurut Gondowarsito (1965) kembar mayang merupakan rangkaian bunga dari daun kelapa yang masih muda dengan beberapa jenis dedaunan dan bunga mayang atau bunga pudak (pandan).
Kembar mayang tersebut berjumlah dua yang sama bentuk dan isinya dan memiliki makna sebagai pohon kehidupan yang dapat memberikan segala hal yang diinginkan.
Selain bentuknya yang indah dan sering dianggap sebagai hiasan pada upacara pernikahan adat Jawa.
Kembar mayang memiliki makna filosofis tersendiri.
Mulai dari bentuknya hingga susunannya. Pada umumnya kembar mayang dibuat dengan beralaskan debog (batang pohon pisang).
Kemudian dibalut dengan janur (daun kelapa yang masih muda) yang dianyam menyerupai bentuk kelopak bunga.
Kemudian di atas kelopak bunga tersebut ditancapkan daun-daunan. Seperti daun beringin, daun andong, daun girang dan hiasan lainnya.
Pada puncak mahkota bunga dibuat hiasan menyerupai bentuk burung yang terbuat dari anyaman janur.
Mengutip dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sri Widyanti tentang makna filosofis kembar mayang, kembar mayang juga dapat dilihat pada ukiran Candi Prambanan yang dinamakan Kalpataru atau pohon kaswargan (surga).
Hal tersebut sesuai dengan cerita mitologi yang dikenal oleh masyarakat Jawa.
Yang mana kembar mayang merupakan penggambaran dari pohon abadi di surga yang dinamai Dewandaru dan Wijayandaru sebagai lambang dari cinta abadi.
Bentuk asli kembar mayang mengacu pada Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo.
Jika dibandingkan dengan kembar mayang saat ini memiliki perbedaan unsur dan bentuknya.
Kembar mayang asli memiliki bentuk yang lebih sederhana daripada kembar mayang yang ada saat ini.
Apabila mengacu pada kembar mayang asli Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo, maka unsur pada kembar mayang akan tersususun dari:
1. Daun beringin, dalam pernikahan jawa megandung makna agar kedua mempelai dapat menjadi pelindung bagi keluarga dan sanak suadara.
2. Janur atau daun kelapa yang masih muda berasal dari kata janma (manusia) dan nur (cahaya) merupakan lambang kebahagiaan yang terpancar pada pernikahan kedua mempelai.
3. Kembang pudak atau sejenis daun pandan yang berwarna putih dan berbau harum sebagai lambang kesucian dari kedua mempelai.
4. Kembang Patra Menggala atau bunga merak yang berwarna merah sebagai lambang keberanian dan kelembutan hati, maksudnya agar kedua mempelai memiliki keberanian dalam mengahadapi tantangan rumah tangganya dan dapat menyelesaikan masalah dengan kelembutan hati.
Namun, pada zaman sekarang, kembar mayang sudah dimodifikasi.
Mulai dari unsur hingga bentuknya sesuai dengan permintaan dari orang tua mempelai, dan tidak lagi berpatokan pada bentuk aslinya.
Biasanya kembar mayang akan dibentuk dengan berbagai variasi dan ditambahkan dengan hiasan berupa buah-buahan, bunga atau hiasan lainnya.
Selain itu, biasanya hanya menggunakan beberapa unsur dari kembar mayang yang aslinya atau keluar dari pedoman ketentuannya. (mg2/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono