RADARSOLO.COM– Amplop merah atau Angpao merupakan simbol yang paling melekat dalam perayaan Tahun Baru Imlek.
Namun, di balik antusiasme anak-anak saat menerimanya, Angpao menyimpan sejarah panjang ribuan tahun yang berakar dari kepercayaan tentang perlindungan dan doa keselamatan.
Etimologi: Bungkus Merah yang Bermakna
Secara etimologis, Angpao berasal dari bahasa Mandarin Hongbao.
Dalam dialek Hokkian yang populer di Indonesia, Ang berarti merah dan Pao berarti bungkus atau dompet.
Jadi, makna aslinya merujuk pada "bungkus merah", bukan nominal uang yang ada di dalamnya.
Sejarah: Dari Benang Merah hingga Amplop Kertas
Tradisi ini bermula di Tiongkok kuno sebagai bentuk kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya.
Dahulu, Angpao bukan berupa amplop, melainkan uang logam yang diikat dengan benang merah.
Ikatan ini disebut Ya Sui Qian, yang dipercaya mampu mengusir roh jahat dan menangkal energi buruk bagi anak-anak.
Seiring waktu, kantong kain merah atau dompet kain mulai digunakan menggantikan benang.
Memasuki era modern, barulah amplop kertas merah sekali pakai menjadi standar yang digunakan hingga sekarang.
Baca Juga: Fakta Unik! Kenapa Tahun Baru Imlek Selalu Jatuh antara Januari hingga Februari?
Warna merah dipilih bukan tanpa alasan. Dalam kebudayaan Tionghoa, merah adalah representasi api yang melambangkan keberuntungan, kegembiraan, dan kekuatan yang mampu mengusir nasib buruk.
Pantangan Angka dalam Angpao
Dalam tradisi Tionghoa, angka memiliki getaran simbolis yang sangat kuat. Memberi Angpao pun memiliki etika terkait nominal di dalamnya:
Hindari Angka 4: Pelafalan angka empat (Si) sangat mirip dengan kata "Mati".
Memberikan uang dengan nominal yang mengandung angka 4 dianggap sebagai doa yang kurang baik.
Hindari Angka Ganjil: Angka ganjil biasanya diasosiasikan dengan uang duka cita. Untuk perayaan bahagia seperti Imlek, jumlah genap sangat dianjurkan.
Angka Keberuntungan: Angka 8 menjadi primadona karena pelafalannya mirip dengan kata "Kemakmuran" (Fa), serta angka 6 yang melambangkan "Kelancaran".
Angpao di Indonesia
Pasca-reformasi, tradisi Angpao di Indonesia mengalami perkembangan pesat.
Kini, Angpao tidak hanya eksklusif di lingkup keluarga, tetapi menjadi simbol kepedulian sosial yang lebih luas.
Dalam konteks kekinian, Angpao dimaknai sebagai jembatan silaturahmi.
Nilai materi di dalamnya hanyalah perantara, sementara pesan utamanya adalah doa agar sang penerima mendapatkan keselamatan, keberkahan, dan rezeki yang lancar sepanjang tahun yang baru. (agna)
Editor : Tri wahyu Cahyono