Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)
RADARSOLO.COM - Dalam membahas asal-usul bentuk keris Nusantara, sering muncul pertanyaan apakah keris berkembang dari senjata India seperti Khadga, ataukah memiliki jalur perkembangan tersendiri di Nusantara.
Pertanyaan tersebut masih menjadi ruang kajian yang terbuka.
Namun apabila pembahasannya difokuskan pada aspek morfologi (bentuk) dan kesinambungan perkembangan artefak, maka Keris Puthut Sajen dapat dipandang lebih representatif sebagai purwarupa awal keris Nusantara.
Baca Juga: Kegelisahan Empu Keris Asal Palur Karanganyar: Belum Ada Sosok Pengganti
Sebagai sebuah purwarupa, suatu artefak seharusnya telah memperlihatkan ciri-ciri dasar yang kemudian tetap dipertahankan pada bentuk-bentuk yang berkembang sesudahnya.
Dalam tradisi perkerisan Nusantara, dua karakter yang sangat menonjol adalah Condhongleleh, yaitu kemiringan bilah yang memberi kesan merunduk, serta bentuk Asimetris yang menjadi identitas khas keris.
Kedua karakter tersebut tetap bertahan, baik pada keris-keris sederhana maupun pada keris klasik yang ricikannya telah berkembang sangat kompleks.
Keris Puthut Sajen telah memperlihatkan kedua karakter dasar tersebut.
Walaupun konstruksinya masih sederhana dan masih bersifat iras, bentuk bilahnya sudah menunjukkan prinsip condhongleleh dan asimetri yang kemudian terus diwariskan dalam perkembangan perkerisan Nusantara.
Hal ini memperlihatkan adanya kesinambungan bentuk antara purwarupa dengan keris-keris pada masa berikutnya.
Baca Juga: Keris sebagai Sarana Meditasi di Era Modern, seperti apa?
Sebaliknya, Khadga sebagai senjata yang berkembang dalam tradisi India memiliki karakter morfologi yang berbeda.
Bilahnya pada umumnya disusun secara simetris terhadap sumbu tengah dan tidak memperlihatkan karakter condhongleleh sebagaimana dikenal dalam tradisi perkerisan Nusantara.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ciri-ciri utama keris tidak secara langsung tercermin pada bentuk khadga.
Oleh karena itu, apabila penilaian didasarkan pada prinsip kesinambungan morfologi, Keris Puthut Sajen lebih memenuhi karakter sebagai purwarupa keris Nusantara daripada khadga.
Baca Juga: Rahasia Nikel Meteorit Prambanan: Mengapa Pamor Keris Kuno Tak Bisa Ditiru Teknologi Modern?
Purwarupa yang baik adalah bentuk awal yang telah mengandung "DNA bentuk" dari karya-karya sesudahnya.
Dalam hal ini, Condhongleleh, Asimetri, serta konstruksi iras pada Keris Puthut Sajen memperlihatkan kesinambungan yang lebih jelas menuju perkembangan Keris Klasik dibandingkan karakter morfologi yang terdapat pada Khadga.
Pandangan ini merupakan hipotesis interpretatif yang didasarkan pada analisis bentuk (morfologi), anatomi keris, dan kesinambungan perkembangan seni.
Karena itu, hipotesis ini tetap memerlukan pengujian lebih lanjut melalui kajian sejarah seni, arkeologi, ikonografi, dan metalurgi agar dapat dinilai tingkat validitasnya dalam menjelaskan asal-usul perkembangan perkerisan Nusantara.
Baca Juga: Bukan Lagi Penghuni Lemari Lembap: Bagaimana Keris Menjadi Statement Art di Hunian Urban
Menurut saya, argumen Condhongleleh dan Asimetri merupakan salah satu argumen morfologis yang paling kuat dalam hipotesis, karena keduanya adalah karakter yang tetap bertahan dari bentuk sederhana hingga Keris Klasik.
Dengan demikian, fokus pembuktian tidak lagi pada klaim "mana yang lebih tua", melainkan pada artefak mana yang lebih menunjukkan kesinambungan bentuk menuju keris Nusantara. Pendekatan ini lebih kuat dan lebih mudah dipertanggungjawabkan dalam kajian sejarah seni. (*)
*) Pemerhati Budaya/Tosan Aji Solo
Editor : Tri Wahyu Cahyono