Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mengenal Karakteristik Keris Tangguh Purwacarita yang Mengusung Konsep Kemanunggalan

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 2 Juni 2026 | 12:56 WIB
Keris tangguh Purwacarita sering dipahami sebagai gaya yang membawakan napas awal perkerisan Nusantara. Foto kanan, keris tangguh Purwacarita yang ditemukan di bawah stupa Puncak Candi Borobudur dan sekarang disimpan di Museum Belanda. (ISTIMEWA)
Keris tangguh Purwacarita sering dipahami sebagai gaya yang membawakan napas awal perkerisan Nusantara. Foto kanan, keris tangguh Purwacarita yang ditemukan di bawah stupa Puncak Candi Borobudur dan sekarang disimpan di Museum Belanda. (ISTIMEWA)

Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)

RADARSOLO.COM - Dalam dunia perkerisan, keris tangguh Purwacarita sering dipahami sebagai gaya yang membawakan napas awal perkerisan Nusantara.

Yakni fase ketika keris masih sangat dekat dengan konsep Kemanunggalan (Puthut Sajen/Sa–Aji–An).

Karena itu, karakter Purwacarita umumnya tidak menonjolkan kemewahan artistik seperti pada era seni klasik kerajaan.

Melainkan lebih menghadirkan kesan purba, sederhana, utuh, dan alami.

Baca Juga: Memahami Konsep Purwacarita: Keris Puthut Sajen sebagai Prototipe Awal Keris Nusantara

Salah satu ciri fisik yang sering dikaitkan dengan gaya Purwacarita adalah kondisi bilah yang iras atau menyatu.

Dalam istilah perkerisan, iras berarti bagian bilah dan bagian bawahnya dibuat dari satu kesatuan tempa.

Bukan terdiri dari bagian-bagian yang terpisah seperti konstruksi keris klasik pada masa berikutnya.

Kondisi iras ini penting karena tidak hanya menunjukkan teknik awal pembuatan keris.

Baca Juga: Menyimpan Keris: Karena Langka, Kecocokan, Atau Sekadar Ingin?

Tetapi juga mencerminkan cara pandang kosmologis masyarakat awal Nusantara yang masih berlandaskan konsep Kemanunggalan.

Segala sesuatu dipandang sebagai satu kesatuan utuh : manusia dengan alam, lahir dengan batin, materi dengan daya spiritual.

Karena itu, pada gaya Purwacarita terdapat ciri-ciri sebagai berikut:

Kondisi iras tersebut kemudian dapat dipahami sebagai simbol fisik dari kesatuan yang belum “terpecah”.

Baca Juga: Ingatkan tentang Berharganya Waktu: Filosofi Keris Kyai Korowelang Milik Pangeran Samber Nyawa Pendiri Kabupaten Karanganyar,

Berbeda dengan perkembangan seni klasik sesudah masuknya pengaruh Kerajaan dan kosmologi Hindu-Buddha, di mana struktur keris berkembang menjadi lebih kompleks melalui konsep Lingga–Yoni.

Pada masa klasik, bilah- pesi, gonja, dan bagian-bagian lain (methuk/mendhak dan jejeran/hulu) mulai tampil lebih tegas baik secara teknis maupun simbolik.

Dengan demikian, bilah iras pada Tangguh Purwacarita bukan sekadar bentuk teknis kuno.

Melainkan juga dianggap sebagai jejak filosofis dari fase awal keris Nusantara : fase ketika keris masih hadir sebagai pusaka kemanunggalan yang utuh, sederhana, dan dekat dengan akar spiritual masyarakat awal Nusantara. (wa)

*) Pemerhati Budaya/Tosan Aji Solo

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#keris tangguh purwacarita #konsep kemanunggalan #karakter keris tangguh purwacarita #ciri-ciri keris tangguh purwacarita