RADARSOLO.COM-Batik menjadi salah satu dari kekayaan budaya Indonesia yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang kita.
Batik juga merupakan salah satu seni lukis yang bernilai tinggi karena pembuatannya yang dilakukan di atas kain.
Kata Batik sendiri berasal dari Bahasa Jawa, yaitu dari kata “amba” dan “tik” yang berarti menggambar dan titik atau kecil (supriono, Primus, 2016).
Setiap penciptaan pada motif batik selalu mempunyai makna simbolis yang berlandaskan kepada falsafah Jawa.
Seperti tentang kedudukan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Penggunaan motif batik untuk seseorang juga tidak sembarangan.
Ada motif batik yang hanya bisa digunakan untuk kalangan tertentu.
Itu berkaca pada makna yang terkandung di dalam motifnya.
Dalam perkembangannya, motif, pola dan tipe batik menjadi semakin beragam dan bervariasi.
Indonesia memiliki bermacam motif batik sejak dahulu.
Namun dalam artikel ini akan mejelaskan sedikit tentang motif parang.
Batik motif parang merupakan batik yang hanya boleh digunakan di lingkungan kerajaan.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Misteri Patung Loro Blonyo yang Disebut Sudah Ada Sejak Era Mataram Islam
Motif parang menyiratkan sebuah kekuatan dan pertumbuhan, dan digunakan oleh raja (Elliot, 68:2004).
Maka dari itu, batik parang disebut juga batik larangan karena tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa.
Berasal dari bahasa Jawa, kata parang atau pereng digambarkan menyerupai ombak di laut.
Berupa garis lengkung-lengkung. Lengkungannya layaknya susunan motif yang membentuk huruf S, saling berkaitan dari pola satu dengan pola lainnya.
Hal tersebut sebagai simbol sebuah kesinambungan.
Bentuk “S” sendiri melambangkan kekuasaan, kekuatan dan semangat yang tidak pernah padam (Azizah, 2016; Supriono, Primus,2016).
Bentuk motif batik parang yang saling berkesinambungan menjadi gambaran jalinan hidup yang tidak pernah putus.
Selalu konsisten dalam upaya manusia untuk memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, ataupun dalam hubungan manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya
Adapula garis diagonal yang terdapat pada motif batik satu ini.
Menjadi gambaran bahwasannya setiap manusia harus memiliki cita-cita yang luhur, kokoh dalam pendirian, serta setia pada nilai kebenaran (Insati, Imama Lavi ,2016).
Batik motif parang memiliki beragam jenis motif.
Antara lain motif parang rusak, parang pamor, parang barong, parang klitik, parang kusumo, parang curigo, parang tuding, parang centung, dan lain sebagainya.
Di zaman sekarang batik parang telah menyebar ke masyarakat luas dan mengalami pergeseran fungsi.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Penjelasan Pranata Mangsa Tani, Pedoman Menanam Padi sesuai Tanda-Tanda Alam
Kini motif batik parang mulai digunakan oleh masyarakat luas untuk berbagai kepentingan. Seperti busana di acara resmi.
Namun batik parang tetap menjadi motif batik yang sakral di lingkungan keraton hingga sekarang.
Masyarakat biasa tidak diperbolehkan masuk ke keraton (Keraton Solo dan Yogyakarta) jika menggunakan busana bermotif parang.
Sebab motif barang hanya diperbolehkan untuk keturunan raja. (mg1/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono