Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Fungsi Lubang Lantai Besalen: Ragam Simbol Kosmologis dalam Tradisi Tempa Keris Nusantara

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 2 Juni 2026 | 13:31 WIB
Proses penciptaan keris di besalen. Tampak sang empu (kiri) dan panjak masuk ke dalam lubang. Ini melambangkan Lingga sebagai simbol daya hidup dan kuasa pencipta. Melalui posisi tubuh tersebut, aktivitas menempa logam dimaknai secara sakral sebagai peristiwa penyatuan simbolik Lingga–Yoni. (ISTIMEWA)
Proses penciptaan keris di besalen. Tampak sang empu (kiri) dan panjak masuk ke dalam lubang. Ini melambangkan Lingga sebagai simbol daya hidup dan kuasa pencipta. Melalui posisi tubuh tersebut, aktivitas menempa logam dimaknai secara sakral sebagai peristiwa penyatuan simbolik Lingga–Yoni. (ISTIMEWA)

Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)

RADARSOLO.COM - Dalam tradisi tempa keris Nusantara, terdapat satu unsur penting yang sering luput dari perhatian modern.

Yaitu posisi tubuh sang empu pande maupun panjak ketika bekerja di dalam besalen.

Pada banyak besalen peninggalan leluhur di berbagai wilayah Nusantara—baik di Jawa, Madura, Bali, hingga daerah-daerah tradisi tempa keris lainnya dapat ditemukan adanya lubang pada lantai tempat penempaan.

Baca Juga: Di Balik Makna Simbolik Keris Kalamunyeng, Balatentara Majapahit yang Hendak Menyerang Giri Kedhaton Balik Kanan

Lubang tersebut bukan sekadar unsur teknis atau ergonomi kerja.

Melainkan bagian dari tata simbolik dan kosmologis yang menyatu dengan proses penciptaan keris itu sendiri.

Ketika menempa, kaki sang Mpu atau panjak dimasukkan ke dalam lubang tersebut.

Tradisi ini masih dapat dijumpai pada sebagian empu yang memahami warisan pakem lama.

Posisi tubuh demikian membedakan secara mendasar antara empu pande keris Nusantara dengan para blacksmith luar negeri.

Dalam tradisi pandai besi modern di banyak budaya lain, kerja penempaan lebih dipahami sebagai aktivitas teknis-metallurgis semata.

Baca Juga: Mengenal Karakteristik Keris Tangguh Purwacarita yang Mengusung Konsep Kemanunggalan

Sedangkan dalam tradisi keris Nusantara, proses menempa merupakan laku spiritual dan kosmologis: tubuh manusia, bumi, api, logam, dan daya penciptaan dipersatukan dalam satu kesadaran.

Lubang pada lantai besalen dapat dimaknai sebagai simbol Yoni—ruang asal, wadah, atau bumi penciptaan.

Sedangkan tubuh sang Mpu, terutama posisi kaki dan keberadaan dirinya yang tegak di atas lubang tersebut, melambangkan Lingga sebagai daya hidup dan kuasa pencipta.

Dengan demikian, proses tempa keris bukan hanya kerja membentuk logam, melainkan peristiwa penyatuan Lingga–Yoni secara simbolik.

Baca Juga: Memahami Konsep Purwacarita: Keris Puthut Sajen sebagai Prototipe Awal Keris Nusantara

Namun dalam pemahaman sakral Nusantara, lingga–yoni bukan semata simbol biologis atau reproduktif. 

Makna terdalamnya adalah kesatuan dari Daya Kuasa-NYA yang Mencipta, Memelihara, dan Melebur. Tiga daya utama yang merupakan “pekerjaan Tuhan” dalam menjaga keseimbangan semesta.

Karena itu, lingga–yoni dipahami sebagai lambang kesatuan energi ilahiah yang terus bekerja dalam seluruh siklus kehidupan.

Konsep tersebut secara nyata dijalankan oleh sang empu di dalam besalen.

Dalam proses tempa, empu menjalankan tiga laku yang sejajar dengan prinsip kosmis tersebut.

Ia “mencipta” ketika mulai membentuk bilah dari bahan mentah.

Baca Juga: Menyimpan Keris: Karena Langka, Kecocokan, Atau Sekadar Ingin?

Ia “memelihara” ketika menjaga keseimbangan panas, struktur logam, pamor, dan bentuk agar tetap harmonis.

Dan ia juga “melebur” ketika menghancurkan, melunakkan, atau mengembalikan logam ke fase pijar demi melahirkan bentuk baru yang lebih sempurna.

Seluruh proses itu merupakan cerminan kecil dari kerja agung semesta.

Karena itulah, dalam tradisi lama, empu bukan sekadar tukang logam.

Ia dipahami sebagai manusia yang menjalankan laku spiritual penciptaan.

Besalen bukan hanya bengkel kerja, melainkan ruang sakral tempat berlangsungnya transformasi materi dan kesadaran.

Baca Juga: Ingatkan tentang Berharganya Waktu: Filosofi Keris Kyai Korowelang Milik Pangeran Samber Nyawa Pendiri Kabupaten Karanganyar,

Api perapen menjadi lambang daya pelebur, palu menjadi penggerak kehendak, ububan memberi napas kehidupan, sedangkan bumi tempat kaki berpijak menjadi rahim semesta yang menerima dan melahirkan kembali.

Posisi kaki yang masuk ke dalam lubang besalen menunjukkan bahwa sang Empu tidak berdiri “di atas” bumi, tetapi menyatu dengannya.

Ia menjadi penghubung antara jagad bawah, jagad tengah, dan jagad atas.

Dari kemanunggalan itulah lahir keris sebagai simbol harmoni penciptaan, keseimbangan daya, dan pengetahuan spiritual Nusantara.

Inilah sebabnya mengapa banyak tradisi tempa keris leluhur tidak dapat dipahami hanya melalui pendekatan teknologi material.

Di balik setiap detail besalen tersimpan pengetahuan simbolik yang berlapis, diwariskan turun-temurun, dan menjadi pembeda utama antara empu pande keris Nusantara dengan tradisi blacksmith di belahan dunia lain. (wa)

*) Pemerhadi Budaya/Tosan Aji Solo

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#lantai besalen #simbol kosmologis #tradisi tempa keris #fungsi lubang besalen #empu