Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

BUDAYA JAWA: Apa Itu Gugon Tuhon yang Eksis di Kalangan Masyarakat?

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 21 Januari 2025 | 00:05 WIB
Ilustrasi remaja yang tidak suka dengan suatu hal.
Ilustrasi remaja yang tidak suka dengan suatu hal.

RADARSOLO.COM- Pernah mendengar istilah gugon tuhon?

Gugon tuhon merupakan tradisi lisan yang lahir dan berkembang di tengah masyarakat jawa.

Gugon tuhon dapat diartikan sebagai suatu larangan atau pantangan yang apabila dilanggar akan mendapat konsekuensi.

Meskipun konsekuensi dari melanggar pantangan gugon tuhon tersebut kurag logis jika dinalar.

Meskipun begitu, sebagian masyarakat Jawa masih menganut dan memercayai gugon tuhon. Berikut gugon tuhon yang masih eksis di masyarakat jawa:

1. Aja Wani Karo Wong Tuwa, Mundhak Dadi Jambu Mete

Artinya, jangan berani kepada orang tua, nanti akan berubah menjadi jambu monyet.

Makna sebenarnya dari ungkapan tersebut yaitu sebagai anak berbaktilah kepada kedua orang tua.

Jangan sekali-kali berani membantah perkataan orang tua, berani melawan. Jadilah anak yang memiliki adab dan sopan santun.

Mundhak dadi jambu mete dimaksudkan untuk menakut-nakuti.

Kalau anak durhaka kepada kedua orang tua akan menjadi seperti jambu monyet, kepala di bawah, kaki di atas.

2. Yen Nyapu Sing Resik, Mundhak Bojone Brewoken

Baca Juga: BUDAYA JAWA: Legenda di Balik Terciptanya Telaga Madirda di Ngargoyoso Karanganyar

Yaitu apabila menyapu harus sampai bersih. Jangan menyisakan kotoran walau sedikit, kalau tidak mau punya jodoh brewokan.

Dari gugon tuhon ini diajarkan untuk cinta kebersihan.

Terutama bagi anak perempuan, apabila tidak bersih dalam menyapu ditakut-takuti akan memiliki suami brewokan.

3. Yen Mangan Dientekne, Mundhak pithike Mati

Arti dari ungkapan di atas yaitu jika makan harus dihabiskan tanpa sisa, jika tidak ayam yang dipelihara akan mati.

Maksud sebenarnya dari gugon tuhon ini ialah jangan menjadi orang yang membuang-buang makanan.

Jadilah orang yang menikmati makanan dengan rasa syukur.

Sebab di luar sana masih ada orang-orang yang susah payah untuk mendapatkan sesuap nasi.

4. Cah Wadon Tangine Aja Kedhisikan Pithik, Mundhak Ora Payu-payu

Anak perempuan tidak boleh bangun tidur didahului ayam, nanti tidak akan laku (sulit mendapat jodoh).

Tetapi makna sebenarnya adalah sebagai anak perempuan janganlah menjadi pribadi yang malas. Termasuk dalam hal bangun tidur.

Mengingat anak perempuan kelak akan menjadi calon ibu yang pastinya mengurus pekerjaan rumah tangga.

Jika sedari kecil dibiasakan bangun lebih awal, kelak ketika dewasa mampu untuk mengerjakan pekerjaan rumah lebih awal.

Baca Juga: BUDAYA JAWA: Ditarikan 9 Perempuan dan Harus Suci, Ini Makna Bedhaya Ketawang yang Disakralkan di Keraton Solo

5. Wong Meteng Aja Ngombe es, Mundhak Bayine Gedhe

Artinya, ibu hamil jangan meminum es, nanti ukuran bayi di dalam janin besar (melebihi ukuran normal).

Namun makna sebenarnya dari ungkapan tersebut ialah ibu hamil harus menjaga dan memilah makanan yang dikonsumsinya.

Karena gizi makanan yang dikonsumsi akan tersalur ke janin.

Jadi jika mengonsumsi sembarang makanan ditakutkan akan berdampak buruk pada perkembangan janin.

Itu dia lima dari banyaknya gugon tuhon yang masih eksis di masyarakat Jawa.

Menjadi salah satu kearifan lokal. Karena sejatinya mencegah lebih baik daripada mengobati. (mg1/wa)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#jawa #Masyarakat #petuah #Pantangan #gugon tuhon