Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

BUDAYA JAWA: Ternyata Ini Filosofis Cunduk Mentul yang Dipasang di Belakang Ubun-Ubun Pengantin Perempuan Jawa, Bukan Sekadar Hiasan

Tri wahyu Cahyono • Jumat, 24 Januari 2025 | 16:57 WIB
Pengantin mengenakan busana bergaya putri Solo basahan dengan cundul mentul di kepala.
Pengantin mengenakan busana bergaya putri Solo basahan dengan cundul mentul di kepala.

RADARSOLO.COM-Upacara pernikahan adat Jawa termasuk dalam adat istiadat yang harus dijaga. Dari sinilah cerminan jati diri bangsa.

Setiap prosesi dan atribut upacara pernikahan memiliki makna filosofis mendalam.

Salah satunya tentang tata rias pengantin.

Tata rias dalam pengantin mencakup tata rias wajah, tata rias rambut, tata rias busana, dan aksesoris perhiasan.

Istilah paes ageng sudah tidak asing di kalangan masyarakat Jawa.
Paes ageng yaitu riasan adat Jawa yang dikenakan oleh sepasang pengantin.

Pada umumnya paes ageng dibedakan menjadi dua jenis.

Yaitu paes gagrak Solo dan paes gagrak Yogyakarta.

Dalam riasan paes ageng mengandung nilai nilai yang sangat mendalam.

Salah satu hal yang menarik yaitu cunduk mentul atau sering disebut dengan kembang goyang.

Cunduk mentul adalah salah satu hiasan yang dikenakan di kepala pengantin perempuan. Umumnya berbentuk bunga.

Bunga melambangkan kesuburan, keindahan, serta matahari yang selalu menyinari.

Harapannya, pasangan pengantin dalam hidupnya bermanfaat bagi sesamanya.

Baca Juga: BUDAYA JAWA: Gunungan Wayang Kulit, Begini Penjabarannya yang Sarat Makna

Penggunaan cunduk mentul pada pengantin putri pernikahan adat Jawa memiliki makna agar nantinya kebahagiaan dan kebaikan selalu menyertai perjalanan hidup mereka.

Selain bentuk bunga, juga terdapat jenis cunduk mentul berbentuk alas-alasan atau hutan belantara.

Jenis ini biasa digunakan pada adat pengantin gaya Solo.

Motif alas-alasan melambangkan berbagai macam sifat manusia, yang sama halnya sifat penghuni hutan “hewan”.

Penghuni hutan tidak mungkin menyamai manusia, namun manusia mungkin saja bisa menyamai sifat binatang,

Filosofis dari cunduk motif alas-alasan ini adalah diperlukan sikap arif dan bijaksana untuk hidup dengan tenang, damai, dan bahagia.

Pada penggunaannya, cunduk mentul digunakan di belakang ubun-ubun.

Karena hati yang sejuk terletak di belakang ubun-ubun kepala.

Cunduk mentul selalu digunakan dalam jumlah ganjil. Melambangkan keesaan Tuhan.

Cunduk mentul dengan jumlah tiga buah melambangkan Trimurti. Tiga dewa tertinggi yang diyakini oleh masyarakat Jawa.

Cunduk mentul berjumlah lima buah melambangkan Rukun Islam.

Adapun cunduk mentul dengan jumlah tujuh buah melambangkan pertolongan.

Dan cunduk mentul Sembilan buah melambangkan Wali Songo.

Baca Juga: BUDAYA JAWA: Apa itu Basa Bagongan? Komunikasi Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Masyarakat Jawa memandang angka ganjil sebagai simbol kepasrahan.

Angka ganjil diartikan sebagai bentuk ketidaksempurnaan manusia, sehingga selalu menyertakan Tuhan di setiap langkahnya.

Dengan demikian, penggunaan cunduk mentul yang berjumlah ganjil dalam riasan adat Jawa mengandung harapan dan doa agar Tuhan menyempurnakan dan memberi kebahagiaan kepada kehidupan pasangan pengantin. (mg3/wa)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#budaya jawa #pengantin #cunduk mentul #Filosofis #adat jawa