RADARSOLO.COM – Keris = sinengker karana aris.
Tidak sedikit yang mengartikan bahwa ada rahasia yang tersembunyi di dalam keris.
Mengutip pernyataan Ki Juru Bangunjiwa yang menjadi narasumber dalam Webinar Nasional dengan tema “Keris; Filosofi dan Proses Pembuatannya” yang digelar HMJ Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Widya Mataram (UWM), Kamis (25/2/2021), keris memiliki dua makna.
Pertama, keris bukan untuk jimat, namun digunakan sebagai alat untuk memuji dan memuja Tuhan yang Maha Esa.
Kedua, keris bukan untuk kedigdayaan atau kanuragan karena jika digunakan untuk itu justru akan menimbulkan konflik berdarah-darah.
“Keris itu Sinengker Karono Aris. Sinengker itu apa yang dirahasiakan oleh pendahulu kita, yang memiliki pelajaran dan pesan tersirat dari keris,” terang Ki Bangun Jiwo.
Hal yang dirahasiakan dalam sebuah keris ialah berupa doa, cita-cita, harapan serta peringatan.
Di lain sisi, karena ke-sinengker-an itulah, edukasi tentang keris seakan terputus.
Tidak mengalir sampai jauh dan tetap jernih.
Seorang rekan dari komunitas perkerisan di Kota Solo bercerita, siang itu, ada seorang bule dari Belanda datang ke pameran tosan aji.
Dia lalu menceritakan penuturan dari kakek buyutnya yang pernah ikut menjajah tanah air.
Pada zaman itu, kata si bule, keris ibarat smartphone yang nyaris dimiliki semua lapisan masyarakat, khususnya di Pulau Jawa.
Dengan menyengkelit keris, para leluhur seakan memiliki power booster.
Rawe-rawe rantas malang-malang putung.
Apapun tantangannya akan dihadapi dengan gagah berani.
Semangat itu rupanya membuat tentara kolonial kelabakan.
Mereka pontang-panting menghadapi perlawanan para leluhur yang tidak takut mati.
Belanda pun keheranan, dari mana datangnya kekuatan itu.
Setelah dilakukan pengamatan, ternyata leluhur bangsa ini nyaris tidak pernah absen membawa keris.
Kemudian disimpulkan bahwa keris itulah yang “mendatangkan” daya linuwih.
Karena sudah kewalahan, propaganda pun diluncurkan penjajah.
Mereka menyebut bahwa keris adalah pusaka yang seharusnya tidak dibawa kemana-mana.
Lebih baik keris disimpan dirumah agar tidak mengurangi ke-sinengker-annya.
Memang tidak ada literasi ilmiah yang bisa menjadi rujukan valid tidaknya penuturan si buyut bule.
Namun jika di-otak-atik-gatuk dengan kondisi sekarang, mungkin saja ada benarnya.
Karena ke-sinengker-annya itu, keris seperti tabu untuk dipelajari.
“Mengko nek wis wayahe nek ngerti dewe. (Nanti kalau sudah waktunya, bakal paham), ujar teman perkerisan di Kota Solo menirukan penuturan simbah-simbah terdahulu saat ditanya tentang sisik-melik keris.
Ironisnya lagi, di dalam Keraton Kasunanan Surakarta, untuk saat ini, belum ada empu yang meneruskan pembuatan keris.
Padahal, informasi yang didapat dari rekan perkerisan, di Keraton Kasunanan Surakarta menyimpan buku babon (induk) tata cara pembuatan keris para leluhur.
Bahkan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta juga terdapat Program Studi (Prodi) Senjata Tradisional dan Keris.
Prodi ini lahir atas keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersurat pada SK. No. 147/E/O/2012.
Fokusnya pada ranah penciptaan seni keris dan senjata tradisional beserta kajian estetik maupun filosofisnya.
Namun beribu sayang, mahasiswanya bisa dihitung jari.
Apakah fenomena ini karena keris terlalu sinengker? (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono