Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pusaka Hanya Akan Sewingit seperti Siapa (Tuannya)

Tri wahyu Cahyono • Sabtu, 16 Mei 2026 | 18:33 WIB
 Keris Kyahi Semar Maneges koleksi Andhi Karsopawiro. (DOK.PRIBADI)
Keris Kyahi Semar Maneges koleksi Andhi Karsopawiro. (DOK.PRIBADI)

Oleh: Andhi Karsopawiro*)

RADARSOLO.COM - Kalimat itu pernah dilontarkan seorang senior ke saya, sambil lalu, di sela seruput kopi.

Saya cuma mengangguk waktu itu. Sopan santun saja sebenarnya, karena dalam hati saya belum paham betul apa maksud beliau.

Baru bertahun kemudian saya ngeh, dan rasanya seperti ditampar pelan.

Baca Juga: Eks Bomber Timnas Indonesia Punya Bocoran, Persebi Boyolali Tak Gentar Hadapi Grup I Liga 4 Jateng

Saya kira beliau sedang ngomong soal tuah, soal hal-hal yang tak kasat mata. 

Ternyata bukan itu. Atau setidaknya, bukan cuma itu.

Di tangan saya sekarang ada sebilah keris yang dituakan dengan sesebutan Kyahi Semar Maneges.

Sebuah keris yang disimpan oleh kawan cukup lama, lokasian dari sebuah desa, turun beberapa tangan sebelum sampai ke saya.

Dari ciri garapnya, saya menduga era Majapahit.

Bilahnya kecil, materialnya matang, pamornya khas zaman itu, tenang, Majapahit.

Bagian landhep-nya sudah gripis di beberapa titik dan dirapikan, sedikit saya sesali.

Namun di situ letak pertanda bahwa pusaka ini dirawat, diruwat.

Mendaknya emas, tipis, ukirannya tatah sederhana, bergaya Jawa Timuran. Kecil, sederhana.

Saya selalu suka mendak gaya begini ketika dikombinasikan dengan keris bethok atau patrem, terlihat serasi dan masuk akal.

Baca Juga: Ivar Jenner Tegaskan Siap Jadi Mimpi Buruk buat Persis Solo

Lalu handle-nya. Gading gajah berukir Semar, dengan retakan-retakan halus yang merambat di beberapa permukaan.

Banyak orang melihat retakan begini sebagai cacat. Bagi saya tidak.

Itu cara gading berumur seiring waktu.

Itu tanda gading menua, bergerak, merespons tangan Tuan-nya yang menggenggamnya selama puluhan, mungkin ratusan tahun.

Di gandiknya, ada ganan motif Semar. Tenang, hampir membungkuk, khas.

Tapi yang membuat saya berhenti paling lama bukan gandiknya, melainkan bilahnya sendiri.

Sekilas tampak lurus.

Padahal kalau dilihat pelan-pelan di pencahayaan yang pas, ada luk yang sinandhi di sana.

Samar sekali. Tersembunyi di balik kelurusan.

Dan justru kesamaran itu yang bikin saya termenung.

Luk sinandhi, kalau kita mau jujur membacanya, adalah pelajaran tentang sesuatu yang ada tapi tidak diumumkan.

Baca Juga: Di saat Rupiah Ambruk, Potongan Video Presiden B.J Habibie yang Putuskan Stop Pembuatan Pesawat N250 dan Fokus Pemulihan Ekonomi Viral

Hadir, tapi tidak ditonjolkan. Bergelombang, tapi memilih tidak menyatakan diri di permukaan.

Empu yang menggarap bilah ini agaknya tidak asal tempa.

Beliau sepertinya menitipkan pesan untuk siapa pun yang kelak memegangnya.

Kira-kira begini: yang penting itu bukan apa yang kelihatan, tapi apa yang kamu mau berhenti sebentar untuk melihat.

Cocok sekali rasanya dipasangkan dengan ganan Semar di gandik.

