RADARSOLO.COM–Waktu panen sangat ditunggu para petani.
Hasil jerih payah selama berbulan-bulan, terbayar saat panen dengan hasil yang memuaskan.
Sebab itu, sebagai wujud syukur, ada tradisi Wiwitan atau Methik Pari.
Wiwitan berasal dari kata dasar Bahasa Jawa ‘awit’ yang berarti mulai dan mendapat akhiran -an sehingga memiliki arti memulai.
Sedangkan Methik Pari berasal dari dua kata yakni, ‘methik’ berarti memetik dan ‘pari’ yang berarti padi.
Kedua istilah tersebut memiliki maksud yang sama, yakni upacara adat yang dilakukan sebelum memulai masa panen padi.
Hanya saja penyebutan di setiap daerah yang berbeda.
Tradisi methik pari dilakukan dengan urutan prosesi dan uba rampe yang harus dipenuhi.
Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan karena telah diberikan panen yang melimpah.
Oleh karenanya, uba rampe tradisi methik pari sebagian besar berupa hidangan makanan.
Sebagai persembahan untuk Dewi Sri yang merupakan dewi pemberi kemakmuran.
Uba rampe upacara methik pari berupa ingkung (ayam panggang), tumpeng dengan lauk pauk lengkap.
Ada pula jajan pasar, telur ayam, buga setaman, bunga telon (terdiri dari3 jenis bunga), pisang, dupa, kinang, dan janur.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Kisah Dewi Sri, Lambang Kemakmuran yang Disebut Lahir dari Sebuah Telur
Namun di era modern seperti saat ini uba rampe untuk upacara adat methik pari sudah termodifikasi.
Itu karena masyarakat kesulitan untuk memenuhi uba rampe tersebut.
Uba rampe methik pari yang masih lazim digunakan saat ini seperti nasi tumpeng, ingkung, bunga setaman atau bunga telon (salah satunya), jajan pasar, telur rebus, pisang, dupa, ada juga yang menggunakan kupat.
Apabila uba rampe upacara methik pari tidak terpenuhi, biasanya masyarakat akan menambahkan ‘yatra’ yang berarti uang sebagai jangkep (pelengkap).
Uang yang dijadikan uba rampe bervariasi mulai dari uang oin hingga pecahan Rp 2.000.
Maksudnya adalah pemberian ‘yatra’ tidak haruslah banyak asalkan diberikan dengan niat yang ikhlas.
Prosesi methik pari diawali dengan membawa uba rampe ke sawah menggunakan tampah (sejenis baki yang berbentuk bulat dari anyaman bambu) biasanya diikuti oleh anak-anak.
Setibanya di sawah, pemangku adat akan menyalakan dupa sebagai tanda mulai berdoa untuk diberikan kemudahan dan kelancaran serta menolak bala (bencana) untuk petani yang menggarap sawah dan hasil taninya.
Setelah pemangku adat mengucapkan doa, kemudian ubarampe yang dibawa diambil sebagian untuk diletakkan di sudut-sudut sawah.
Beralaskan daun pisang yang dipincuk di kedua ujungnya atau oleh masyarakat Jawa disebut dengan takir.
Diletakkannya uba rampe tersebut di setiap sudut sawah bertujuan menolak bala dari segala arah.
Belum selesai, setelah meletakkan ubarampe di setiap sudut sawah, masyarakat dan anak-anak yang mengikuti upacara methik pari akan melakukan kenduren atau makan bersama di area persawahan. (mg2/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono