RADARSOLO.COM-Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang dinamis.
Diberi anugerah tubuh lengkap seperti jantung, paru-paru, otot, dan sistem tubuh lainnya, manusia sejatinya butuh bergerak untuk menjaga keseimbangan tubuh dan jiwa.
Salah satu bentuk aktivitas terbaik untuk mengaktifkan semua fungsi tubuh adalah lari.
Slamet Widodo, Dosen Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS), menjelaskan, lari adalah aktivitas sederhana namun sangat bermanfaat untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh.
“Biar sehat, ya harus gerak. Salah satu alternatifnya jalan atau jogging. Untuk usia muda di bawah 50 tahun bisa jogging atau lari. Di atas 50 tahun sebaiknya melihat kondisi dulu, bisa jalan, atau kombinasi jogging dan jalan,” kata Slamet kepada radarsolo.com.
Menurut Slamet, lari bukan sekadar olahraga, tapi juga dapat dimasukkan dalam berbagai program kesehatan.
Mulai dari diet hingga terapi pemulihan pasca sakit. Aktivitas ini mampu menggerakkan hampir seluruh organ tubuh dan memperkuat sistem kardiovaskular.
“Lari bisa menjaga kebugaran dan dijadikan program diet atau terapi kesembuhan,” ujarnya.
Tak hanya secara fisik, lari juga memberikan dampak positif pada kesehatan psikologis.
Aktivitas ini terbukti bisa membantu meredakan stres dan menciptakan rasa bahagia.
“Lari bisa membuat orang happy. Misalnya happy berlari bareng partner, happy memilih trek atau lokasi lari, happy pilih outfit atau sepatu yang nyaman,” tutur Slamet.
Dalam banyak kasus, orang yang rutin lari justru menjadi lebih semangat menjalani hari, karena merasa lebih fresh dan tidak lagi jenuh dengan rutinitas harian.
Baca Juga: Komunitas Pecinta Kebaya Solo, Menghidupkan Tradisi di Tengah Modernitas di Kalangan Anak Muda
“Happy secara psikologis bisa memperkuat kondisi fisik juga. Karena kelelahan dari aktivitas rutin bisa dilepas lewat berlari,” jelasnya.
Meski menyehatkan, lari sebaiknya dilakukan tanpa paksaan berlebih. Jika tidak sesuai dengan kemampuan tubuh, lari justru bisa menjadi beban hingga membuat seseorang kapok untuk mengulanginya.
“Kita harus bisa mengatur irama sesuai keinginan dan kemampuan. Begitu pula dengan kecepatan, jarak, dan intensitas. Kalau dipaksa, malah capek dan bisa kapok. Tapi kalau dijalani senyaman mungkin, lari akan terasa menyenangkan,” kata Slamet.
Selain untuk kesehatan dan relaksasi, lari juga menjadi bagian penting dalam dunia olahraga prestasi, terutama bagi para atlet.
“Kalau untuk prestasi, tentu beda. Intensitasnya diatur lebih berat dan progresif, karena ada target tertentu yang ingin dicapai,” pungkasnya. (nis/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono