Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)
RADARSOLO.COM - Salah satu fungsi simbolik dari keris adalah sebagai simbol manusia.
Yaitu manusia yang berupaya menyelaraskan kehendaknya dengan kehendak Semesta dan Tuhan.
Pemahaman ini dapat dijumpai dalam simbolik Keris Puthut Sajen/ Puthut Sa-Ajian yang merupakan prototipe awal keris, yang menggambarkan manusia dalam keadaan sederhana, murni, dan menyatu dengan sumber kehidupan.
Karena dipandang sebagai perlambang manusia, maka dalam tradisi Jawa keris tidak diperlakukan semata-mata sebagai benda.
Melainkan diberi penghormatan sebagaimana manusia yang memiliki martabat dan kedudukan.
Oleh sebab itu, keris diberi nama sebagai identitas, diberi gelar atau kepangkatan sebagai bentuk penghormatan.
Diberi pakaian berupa warangka dan pendhok/kandelan, mendhak dan jejeran (hulu), dirias melalui proses pewarangan, serta dimandikan melalui tradisi jamasan.
Jamasan yang dilakukan setiap bulan Sura memiliki makna yang melampaui sekadar perawatan benda pusaka.
Dalam praktiknya, keris dimandikan dengan mengguyurkan air bunga.
Baca Juga: Fungsi Lubang Lantai Besalen: Ragam Simbol Kosmologis dalam Tradisi Tempa Keris Nusantara
Air dan Bunga di sini bukan sekadar sarana fisik, melainkan mengandung simbolisme yang mendalam.
Secara fisik, jamasan merupakan upaya membersihkan bilah keris dari debu, kotoran, sisa minyak, maupun karat yang mungkin muncul akibat pengaruh waktu dan lingkungan.
Perawatan ini menjaga kondisi logam agar tetap baik serta mempertahankan keindahan dan keterbacaan pamor pada bilah.
Namun secara nonfisik atau simbolik, jamasan merupakan perlambang pembersihan diri manusia.
Baca Juga: Mengenal Karakteristik Keris Tangguh Purwacarita yang Mengusung Konsep Kemanunggalan
Air melambangkan aliran rasa diri atau batin manusia yang menjadi sumber gerak kehidupan.
Air yang jernih melambangkan kejernihan hati, sedangkan bunga melambangkan kesucian, keharuman budi, serta nilai-nilai luhur yang semestinya menghiasi kehidupan manusia.
Dengan demikian, air bunga dalam jamasan dapat dimaknai sebagai simbol batin yang telah dibersihkan dan dihiasi oleh keluhuran akhlak serta kebijaksanaan.
Tradisi ini dilakukan pada 1 Suro, yaitu permulaan tahun baru Jawa.
Pergantian tahun dipandang sebagai saat yang tepat untuk melakukan perenungan dan pembaruan diri.
Sebagaimana bilah keris dibersihkan dari kotoran yang melekat selama setahun, manusia pun diajak membersihkan dirinya dari berbagai kotoran batin: kesombongan, kemarahan, iri hati, dengki, ketamakan, serta berbagai sikap yang menjauhkan dirinya dari keselarasan dengan Semesta dan Tuhan.
Baca Juga: Tradisi 1 Suro di Gunung Lawu Diprediksi Membludak, Dua Jalur Pendakian di Karanganyar Diawasi Ketat
Dalam simbolik tersebut, yang sesungguhnya dimandikan bukan hanya keris. Melainkan juga kesadaran manusia itu sendiri.
Bilah keris menjadi cermin bagi pemiliknya.
Ketika keris dijamas, manusia diingatkan untuk meninjau kembali perjalanan hidupnya selama setahun, memperbaiki kekurangan, serta menata kembali arah kehidupannya agar lebih selaras dengan kehendak Ilahi.
Jika dikaitkan dengan konsep Sa–Aji–An/Sajèn, jamasan menjadi simbol kembalinya manusia kepada hakikatnya :
- Sa sebagai kesatuan
- Aji sebagai ajaran atau pengetahuan luhur, dan
- An sebagai daya atau api ketuhanan yang menghidupi segala sesuatu.
Baca Juga: Dua Kubu Sama-sama Klaim Sah, Pemkot Diminta Mediasi Kirab 1 Suro
Melalui proses penyucian lahir dan batin tersebut, manusia diharapkan memasuki tahun yang baru dengan rasa yang lebih jernih, pikiran yang lebih bening, serta kesadaran yang lebih dekat kepada asal dan tujuan kehidupannya.
Dengan demikian, jamasan keris pada 1 Suro bukan sekadar kegiatan merawat pusaka, melainkan sebuah laku budaya yang mengajarkan bahwa sebagaimana keris perlu dibersihkan dan dirawat secara berkala.
Manusia pun perlu membersihkan hati dan batinnya agar tetap menjadi pribadi yang selaras dengan Semesta dan Daya Kuasa Tuhan. (*)
*) Pemerhati Budaya/Tosan Aji Solo
Editor : Tri Wahyu Cahyono