Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)
RADARSOLO.COM- Dalam tradisi malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta, dilaksanakan prosesi Kirab Pusaka mengelilingi keraton sebagai sebuah laku budaya sekaligus doa bersama untuk memasuki tahun yang baru.
Pada kirab tersebut, barisan paling depan dipimpin (cucuk lampah) oleh rombongan Kerbau Bule yang dikenal dengan nama Kyai Slamet.
Sedangkan di belakangnya menyusul pusaka-pusaka karaton berupa keris dan tombak.
Baca Juga: Fungsi Lubang Lantai Besalen: Ragam Simbol Kosmologis dalam Tradisi Tempa Keris Nusantara
Konon pusaka pertama sesudah rombongan kerbau bule adalah "mata bajak" milik Ki Ageng Sela.
Dalam pemahaman simbolik tradisi Jawa, penempatan kerbau di barisan terdepan bukanlah tanpa makna.
Kerbau sejak dahulu merupakan hewan yang sangat dekat dengan kehidupan agraris masyarakat Nusantara.
Kerbau adalah tenaga pembajak sawah, pengolah tanah, pembuka lahan kehidupan.
Ketika kerbau membajak sawah, tanah yang keras diurai menjadi gembur, gulma dibersihkan, penyakit tanaman ditekan, sehingga sawah menjadi siap untuk ditanami dan menghasilkan panen yang baik.
Karena itulah, Kirab 1 Suro dengan dipucuki Kerbau Bule dapat dimaknai sebagai perlambang “membajak” kehidupan dan negeri secara spiritual.
Bukan membajak tanah secara fisik, melainkan membersihkan jagad batin dan jagad sosial dari berbagai marabahaya, kekacauan, penyakit, serta energi buruk yang dapat mengganggu keselamatan masyarakat dan negara.
Kerbau menjadi simbol pembuka jalan keselamatan, penetral, sekaligus pengolah “tanah kehidupan” agar tahun yang akan dijalani menjadi lebih subur, tenteram, dan penuh berkah.
Sesudah barisan kerbau bule, hadir pusaka-pusaka karaton berupa keris dan tombak.
Dalam tradisi perkerisan Nusantara, pusaka bukan semata senjata, melainkan simbol pengharapan, doa, kewibawaan, dan penjagaan.
Baca Juga: Memahami Konsep Purwacarita: Keris Puthut Sajen sebagai Prototipe Awal Keris Nusantara
Keris dan tombak membawa makna adanya harapan agar kehidupan tetap berada dalam keteraturan, ketenteraman, dan perlindungan Tuhan.
Pusaka menjadi lambang tekad lahir dan batin untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Yang Mahakuasa.
Dengan demikian, Kirab Malam 1 Suro sesungguhnya merupakan prosesi spiritual budaya yang sarat makna.
Ia adalah doa kolektif agar kerajaan, masyarakat, dan negara dijauhkan dari segala mara bahaya, pagebluk, perpecahan, serta kesukaran hidup.
Sekaligus permohonan agar tahun yang baru menghadirkan keselamatan, kemakmuran, ketenteraman, dan kesuburan kehidupan bagi seluruh rakyat.
Dalam bahasa simbol Jawa, kerbau membukakan jalannya, sementara pusaka mengiringinya sebagai penguat doa dan harapan.
Sementara itu, dalam tradisi kirab malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, arah perputaran kirab dilakukan mengelilingi karaton dengan arah kekanan atau searah jarum jam.
Dalam tradisi Jawa–Hindu kuno arah ini dikenal sebagai Pradaksina.
Pradaksina dimaknai bukan sekadar arah berjalan.
Melainkan simbol perjalanan hidup yang diharapkan terus “munggah” atau meningkat menuju derajat yang lebih luhur, baik secara lahiriah maupun batiniah.
Gerak memutar kekanan dipahami sebagai harmoni dengan putaran kosmis, perjalanan waktu, serta keselarasan manusia dengan tatanan alam semesta dan Kuasa Ilahi.
Karena itu, dalam kirab 1 Suro, langkah yang berjalan perlahan mengitari Keraton Kasunanan Surakarta bukan hanya ritual seremonial.
Melainkan perlambang laku spiritual: manusia menata diri, membersihkan batin, dan berharap memperoleh “slamet”, kenaikan martabat, kebijaksanaan, serta keselamatan dalam memasuki tahun yang baru. (*)
*) Pemerhati Budaya/Tosan Aji Solo
Editor : Tri Wahyu Cahyono