RADARSOLO.COM-Dewi Sri di masyarakat Jawa dipercayai sebagai lambang kemakmuran.
Dihubungkan erat dengan mitos tentang asal usul tanaman padi.
Dianggap sebagai dewi sumber rejeki, sumber sandang pangan, dan dewi para petani.
Menurut kisahnya Dewi Sri dikenal sebagai istri dari Dewa Wisnu yang dipercaya sebagai dewa pelindung dalam Trimurti agama Hindu.
Diceritakan Dewi Sri lahir dari sebuah telur dan diangkat menjadi anak oleh Batara Guru dan tinggal di khayangan.
Namun Dewi Sri harus dikorbankan dan dikuburkan di bumi demi keselarasan langit.
Dari jasad Dewi Sri inilah tumbuh berbagai macam tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan makhluk yang ada di bumi.
Diketahui, kata Sri diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya kesuburan, kekayaan, keberuntungan, kesehatan, keindahan, personifikasi (Liebert, 1976).
Sri dalam bahasa Sanskerta dipakai juga sebagai awalan dalam menyebut nama orang terhormat. Misal Sri Baginda, Sri Rama.
Masyarakat Jawa dalam mengolah lahan pertanian juga melakukan upacara ritual sebagai wujud penghormatan kepada Dewi Sri.
Itu agar tidak dijauhkan dari sandang pangan.
Ritual upacara ini setiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda. Namun pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Becik Ketitik Ala Ketara, Purwakanthi Guru Swara Beserta Penjelasannya
Masyarakat Jawa memanifestasikan mitos Dewi Sri dengan ritual dalam bersih desa.
Representasi atau aktualisasi Dewi Sri dihadirkan dalam seni pertunjukan yang menyertai tradisi bersih desa dalam masyarakat Jawa, yaitu pertunjukan wayang purwa di daerah Jawa Tengah.
Pertunjukan tayub di daerah Jawa Timur, langger di Banyumas, dan rokat di Madura.
Mitos Dewi Sri ini juga tertulis dalam serat Babad Ila-ila serta dalam serat pedhalangan ringgit purwa karya K.G.P.A.A. Mangkunegara VII.
Terdapat tiga lakon yaitu Sri Mahapunggung (Sri Sadana), Lampahan Bathari Sri Mantuk (Sri Mulih), dan Murwakala.
Dari ketiga lakon tersebut, di daerah Solo dan sekitarnya masih mempagelarkan dengan seni wayang purwa berlakon Sri Mulih atau Sri Boyong.
Mitos pertanian dalam lakon Sri Mulih menceritakan suatu negara yang sedang dilanda malapetaka, rakyat menderita, dan susah sandang pangan.
Dewa bersabda kepada para raja yang wilayahnya sedang tertimpa bencana bahwa mereka dapat terhindar dari bahaya jika dapat membawa Dewi Sri pulang kembali kenegaranya. (mg3/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono