RADARSOLO.COM-Pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025 disebut sebagai siswa yang sering di-bully.
Ditambah kerap melihat konten-konten ekstrem dan kekerasan di internet.
Sebagai orang tua, hal itu bisa diantisipasi. Lalu bagaimana caranya?
Caranya dengan mendekatkan hubungan dengan anak dan mengantisipasi paparan konten kekerasan di internet.
Baca Juga: Wujud Bakti pada Usia Senja, Aisyiyah Sragen Resmikan Daycare Lansia Perdana di Desa Tangkil
Konselor Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKB P3A) Wonogiri Afrilin Dewi Purnama mengatakan, kedekatan orang tua dengan anak sangat penting.
Saat orang tua dan anak dekat, maka anak bisa menceritakan masalah-masalah yang dihadapinya.
"Termasuk menceritakan apakah di-bully di sekolah. Jika sudah begitu, maka orang tua juga bisa tahu," terang Afrilin.
"Lalu memberi masukan kepada anak apa yang bisa dilakukannya, misal melaporkannya kepada guru dan orang tua saat di-bully," imbuh dia.
Wanita yang akrab disapa Dewi itu menuturkan, kedekatan antara orang tua dan anak harus dibangun.
Jika tidak, anak bisa saja tak menceritakan masalah yang dihadapinya.
Salah satu yang bisa dilakukan adalah makan malam bersama dengan anak.
Di meja makan, pendekatan bisa dilakukan setelah menyantap hidangan.
Baca Juga: Kecelakaan Beruntun di Tasikmadu Karanganyar, Pemotor Meninggal saat Dibawa ke RS
"Semisal anak agak tertutup, orang tua bisa memancingnya. Tanyakan bagaimana sekolahnya, tugas di sekolah," katanya.
"Saat anak sudah bercerita banyak, orang tua bisa menanyai apakah ada peristiwa tak mengenakkan seperti bullying yang dialami sang anak," lanjut Afrilin.
Sementara itu, anak bisa diajak belajar untuk menyaring konten-konten di internet sejak kecil.
Ketika anak sudah bisa berkomunikasi, imbuh Dewi, itu bisa dilakukan.
Baca Juga: APBD Solo Belum Mampu Back Up BST Rp 16 Miliar, Pemkot Siapkan Skema Swasta Jika Lobi Pusat Gagal
Hal itu dilakukan saat anak sudah mulai mengenal gender, bagian tubuh mana yang tak boleh disentuh orang lain dan baik-buruk sesuatu.
"Jadi ditanamkan sejak sebelum remaja awal, oh... ada konten yang mengandung kekerasan tidak boleh ditonton. Tidak boleh ditiru karena bisa menyakiti orang lain," terang Dewi.
Menurut Dewi saat ada konten yang membuat anak merasa relate dan berujung pada kekerasan yang dilakukan, hal itu bisa ditiru oleh anak.
Bahkan anak bisa memadukan kekerasan satu konten ke konten lainnya.
Saat sudah diajari untuk menyaring konten, anak bisa lebih terkontrol.
"Saat emosinya bisa dikelola dengan baik, anak tidak akan melangkah ke luar koridor yang semestinya. Kalau kasus itu (ledakan di SMAN 72 Jakarta) dampak psikologisnya kan kuat banget, dari bullying yang dialami lalu juga media yang ditonton juga," kata dia. (al)
Editor : Tri wahyu Cahyono