Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Fang Sheng: Alasan di Balik Tradisi Melepaskan Makhluk Hidup saat Tahun Baru Imlek

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 29 Januari 2026 | 11:55 WIB
Tradisi melepaskan burung saat perayaan Imlek di Kota Solo.
Tradisi melepaskan burung saat perayaan Imlek di Kota Solo.

RADARSOLO.COM- Di tengah persiapan Tahun Baru Imlek, terdapat tradisi sarat makna yang dilakukan oleh banyak umat Tionghoa.

Adalah Fang Sheng. Ritual melepaskan makhluk hidup kembali ke alam bebas ini bukan sekadar rutinitas tahunan.

Melainkan sebuah manifestasi mendalam tentang kebajikan, hukum karma, dan keseimbangan semesta.

Ketua Yayasan Kelenteng Tien Kok Sie, Solo, Sumantri Dana Wiluyo menjelaskan, esensi Fang Sheng terletak pada penghormatan terhadap tiga unsur kehidupan: darat, air, dan udara.

Simbolisme Tiga Unsur dan Hukum Karma

Pada mulanya, tradisi ini melibatkan hewan yang mewakili tiga elemen alam.

Bebek atau ayam mewakili unsur darat, ikan lele mewakili unsur air, dan burung sebagai penguasa unsur udara.

Pelepasan hewan-hewan yang sebelumnya terkurung ini diyakini sebagai cara manusia untuk menabung karma baik.

Dalam filosofi Tionghoa, setiap nyawa yang diselamatkan dan diberi kebebasan akan mendatangkan berkah kembali bagi pelakunya.

“Kalau kita menebar keburukan, maka yang kita tuai adalah karma buruk. Namun, jika kita konsisten menebar kebaikan—bahkan kepada hewan sekalipun—hasilnya tentu akan berbuah manis bagi hidup kita,” ujar Sumantri.

Adaptasi Zaman: Menghindari Mudarat di Perkotaan

Seiring berkembangnya wilayah perkotaan, praktik Fang Sheng kini mengalami penyesuaian yang bijak.

Baca Juga: Pantangan yang Perlu Dihindari di Tahun Baru Imlek agar Tetap Hoki

Untuk perayaan Imlek tahun 2026 di Kota Solo, pelepasan makhluk darat seperti ayam atau bebek mulai ditiadakan demi alasan keberlangsungan hidup hewan itu sendiri.

“Jika melepaskan hewan darat di tengah kota, ujung-ujungnya justru akan ditangkap orang kembali dan disembelih. Itu bukan menebar kebaikan, justru menimbulkan mudarat (kerugian) bagi hewan tersebut,” tegasnya.

Oleh karena itu, kini fokus utama pelepasan dialihkan pada makhluk udara dan air.

Memilih Simbolisme di Balik Burung dan Lele

Dalam pemilihan jenis hewan, Sumantri menekankan bahwa yang terpenting adalah esensi niat, bukan harga atau kelangkaan hewan tersebut.

Makhluk Udara (Burung): Masyarakat bebas melepaskan jenis burung apa pun, tidak perlu yang mahal. Yang utama adalah simbol melepaskan belenggu menuju angkasa.

Makhluk Air (Ikan Lele): Lele dipilih karena memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap perbedaan kondisi air.

Ikan ini diyakini mampu bertahan hidup dengan baik meskipun dilepaskan di habitat yang beragam, sehingga tujuan "memberi hidup" benar-benar tercapai.

Tradisi Berdasarkan Usia

Uniknya, jumlah hewan yang dilepaskan sering kali disesuaikan dengan usia seseorang.

Sebuah tradisi umum menyebutkan jumlah hewan yang dilepas adalah usia saat ini ditambah satu.

Misalnya, seseorang yang berusia 30 tahun akan melepaskan 31 ekor hewan sebagai simbol harapan umur panjang dan keberkahan di tahun-tahun mendatang.

Pada akhirnya, Fang Sheng adalah pengingat bagi manusia untuk selalu welas asih.

Baca Juga: Makna dan Asal-usul Mie Panjang Umur, Hidangan Wajib Imlek 2026 yang Sarat Filosofi

Dengan menyesuaikan praktik ini terhadap kondisi lingkungan modern, tradisi ini tetap terjaga nilai spiritualnya sekaligus menjadi aksi nyata dalam menjaga kelestarian ekosistem. (agna)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#imlek #hoki #tahun baru imlek #ikan lele #Tahun Baru Cina #burung #kota solo #Kelenteng Tien Kok Sie #fang sheng #keberuntungan #melepaskan makhluk hidup #pengharapan #tradisi