RADARSOLO.COM-Tidak hanya mantra sebagai tradisi lisan, dalam budaya Jawa juga mengenal istilah magi.
Magi dalam bahasa Inggris disebut magic yang merupakan bagian dari mantra.
Magi diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib dan dapat menguasai alam sekitar.
Termasuk alam pikiran dan tingkah laku manusia.
Dalam bukunya yang berjudul Manusia dan Kebudayaan, Ernst Cassirer menyebutkan, magi terdapat suatu keyakinan bahwa peristiwa alam tidak digerakkan oleh kehendak atau pikiran suatu makhluk pribadi.
Tetapi oleh suatu hukum kekal yang bekerja secara mekanis.
Walaupun sering dikaitkan bahwa magi adalah bagian dari religi budaya Jawa, ternyata keduanya sama sekali tak sama.
Jika religi berkaitan dengan segala sesuatu di luar kesanggupan manusia dan lebih mirip dengan pemujaan, maka magi tidak demikian.
Magi lebih berada dalam kesadaran akal manusia dan cenderung menguasai sesuatu melalui beberapa kepandaian.
Kemudian jika dalam religi manusia ingin mengabdi, sedangkan dalam magi manusia ingin menguasai proses-proses yang berlangsung di alam raya.
Dalam budaya Jawa dikenal setiap orang memiliki sedulur papat, yang merupakan refleksi dari empat nafsu manusia.
Baca Juga: BUDAYA JAWA : Filosofis Blencong yang Selalu Digunakan dalam Pagelaran Wayang Kulit
Yakni aluamah (hitam) yang berorientasi pada sikap atau sifat serakah.
Amarah (merah) yang berorientasi pada tempramen yang tinggi.
Supiyah (kuning) yang berorientasi pada pola hedonism.
Dan mutmainah (putih) yang berorientasi pada religiusitas.
Keempatnya selain diinterpretasikan pada lakon wayang, ternyata sedulur papat ini juga diinterpretasikan dalam magi mantra.
Yaitu mantra bermagi hitam yang dijiwai nilai-nilai kejahatan.
Target dari magi hitam tidak hanya dicelakai. Tetapi juga bisa sampai dihabisi nyawanya dan hartanya.
Contoh dari magi ini adalah Bantal Nyawa, Sebul dan sebagainya.
Kemudian mantra bermagi merah yang penggunaanya tidak dilandasi dengan hati Nurani.
Tetapi karena dorongan hawa nafsu agar target tersiksa batin dan fisiknya.
Mantra ini dapat berdampak pada kehidupan sosial target (seperti dipermalukan di depan umum).
Contoh dari mantra ini adalah Jaran Goyang, Gombal Kobong, Polong Dara, dan lainnya.
Selanjutnya adalah mantra bermagi kuning dan putih.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Beragam Istilah yang Sangat Langka Terdengar, Ada Sekethip hingga Sakidu
Mantra bermagi kuning adalah mantra yang penggunaanya didasari dengan ketulusan hati dan maksud baik.
Penggunaan mantra ini tidak hanya agar disenangi dan dicintai oleh sesama manusia.
Tetapi juga binatang tertentu agar tidak diganggu.
Contoh dari mantra bermagi kuning seperti Sabuk Mangir dam Semar Mesem.
Sedangkan mantra putih adalah yang dijiwai oleh nilai-nilai kebaikan.
Digunakan untuk menetralkan praktik magi lainnya , baik untuk penyembuhan atau penolak bala. (mg2/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono