Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

BUDAYA JAWA: Becik Ketitik Ala Ketara, Purwakanthi Guru Swara Beserta Penjelasannya

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 22 Januari 2025 | 16:50 WIB
Ilustrasi orang sedang membaca. Dengan banyak membaca, pengetahuan akan bertambah.
Ilustrasi orang sedang membaca. Dengan banyak membaca, pengetahuan akan bertambah.

RADARSOLO.COM-Bahasa Jawa memiliki peran penting dalam kebudayaan Jawa.

Dalam Bahasa Jawa memiliki beragam “Unen-unen”, salah satunya yaitu purwakanthi.

Apa itu purwakanthi? Purwakanthi adalah rima dalam kalimat.

Rima yang dimaksud bisa perulangan vokal, perulangan di akhir kata, atau perulangan konsonan.

Purwakanthi terbagi menjadi tiga macam menurut Padmosoekotjo, antara lain:

Dari tiga macam purwakanthi di atas, artikel ini akan menjelaskan purwakanthi guru swara beserta contohnya.

Purwakanthi guru swara bercirikan mengalami pengulangan bunyi vokal yang sama di akhir kata (rima asonansi).

Contoh Purwakanthi Guru Swara

1. Becik Ketitik, Ala Ketara

Becik ketitik memiliki arti kebaikan akan ketahuan, sedangkan ala ketara berarti keburukan akan terlihat jelas.

Kalimat tersebut memiliki pengulangan bunyi vokal “i” dan “a” di akhir kata.

2. Inggah-inggih Ora Kepanggih

Berarti menyanggupi suatu hal tetapi tidak melaksanakannya. Kalimat di atas terdapat pengulangan bunyi vokal “I” di akhir kata.

3. Wong Bungah Sok Nemu Susah

Memiliki makna bahwa orang yang bahagia nanti juga akan mengalami kesedihan atau kesusahan.

Pengulangan bunyi vokal pada pada kalimat di atas yaitu “a”. Pada kata bungah dan kata susah.

4. Kudu Sregep Sinau, Sapa Sing Pengin Maju

Purwakanthi di atas bermakna harus rajin belajar bagi siapa yang tidak ingin tertinggal (dalam menuntut ilmu). Pengulangan bunyi vokal pada kalimat di atas yaitu “u”.

5. Aja Dumeh Menang, Banjur Tumindak Sawenang-wenang

Artinya, jangan mentang-mentang menang atau berkuasa lalu bertindak sesuka hati.

Kalimat tersebut memiliki pengulangaan bunyi vokal “ng” di akhir kalimat.

6. Bareng Wis Makmur, Lali Marang Sadulur

Bermakna bahwa ketika hidup sudah makmur atau sukses, lupa terhadap saudara/sanak saudara.
Pengulangan bunyi vokal dalam kalimat di atas yaitu “u”, pada kata makmur dan kata sedulur.

7. Ulat Madhep, Ati Mantep

Bermakna jika pandangan (tujuan) sudah fokus, hati pun yakin. Purwakanthi tersebut memiliki pengulangan bunyi vokal “e”.

Baca Juga: BUDAYA JAWA: Basa Kasar, dari Ekspresi Emosional hingga Sapaan Keakraban

8. Ireng-ireng Ketok Untune, Bareng Seneng Ketok Guyune

Purwakanthi di atas memiliki pengulangan bunyi vokal “ng” dan “e”, pada kata ireng dan seneng, lalu pada kata untune dan kata guyune.

9. Ijo-ijo Godhonge Kara, Bareng Bodho lagi Rumangsa

Pengulangan bunyi vokal di akhir kata pada kalimat tersebut ialah “a”. Pada kata kara dan kata rumangsa.

Itulah Sembilan contoh beserta penjelasan singkat terkait purwakanthi guru swara.
(mg1/wa)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#budaya jawa #purwakanthi #unen unen #guru swara