RADARSOLO.COM-Tren thrift dan sustainable fashion kini berkembang pesat di kalangan anak muda Solo, khususnya mereka yang lekat dengan identitas anak skena.
Bukan sekadar mencari pakaian murah, thrifting kini dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sadar lingkungan dan ekspresi personal.
Nur Anisa, mahasiswa ISI Surakarta, melihat tren thrift sebagai salah satu bentuk nyata dari fashion berkelanjutan.
Menurutnya, membeli pakaian bekas adalah cara efektif untuk mengurangi konsumsi fashion cepat (fast fashion) yang berdampak besar terhadap lingkungan.
“Selain itu, pakaian thrift biasanya punya model yang unik dan one of a kind, jadi kita bisa lebih bebas berekspresi dan menciptakan gaya yang khas tanpa harus selalu mengikuti tren fast fashion,” ujar Nisa kepada radarsolo.com.
Namun di balik manfaatnya, Nisa juga menyoroti sisi lain dari tren thrift yang mulai menjadi perhatian.
“Salah satunya adalah dampaknya terhadap industri tekstil lokal. Thrifting yang kebanyakan barang impor secondhand bisa merugikan produk-produk lokal, karena banyak orang lebih memilih barang bekas impor daripada mendukung brand dalam negeri,” jelasnya.
Gaya Streetwear dan Konsumsi Bijak
Muhammad Ramdhani, 24, yang kerap tampil dengan gaya streetwear, juga mengikuti perkembangan tren thrift di Solo.
Ia menyebut bahwa pola konsumsi anak muda terhadap pakaian bekas kini mulai bergeser.
“Dulu, orang memilih thrift karena jauh lebih ekonomis dibandingkan membeli pakaian baru. Tapi sekarang banyak item thrift yang harganya sudah hampir setara, bahkan bisa lebih mahal dari pakaian baru,” ungkapnya.
Menurutnya, hal itu membuat tren thrift bisa menjadi bumerang yang justru mendorong konsumsi berlebihan.
Baca Juga: Fashion Show Spektakuler Digelar di Solo! Saksikan Karya Desainer Lokal di Lokasi Ini
“Karena merasa harganya murah, orang jadi kalap belanja. Padahal, akhirnya banyak pakaian hanya dipakai sekali-dua kali lalu menumpuk," jelasnya.
"Aku pribadi lebih memilih beli pakaian yang benar-benar aku suka dan yakin akan sering dipakai, jadi lebih bijak dan tidak boros,” imbuh Ramdhani.
Lebih dari Sekadar Murah, Thrift Jadi Simbol Identitas
Kini, thrift tak lagi sekadar soal harga atau keunikan. Bagi banyak anak skena di Solo, thrifting menjadi bagian dari identitas gaya hidup dan cara untuk tampil beda.
“Sekarang thrift bukan cuma soal nyari baju murah, tapi lebih ke cara mengekspresikan diri. Banyak orang berburu barang thrift dengan merek atau desain tertentu supaya tetap terlihat stylish dan sesuai dengan karakter skena mereka,” jelas Ramdhani.
Dia menilai, tren thrift di Solo akan terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran anak muda terhadap fashion yang lebih ramah lingkungan.
Namun, Ramdhani berharap tren ini tidak hanya jadi gaya hidup sesaat.
“Yang penting bukan hanya ikut-ikutan, tapi benar-benar sadar dan bijak dalam berbelanja. Pikirkan dampak dari setiap barang yang kita beli, dan pastikan pakaian yang dibeli memang berguna dan tidak menumpuk jadi limbah baru,” pungkasnya. (zia/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono