Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)
RADARSOLO.COM - Sebuah arca Phallic setinggi 1,98 meter memuat relief keris, bulan, bintang, matahari, serta bentuk-bentuk bola yang merepresentasikan benda-benda langit.
Maka dapat ditafsirkan bahwa keseluruhan simbol tersebut merupakan satu kesatuan narasi tentang pencarian manusia terhadap hakikat Ketuhanan pada berbagai fase peradaban.
Arca tersebut konon dahulu ada di puncak Candi Sukuh, sekarang arca tersebut berada di Museum Nasional di Jakarta.
Baca Juga: Membabar Keris Putut Sajen, Cikal Bakal Lahirnya Keris di Nusantara
Pada tahap paling awal, manusia berusaha memahami asal-usul kehidupan melalui apa yang dapat dilihat dan dialaminya secara langsung.
Kelahiran seorang bayi setelah terjadi aktivitas seksual antara laki-laki dan perempuan menimbulkan pemahaman sederhana bahwa alat kelamin laki-laki merupakan sumber penciptaan kehidupan.
Dari cara pandang inilah simbol Phallus atau Lingga awal dipahami sebagai lambang Sang Pencipta.
Bukan karena manusia menyembah organ tubuh itu sendiri, melainkan karena organ tersebut dianggap sebagai manifestasi daya pencipta yang menghadirkan kehidupan.
Dalam pandangan ini, Phallus menjadi simbol kekuatan penciptaan yang bekerja di alam semesta.
Baca Juga: Fungsi Lubang Lantai Besalen: Ragam Simbol Kosmologis dalam Tradisi Tempa Keris Nusantara
Seiring berkembangnya pengetahuan dan pengamatan manusia terhadap alam, perhatian kemudian tertuju kepada benda-benda langit.
Matahari yang memberi terang dan kehidupan, bulan yang mengatur siklus waktu, serta bintang-bintang yang menjadi penunjuk arah dipandang sebagai tanda-tanda keberadaan kekuatan agung yang mengatur jagat raya.
Dalam tradisi kuno dikenal istilah Jyotisha maknanya Tuhan Pengendali Cahaya, yang secara harfiah berkaitan dengan cahaya atau ilmu tentang benda-benda bercahaya.
Dalam pemahaman spiritual tertentu, cahaya dipandang sebagai simbol kehadiran dan kuasa Tuhan yang mengendalikan alam semesta.
Baca Juga: Fungsi Lubang Lantai Besalen: Ragam Simbol Kosmologis dalam Tradisi Tempa Keris Nusantara
Karena itu, berbagai peradaban menggunakan simbol-simbol langit untuk mengungkapkan gagasan tentang Ketuhanan.
Bulan sabit muncul pada ikonografi Dewa Siwa, bintang dan bulan sabit digunakan dalam tradisi Islam, Bintang Daud dikenal dalam tradisi Yahudi.
Sementara matahari menjadi simbol utama dalam berbagai peradaban kuno seperti Mesir dan Jepang.
Pada hakikatnya, benda-benda langit tersebut bukanlah Tuhan itu sendiri, melainkan simbol yang dipakai manusia untuk menggambarkan kebesaran, keteraturan, dan kuasa Sang Pencipta yang melampaui kemampuan manusia untuk digambarkan secara langsung.
Di sisi lain, hadirnya relief keris pada arca tersebut memberikan lapisan makna yang lebih dalam.
Dalam pemahaman Nusantara, khususnya pada konsep keris klasik, Bilah dengan Pesi-nya dipahami sebagai Lingga yang menyatu dengan bagian Gonja pada Keris atau Methuk pada Tombak sebagai Yoni.
Kesatuan Lingga-Yoni bukan sekadar simbol reproduksi biologis, melainkan lambang kesatuan daya kosmis yang melahirkan, memelihara, dan melebur kehidupan.
Ia menggambarkan keselarasan antara unsur aktif dan pasif, langit dan bumi, purusha dan prakerti, atau dalam bahasa yang lebih luas, kesatuan daya-daya Ketuhanan yang memungkinkan alam semesta tetap berlangsung.
Karena itu, keris dalam konsep Lingga-Yoni dapat dipandang sebagai simbol Ketuhanan.
Bukan dalam pengertian bahwa keris disembah, melainkan sebagai media simbolik untuk mengingat prinsip-prinsip ilahiah yang bekerja di alam semesta.
Keris menjadi representasi hubungan manusia dengan sumber kehidupan, sebagaimana Lingga-Yoni menjadi simbol kesatuan daya penciptaan yang berasal dari Tuhan.
Baca Juga: Mengenal Karakteristik Keris Tangguh Purwacarita yang Mengusung Konsep Kemanunggalan
Apabila seluruh unsur pada arca tersebut dibaca sebagai satu kesatuan, maka Phallus, keris, bulan, bintang, matahari, dan bola-bola Langit dapat dipahami sebagai jejak perkembangan cara manusia memahami Tuhan.
Dari simbol penciptaan biologis pada masa paling awal, berkembang menuju simbol keteraturan kosmos melalui benda-benda langit, hingga mencapai pemahaman yang lebih filosofis mengenai kesatuan daya penciptaan melalui konsep Lingga-Yoni.
Dengan demikian, arca tersebut dapat ditafsirkan sebagai monumen simbolik yang merekam perjalanan spiritual manusia dalam mencari, memahami, dan mengungkapkan keberadaan Sang Pencipta melalui bahasa simbol yang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kebudayaannya pada setiap zaman. (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono