Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)
RADARSOLO.COM - Dalam dunia perkerisan, keris tangguh Purwacarita sering dipahami sebagai gaya yang membawakan napas awal perkerisan Nusantara.
Yakni fase ketika keris masih sangat dekat dengan konsep Kemanunggalan (Puthut Sajen/Sa–Aji–An).
Karena itu, karakter Purwacarita umumnya tidak menonjolkan kemewahan artistik seperti pada era seni klasik kerajaan.
Melainkan lebih menghadirkan kesan purba, sederhana, utuh, dan alami.
Baca Juga: Memahami Konsep Purwacarita: Keris Puthut Sajen sebagai Prototipe Awal Keris Nusantara
Salah satu ciri fisik yang sering dikaitkan dengan gaya Purwacarita adalah kondisi bilah yang iras atau menyatu.
Dalam istilah perkerisan, iras berarti bagian bilah dan bagian bawahnya dibuat dari satu kesatuan tempa.
Bukan terdiri dari bagian-bagian yang terpisah seperti konstruksi keris klasik pada masa berikutnya.
Kondisi iras ini penting karena tidak hanya menunjukkan teknik awal pembuatan keris.
Baca Juga: Menyimpan Keris: Karena Langka, Kecocokan, Atau Sekadar Ingin?
Tetapi juga mencerminkan cara pandang kosmologis masyarakat awal Nusantara yang masih berlandaskan konsep Kemanunggalan.
Segala sesuatu dipandang sebagai satu kesatuan utuh : manusia dengan alam, lahir dengan batin, materi dengan daya spiritual.
Karena itu, pada gaya Purwacarita terdapat ciri-ciri sebagai berikut:
- Bilah cenderung tampak menyatu secara alami
- Belum banyak pemisahan konstruksi simbolik
- Bentuknya sederhana dan tidak terlalu penuh ricikan
- Serta memancarkan rasa tua dan 'purba'
Kondisi iras tersebut kemudian dapat dipahami sebagai simbol fisik dari kesatuan yang belum “terpecah”.
Berbeda dengan perkembangan seni klasik sesudah masuknya pengaruh Kerajaan dan kosmologi Hindu-Buddha, di mana struktur keris berkembang menjadi lebih kompleks melalui konsep Lingga–Yoni.
Pada masa klasik, bilah- pesi, gonja, dan bagian-bagian lain (methuk/mendhak dan jejeran/hulu) mulai tampil lebih tegas baik secara teknis maupun simbolik.
Dengan demikian, bilah iras pada Tangguh Purwacarita bukan sekadar bentuk teknis kuno.
Melainkan juga dianggap sebagai jejak filosofis dari fase awal keris Nusantara : fase ketika keris masih hadir sebagai pusaka kemanunggalan yang utuh, sederhana, dan dekat dengan akar spiritual masyarakat awal Nusantara. (wa)
*) Pemerhati Budaya/Tosan Aji Solo
Editor : Tri Wahyu Cahyono