RADARSOLO.COM – Memasuki musim seminar proposal dan seminar hasil penelitian, pengeluaran mahasiswa tak hanya bertambah untuk kebutuhan kuliah. Sebagian juga mulai menyisihkan uang khusus demi membeli bunga, makanan ringan, banner, atau hadiah kecil untuk teman yang sedang menjalani sidang. Ada yang memilih berburu bunga di pasar, ada pula yang patungan agar biaya tidak terlalu membebani.
Lorong fakultas yang biasanya dipenuhi mahasiswa usai seminar proposal maupun seminar akhir skripsi, kini tak hanya menjadi tempat berfoto bersama. Buket bunga, boneka, kue, hingga rangkaian balon turut menghiasi momen selebrasi sebagai bentuk ucapan selamat kepada teman yang baru menyelesaikan sidang.
Baca Juga: Kalau Belum Pernah Dengar Kata-Kata Ini, Kamu Nggak Sendirian
Fenomena yang belakangan dikenal sebagai kondangan akademik itu mulai marak di kalangan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS).
Di balik berbagai hadiah yang dibawa, mahasiswa mengaku tidak sedang berlomba memberikan kado terbaik. Sebagian besar justru memaknai buah tangan sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan teman mereka.
“Yang penting datang.” Kalimat itu menjadi jawaban hampir semua mahasiswa ketika ditanya soal hadiah dalam kondangan akademik.
Namun di balik jawaban tersebut, muncul perasaan lain yang diam-diam dirasakan banyak mahasiswa: sungkan jika harus menghadiri seminar proposal atau seminar hasil teman tanpa membawa buah tangan.
Baca Juga: Healing Sambil Berburu Buku? Ini 4 Destinasi Wisata yang Wajib Dikunjungi di Solo
Mahasiswa angkatan 2022, Naswa, menjadi salah satu yang kerap mengikuti ‘tradisi’ tersebut. Ia mengaku selalu mengusahakan membawa hadiah ketika menghadiri seminar proposal maupun seminar hasil teman-temannya, baik teman satu angkatan, organisasi, maupun kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN).
"Aku sendiri selalu mengusahakan buat bawa hadiah. Hitung-hitung mengapresiasi usaha mereka. Toh, aku juga jadi saksi perjuangan beberapa temenku, jadi memang pengin ngasih apresiasi dan rasa lega aja ke mereka," ujarnya.
Saat menjalani seminar proposal dan seminar hasil, Naswa juga merasakan hal serupa. Banyak teman dari berbagai lingkungan pertemanan datang memberikan dukungan.
Meski begitu, ia menegaskan tidak pernah berharap mereka membawa hadiah.
"Jujur, aku enggak masalah kalau temenku datang tanpa bawa apa pun. Aku udah cukup lega dan senang aja udah selesai sidang. Kalau mereka datang pun, aku suka aja sekadar foto bareng buat kenang-kenangan," imbuhnya.
Pandangan serupa disampaikan Salsa, mahasiswa Angkatan 2023 yang telah beberapa kali menghadiri seminar proposal maupun seminar hasil milik teman dan kakak tingkat. Menurutnya, hadiah yang diberikan tidak harus bernilai mahal.
"Aku usahain tetap bawa buah tangan, meskipun enggak yang mahal-mahal. Kadang cukup bunga atau jajan kecil buat lucu-lucuan," ungkapnya.
"Ngasih hadiah enggak wajib kok. Budaya kayak gini mungkin buat beberapa orang bisa jadi beban karena kita juga keluar biaya buat print, penelitian, atau kebutuhan kuliah lainnya," imbuh Salsa.
Sementara itu, mahasiswa angkatan 2023 lainnya, Canda, mengaku telah menghadiri lebih dari sepuluh seminar, mulai dari seminar magang, seminar proposal, hingga seminar hasil. Namun, ia tidak selalu membawa hadiah di setiap kesempatan.
Menurutnya, hadiah biasanya diberikan kepada teman yang memang memiliki hubungan dekat.
Untuk teman organisasi atau kenalan yang tidak terlalu akrab, ia tetap datang memberikan dukungan meski tanpa membawa apa pun.
"Sebenarnya ngerasa enggak enak karena udah dikabari, tapi lagi enggak ada budget juga. Jadi ya datang aja dan memberi ucapan selamat," ucapnya.
Meski mengaku terkadang merasa sungkan datang tanpa hadiah, Canda menilai budaya tersebut tetap memiliki makna positif karena menjadi cara mahasiswa mengapresiasi perjuangan teman menyelesaikan tahapan akademik.
"Aku sih kalau temenku datang tanpa bawa hadiah ya enggak apa-apa. Yang penting datang. Hadiah itu bonus aja," tuturnya.
Beragam pengalaman tersebut menunjukkan bahwa di balik ramainya fenomena kondangan akademik, mahasiswa UNS tidak memaknai hadiah sebagai sebuah kewajiban. Sebaliknya, buah tangan menjadi simbol perhatian yang diberikan sesuai kemampuan masing-masing. Di tengah rasa sungkan yang masih dirasakan sebagian mahasiswa, kehadiran untuk menemani teman melewati salah satu momen penting dalam perkuliahan tetap menjadi bentuk apresiasi yang paling berarti.
Editor : Kabun Triyatno