RADARSOLO.COM-Basa Slang atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan bahasa prokem adalah ragam bahasa tak baku yang lazim digunakan kalangan muda atau suatu kelompok tertentu.
Biasanya bahasa prokem ini diciptakan dan dipakai oleh anak muda untuk merahasiakan pembicaraannya dari orang lain, khususnya orang yang lebih tua.
Begitu pula basa slang yang digunakan oleh masyarakat Jawa di pedesaan.
Masyarakat pedesaan juga menggunakan basa slang pada kehidupan keseharian untuk menyebut istilah-istilah tertentu.
Misalnya untuk menyebut jumlah satuan uang, luas tanah, dan lain sebagainya.
Penggunaan basa slang oleh masyarakat Jawa bertujuan mempermudah pengucapan kalimatnya agar menjadi lebih ringkas.
Dalam menyebut satuan uang masyarakat Jawa cukup sering menggunakan basa slang seperti, segelo.
Istilah ini digunakan untuk penyebutan Rp1.
Sekethip untuk menyebutkan seratus rupiah Rp100.
Ada juga karo tengah ewu untuk menyebutkan uang senilai Rp 1.500.
Istilah segelo dan sekethip sudah jarang digunakan karena mata uang Rp1 sudah tidak lagi beredar dan mata uang Rp100 sudah jarang digunakan.
Biasanya masyarakat jawa masih menggunakan kedua istilah tersebut untuk menyampaikan maksud secara tersirat kepada lawan bicaranya.
Misalnya “Aku ora duwe duwit tenan, la mbok sekethip”.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Mengenal Pancakreti, Paradigma Tingkah Laku Orang Jawa
Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia berarti “Aku sungguh tidak punya uang, meskipun hanya Rp 100”.
Selain ketiga istilah tersebut, masih ada istilah yang lazim digunakan oleh masyarakat pedesaan, yaitu dit cilik dan dit gedhe.
Kata dit berasal dari kata duwit yang berarti uang, kata cilik berarti kecil dan kata gede berarti besar.
Kedua istilah ini masih sangat sering terdengar dan digunakan oleh masyarakat Jawa.
Istilah dit cilik digunakan untuk menyebutkan satuan mata uang mulai dari Rp 100 – Rp 20.000.
Sedangkan dit gede digunakan untuk menyebutkan satuan mata uang Rp 50 ribu-Rp 100 ribu.
Tidak hanya satuan jumlah uang, masyarakat Jawa juga memiliki basa slang untuk menyebut satuan lainnya.
Seperti selirang, setangkep, setundun, sedangan dan seberuk.
Istilah selirang untuk menyebutkan pisang yang jumlahnya satu sisir.
Setangkep untuk menyebutkan dua sisir pisang. Disebut setangkep karena dua sisir pisang tersebut jika dibalik dan saling dihadapkan maka akan bisa ditangkap dengan kedua telapak tangan seperti saat menangkap bola.
Sedangkan istilah sedangan dan seberuk digunakan untuk menyebutkan satuan jumlah beras.
Seberuk berarti 2,5 kg beras atau sekitar 3, 75 liter.
Adapun sedangan berarti 2 beruk atau 5 kg beras yang setara dengan 6 liter takaran.
Pada zaman dahulu orang-orang Jawa menggunakan istilah ubin untuk menyebutkan satuan luas tanah.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Makna Simbolik 7 Motif Jarik pada Upacara Adat Mitoni
Bahkan saat ini masih ada yang menggunakan istilah tersebut.
Istilah sakubin (satu ubin) digunakan untuk menyatakan luas keliling tanah 14 meter.
Setelah sakubin masih ada turunan satuan lainnya, yakni sakecrit (dibaca sak-kecrit) untuk menyatakan 30 ubin atau sama dengan 420 meter.
Kemudian sakidu (dibaca sak-idu) untuk menyatakan 60 ubin atau setara dengan 840 meter dan sakiring (dibaca sak-iring) untuk menyatakan 120 ubin atau setara dengan 1.680 meter. (mg2/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono