Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Memahami Konsep Purwacarita: Keris Puthut Sajen sebagai Prototipe Awal Keris Nusantara

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 26 Mei 2026 | 14:20 WIB
Secara arkeologis dan metalurgi, seluruh elemen terpisah pada keris klasik tersebut dapat ditelusuri kembali pada satu bentuk asal yang strukturnya bersifat menyatu tanpa sambungan (iras). (DOK PRIBADI ADI SULISTYONO)
Secara arkeologis dan metalurgi, seluruh elemen terpisah pada keris klasik tersebut dapat ditelusuri kembali pada satu bentuk asal yang strukturnya bersifat menyatu tanpa sambungan (iras). (DOK PRIBADI ADI SULISTYONO)

Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)

RADARSOLO.COM - Dalam khazanah perkerisan Nusantara, istilah Purwacarita memiliki kedudukan teoretis yang erat kaitannya dengan rekonstruksi bentuk asal atau prototipe awal dari sebuah karya bilah.

Secara etimologis, kata purwa berarti awal atau mula, sedangkan carita bermakna kisah atau cerita.

Gabungan kedua kata ini merujuk pada narasi mula atau cerita asal-usul mengenai lahirnya suatu bentuk, struktur, dan gaya visual keris.

Baca Juga: Menyimpan Keris: Karena Langka, Kecocokan, Atau Sekadar Ingin?

Sebagaimana siklus perkembangan artefak teknologi hasil cipta manusia lainnya—seperti pesawat terbang, otomotif, komputer, hingga instalasi kelistrikan—setiap objek fungsional selalu memiliki purwarupa (prototype).

Bentuk awal tersebut umumnya dicirikan oleh desain yang sederhana, elemen komponen yang masih menyatu, serta belum mengalami spesifikasi pemecahan fungsi teknis maupun diferensiasi estetika yang kompleks.

Prinsip evolusi linear ini juga berlaku pada anatomi bilah keris.

Struktur keris modern yang dikenal masyarakat saat ini telah mengalami pembagian anatomi yang terpisah.

Meliputi komponen:

Baca Juga: Ingatkan tentang Berharganya Waktu: Filosofi Keris Kyai Korowelang Milik Pangeran Samber Nyawa Pendiri Kabupaten Karanganyar,

Secara arkeologis dan metalurgi, seluruh elemen terpisah pada keris klasik tersebut dapat ditelusuri kembali pada satu bentuk asal yang strukturnya bersifat menyatu tanpa sambungan (iras).

Ketika seluruh komponen keris modern tersebut diintegrasikan kembali menjadi satu kesatuan material utuh, maka wujud visual yang tampak adalah morfologi yang identik dengan Keris Puthut Sajèn.

Melalui pendekatan tipologi ini, Keris Puthut Sajen dipandang sebagai bentuk Purwacarita dari sejarah keris di Nusantara.

Fase ini representasikan era awal ketika konsepsi pembuatan keris masih berlandaskan pada prinsip Kemanunggalan.

Pada fase tersebut, bagian bilah dan bagian hulu (jejeran) belum diposisikan sebagai dua komponen yang terpisah.

Struktur yang menyatu (iras) dan sederhana ini merefleksikan cara pandang zaman purba yang melihat unsur manusia, daya spiritual, dan alat mekanis sebagai satu kesatuan eksistensi yang utuh.

Oleh karena itu, kesederhanaan bentuk Keris Puthut Sajèn justru menyimpan jejak historis paling tua dari konsepsi metalurgi Nusantara.

Baca Juga: Keris hingga Naskah Kuno Dipamerkan di Museum Radya Pustaka

Tesis mengenai Purwacarita ini sekaligus berfungsi sebagai kritik ilmiah terhadap teori sekunder yang menyatakan bahwa Khadga (senjata tajam pengaruh budaya India) merupakan prototipe awal dari keris Nusantara.

Secara morfologi, terdapat perbedaan struktural yang mendasar antara Khadga dengan keris:

Dengan demikian, hubungan antara keris Nusantara dengan Khadga lebih tepat diklasifikasikan sebagai hubungan komparatif antar-bilah senjata tajam secara umum, bukan sebagai garis silsilah evolusi genetis yang bersifat langsung.

Melalui pemahaman ini, istilah Purwacarita tidak sekadar digunakan untuk mengklasifikasikan kategori "keris berusia tua" berdasarkan pendekatan penanggalan (tangguh).

Istilah ini merupakan pelabelan terhadap fase evolusi bentuk—sebuah periode di mana keris masih berwujud prototipe tunggal yang menyatu, sebelum akhirnya berkembang menjadi variasi bentuk, luk, dhapur, serta gaya tangguh yang lebih kompleks pada pembagian periodisasi zaman berikutnya. (*)

*) Pemerhati Budaya/Tosan Aji Solo

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#keris puthut sajen #prototipe awal keris nusantara #konsep purwacarita