Semar pun lambang yang tidak menonjolkan diri.

Hadir tanpa banyak bicara, bijak tanpa menggurui.

Dua-duanya seperti saling menggemakan satu pesan yang sama.

Saya jadi mikir, kawan.

Belakangan saya perhatikan ada satu pola yang makin kuat di lingkungan kita.

Baca Juga: Hasil Final EPA U-16, Persis Solo vs Persik Kediri: Tersandung Drama Adu Penalti, Masa Depan Skuad Laskar Sambernyawa Cerah

Banyak yang sibuk mencari bilah dengan pamor paling nyala, dapur paling langka, mahar paling tinggi, garap paling halus, ganan Naga Sosro, Singha Barong, atau lainnya. 

Saya tidak menyalahkan, sungguh.

Saya sendiri pernah ada di fase itu, dan jujur, sebagiannya masih sisa sampai sekarang.

Tapi ada satu pertanyaan yang sering saya lewati dulu, dan baru sekarang berani saya tanyakan ke diri sendiri.

Sudah sejauh mana saya menyiapkan diri sehingga pantas untuk jadi pemegang pusaka?

Pusaka itu cermin gema, bukan tameng.

Pusaka tidak menambahi apa-apa yang tidak ada pada pemiliknya.

Kalau yang memegang gelisah, memegang pusaka pun akan terasa lebih gelisah.

Kalau yang memegang tenang, barulah karakter pusaka bicara dengan bahasanya sendiri.

Baca Juga: 6.271 Koperasi Merah Putih di Jateng Beroperasi, 2.769 Gedung Telah Terbangun 

Kejujuran ini akan terasa menusuk. Termasuk untuk saya sendiri.

Saya khawatir kita sedang membesarkan generasi kolektor yang rajin mengoleksi tapi lupa mengolah.

Rumah penuh bilah tua, lemari pusaka berderet, tapi pemiliknya masih mudah tersulut di kolom komentar.

Masih merasa harus selalu terlihat paling tahu.

Masih diam-diam mengukur harga diri lewat panjang daftar koleksi.

Kalimat tadi terasa tajam.

Saya pun masih belajar mencabut duri yang sama dari diri saya.

Keris Kyahi Semar Maneges ini tidak akan ramai di foto.

Pamornya tidak menyilaukan layar ponsel.

Luk-nya bahkan harus dijelaskan dulu baru kelihatan, karena memang sengaja disembunyikan.

Tapi setiap kali saya pegang gagangnya, terutama di sore-sore yang sepi, saya merasa sedang diuji.

Baca Juga: Link Live Streaming MotoGP Catalunya 2026 Malam Ini, Jadwal Sprint Race dan Jam Tayang

Bukan dipuja, bukan dihibur. Diuji.

Mungkin di situlah salah paham terbesar kita soal pusaka, kawan.

Kita mengira pusaka memilih pemiliknya karena pemiliknya pantas.

Padahal sering kali pusaka itu datang justru sebagai pengingat.

Bahwa kita belum pantas.

Bahwa masih ada pekerjaan rumah (PR) yang belum diselesaikan supaya kita menjadi pantas.

Bahwa yang perlu diasah duluan bukan bilahnya, tapi pemegangnya.

Semakin lama saya berjalan di lorong ini, semakin saya percaya satu hal.

Merawat diri jauh lebih sulit, dan jauh lebih penting, daripada merawat koleksi.

Bagaimana menurut kawan, apakah pusaka yang memilih pemiliknya, atau pemiliknya yang harus pantas dulu untuk dipilih?

Saya benar-benar ingin baca pandangan kawan-kawan, terutama yang sudah lebih lama berjalan di jalan ini. 

Saya masih perlu banyak belajar.

Salam berkoleksi. (*)

*) Penggiat Pelestarian Tosan Aji

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#andhi karsopawiro #tuah pusaka #wingit #keris #tosan aji