Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)
RADARSOLO.COM - Dalam khazanah perkerisan Nusantara, istilah Purwacarita memiliki kedudukan teoretis yang erat kaitannya dengan rekonstruksi bentuk asal atau prototipe awal dari sebuah karya bilah.
Secara etimologis, kata purwa berarti awal atau mula, sedangkan carita bermakna kisah atau cerita.
Gabungan kedua kata ini merujuk pada narasi mula atau cerita asal-usul mengenai lahirnya suatu bentuk, struktur, dan gaya visual keris.
Baca Juga: Menyimpan Keris: Karena Langka, Kecocokan, Atau Sekadar Ingin?
Sebagaimana siklus perkembangan artefak teknologi hasil cipta manusia lainnya—seperti pesawat terbang, otomotif, komputer, hingga instalasi kelistrikan—setiap objek fungsional selalu memiliki purwarupa (prototype).
Bentuk awal tersebut umumnya dicirikan oleh desain yang sederhana, elemen komponen yang masih menyatu, serta belum mengalami spesifikasi pemecahan fungsi teknis maupun diferensiasi estetika yang kompleks.
Prinsip evolusi linear ini juga berlaku pada anatomi bilah keris.
Struktur keris modern yang dikenal masyarakat saat ini telah mengalami pembagian anatomi yang terpisah.
Meliputi komponen:
- Bilah
- Pesi (poros tangkai)
- Gonja (penopang bawah bilah)
- Mendhak (cincin pembatas)
- hingga jejeran/deder (hulu keris) yang kerap dipahat membentuk figur manusia (ganan).
Secara arkeologis dan metalurgi, seluruh elemen terpisah pada keris klasik tersebut dapat ditelusuri kembali pada satu bentuk asal yang strukturnya bersifat menyatu tanpa sambungan (iras).
Ketika seluruh komponen keris modern tersebut diintegrasikan kembali menjadi satu kesatuan material utuh, maka wujud visual yang tampak adalah morfologi yang identik dengan Keris Puthut Sajèn.
Melalui pendekatan tipologi ini, Keris Puthut Sajen dipandang sebagai bentuk Purwacarita dari sejarah keris di Nusantara.
Fase ini representasikan era awal ketika konsepsi pembuatan keris masih berlandaskan pada prinsip Kemanunggalan.
Pada fase tersebut, bagian bilah dan bagian hulu (jejeran) belum diposisikan sebagai dua komponen yang terpisah.
Struktur yang menyatu (iras) dan sederhana ini merefleksikan cara pandang zaman purba yang melihat unsur manusia, daya spiritual, dan alat mekanis sebagai satu kesatuan eksistensi yang utuh.
Oleh karena itu, kesederhanaan bentuk Keris Puthut Sajèn justru menyimpan jejak historis paling tua dari konsepsi metalurgi Nusantara.
Baca Juga: Keris hingga Naskah Kuno Dipamerkan di Museum Radya Pustaka
Tesis mengenai Purwacarita ini sekaligus berfungsi sebagai kritik ilmiah terhadap teori sekunder yang menyatakan bahwa Khadga (senjata tajam pengaruh budaya India) merupakan prototipe awal dari keris Nusantara.
Secara morfologi, terdapat perbedaan struktural yang mendasar antara Khadga dengan keris:
-
Khadga: Memiliki bentuk yang simetris, berjalur tegak lurus, dan tidak mengantongi karakter condhong lèlèh (derajat kemiringan bilah).
-
Keris Nusantara: Sejak fase purwanya (Purwacarita) telah secara konsisten menampilkan ciri asimetris serta sudut kemiringan bilah (condhong lèlèh) sebagai identitas utama, baik dari sudut pandang estetika teknis maupun filosofi metalurgi.
Dengan demikian, hubungan antara keris Nusantara dengan Khadga lebih tepat diklasifikasikan sebagai hubungan komparatif antar-bilah senjata tajam secara umum, bukan sebagai garis silsilah evolusi genetis yang bersifat langsung.
Melalui pemahaman ini, istilah Purwacarita tidak sekadar digunakan untuk mengklasifikasikan kategori "keris berusia tua" berdasarkan pendekatan penanggalan (tangguh).
Istilah ini merupakan pelabelan terhadap fase evolusi bentuk—sebuah periode di mana keris masih berwujud prototipe tunggal yang menyatu, sebelum akhirnya berkembang menjadi variasi bentuk, luk, dhapur, serta gaya tangguh yang lebih kompleks pada pembagian periodisasi zaman berikutnya. (*)
*) Pemerhati Budaya/Tosan Aji Solo
Editor : Tri Wahyu Cahyono