RADARSOLO–Memasuki dunia tosan aji sering kali membuat seorang pemula gelap mata.
Lemari pajangan langsung ingin dipenuhi dengan keris-keris berluk indah, berpamor rumit seperti Blarak Ngirit, atau yang memiliki reputasi tempur yang garang.
Namun, dalam pakem tradisi Jawa yang adiluhung, ada sebuah konsensus tidak tertulis di antara para sesepuh dan kolektor senior: jangan pernah melompat sebelum fondasi Anda kuat.
Baca Juga: Keris sebagai Simbol Ketuhanan
Ada satu jenis keris yang wajib menjadi "pusaka pertama" atau keris piyandel pembuka sebelum seseorang berhak mengoleksi jenis keris lainnya.
Keris tersebut adalah keris dengan Pamor Wos Wutah (Beras Wutah), khususnya yang ber-dhapur Lurus (seperti Tilam Upih atau Brojol).
Mengapa harus kombinasi ini? Mengapa bukan keris luk sebelas yang gagah atau pamor Udan Mas yang berharga fantastis?
Jawabannya terletak pada kedalaman metafora kehidupan dan tahapan kedewasaan seorang manusia.
Filosofi Dhapur Tilam Upih: Lambang Wadah dan Keikhlasan
Sebelum membedah pamornya, mari kita bedah dhapur (bentuk bilah)-nya.
Para empu zaman dahulu menyarankan pemula untuk memiliki keris lurus ber-dhapur Tilam Upih.
Baca Juga: Membabar Keris Putut Sajen, Cikal Bakal Lahirnya Keris di Nusantara
Secara harfiah, Tilam Upih berarti tikar yang terbuat dari anyaman daun pelepah pisang.
Ini adalah simbol alas tidur yang paling sederhana; simbol dari sebuah rumah tangga yang baru dirintis, bersahaja, namun penuh dengan ketenteraman.
Secara makna, memilih Tilam Upih sebagai keris pertama berarti kita sedang belajar menata wadah batin.
Seorang kolektor atau manusia yang baru menapaki kehidupan harus memiliki keikhlasan, ketenangan, dan kesiapan mental untuk hidup prihatin sebelum diberi amanah yang lebih besar. Keris lurus adalah simbol keteguhan iman, pikiran yang lurus, dan fokus pada tujuan hidup tanpa terdistrasi oleh ego yang meliuk-liuk (luk).
Baca Juga: Hari Purbakala, Koleksi Museum Raya Pustaka dan Museum Keris Dipamerkan di SoloCFD
Makna Kedalaman Pamor Wos Wutah: "Sangu" Hidup Paling Dasar
Setelah wadahnya siap berupa bilah yang lurus dan bersahaja, barulah "isinya" digoreskan melalui Pamor Wos Wutah (Beras Wutah).
Secara visual, Wos Wutah adalah pamor tiban (pola yang muncul secara alami dari kepasrahan sang Empu saat menempa besi dan nikel).
Bentuknya berupa butiran-butiran putih acak yang tersebar merata di seluruh permukaan bilah, mirip beras yang tumpah dari takarannya.
Dari sisi makna dan spiritualitas Jawa, pamor ini memiliki kedalaman filosofi yang mutlak dibutuhkan manusia:
-
Simbol Ketahanan Pangan dan Kemakmuran: Beras adalah sumber kehidupan utama masyarakat Nusantara. Beras yang tumpah berserakan (wutah) tidak dimaknai sebagai pemborosan, melainkan sebagai simbol rezeki yang melimpah ruah hingga tak lagi muat ditampung di dalam wadahnya.
-
Doa Kenyamanan Hidup: Memiliki Wos Wutah sebagai keris pertama adalah bentuk doa dari sang Empu agar pemilik keris tersebut tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan. Ini adalah sangu (bekal) paling dasar bagi manusia untuk bertahan hidup sebelum mengejar jabatan atau kekuasaan.
-
Pengendali Ego (Peredam): Berbeda dengan pamor rekaan yang agresif, Wos Wutah bersifat adem (dingin) dan netral. Pamor ini memiliki kecocokan karakter (khasiat/energi) dengan hampir semua weton manusia. Bagi pemula yang belum bisa menyelaraskan energi spiritualnya dengan tosan aji, Wos Wutah adalah "sahabat" yang paling aman, tidak akan menuntut umbal/perawatan yang aneh-aneh, dan justru berfungsi meredam hawa panas dari ego sang pemilik.
Jembatan Menuju Koleksi Berikutnya
"Banyak kolektor pemula tumbang di tengah jalan, entah karena tertipu secara fisik atau 'lelah' secara mental karena langsung membeli keris berkarakter keras seperti Nogosastro atau Sabuk Inten," ujar Ki Ronggo Jati, kurator tosan aji saat ditemui di bursa keris Surabaya.
Baca Juga: Fungsi Lubang Lantai Besalen: Ragam Simbol Kosmologis dalam Tradisi Tempa Keris Nusantara
Menurutnya, memiliki Tilam Upih berpamor Wos Wutah bertindak sebagai proses magang spiritual. Ketika kebutuhan dasar hidup Anda (rezeki dan ketenteraman rumah tangga) sudah mapan dan stabil berkat filosofi Wos Wutah, barulah Anda dianggap "sah" dan siap secara mental untuk memegang keris dengan dhapur meliuk (luk) dan pamor yang lebih spesifik, seperti Junjung Derajat untuk karier atau Blarak Ngirit untuk kekuasaan.
Membeli keris pertama bukanlah pamer status sosial, melainkan cermin refleksi diri. Dan mulailah dari sebilah kesederhanaan yang membawa keberkahan hidup: Wos Wutah. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono