RADARSOLO.COM - "Jadi kita ini apa?"
Kalimat tersebut mungkin menjadi salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dalam hubungan anak muda saat ini. Menariknya, jawaban atas pertanyaan itu tidak lagi sesederhana "teman" atau "pacar". Seiring perkembangan zaman, muncul berbagai istilah baru untuk menggambarkan hubungan yang berada di antara keduanya, mulai dari TTM, HTS, PDKT, hingga situationship.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti perubahan cara masyarakat memaknai hubungan romantis. Istilah-istilah yang dahulu terasa asing kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, terutama di media sosial.
Baca Juga: POV, FOMO, OOTD, FYI: Kamu Yakin Tahu Artinya?
Pada awal 2000-an, masyarakat Indonesia lebih akrab dengan istilah “Teman Tapi Mesra (TTM)”. Istilah ini menggambarkan dua orang yang masih berstatus teman, tetapi memiliki kedekatan emosional maupun perlakuan yang menyerupai pasangan. Popularitas TTM semakin meningkat setelah digunakan dalam lagu, sinetron, hingga berbagai acara televisi sehingga menjadi bagian dari budaya populer.
Memasuki dekade berikutnya, muncul istilah “Hubungan Tanpa Status (HTS)”. Berbeda dengan TTM yang masih menonjolkan identitas sebagai teman, HTS lebih menekankan ketidakjelasan status hubungan. Dua orang dapat saling memberi perhatian, berkencan, bahkan dipersepsikan sebagai pasangan tetapi tidak pernah menyepakati komitmen secara resmi. Fenomena ini kemudian banyak dibahas dalam berbagai penelitian mengenai relasi anak muda di Indonesia.
Di sisi lain, “PDKT (Pendekatan)” sebenarnya memiliki makna yang berbeda. PDKT bukan jenis hubungan, melainkan tahap saling mengenal sebelum seseorang memutuskan menjalin hubungan yang lebih serius. Meski demikian, batas antara PDKT dan HTS sering kali menjadi kabur ketika proses pendekatan berlangsung terlalu lama tanpa kejelasan arah hubungan.
Baca Juga: Tak Tahu Isinya, Blind Box Tetap Diburu. Apa yang Membuatnya Menarik?
Belakangan, media sosial memperkenalkan istilah baru, yaitu “situationship”. Kata ini berasal dari gabungan situation dan relationship, yang merujuk pada hubungan romantis tanpa label atau komitmen yang jelas. Kamus Oxford bahkan memasukkan situationship sebagai salah satu kata yang paling banyak dibicarakan pada 2023. Di TikTok, jutaan unggahan menggunakan tagar #situationship, menunjukkan bahwa istilah ini telah menjadi bagian dari budaya digital generasi muda.
Sekilas, HTS dan situationship memang tampak sama. Akan tetapi, keduanya memiliki nuansa yang sedikit berbeda. HTS merupakan istilah yang lahir dan berkembang di Indonesia, sedangkan situationship merupakan istilah global yang lebih luas cakupannya. Hubungan ini tidak hanya menggambarkan kedekatan tanpa status, tetapi juga mencerminkan pola relasi modern yang sengaja dibiarkan tanpa definisi maupun komitmen.
Baca Juga: Hipdut, Saat Hip Hop dan Dangdut Bertemu Menjadi Musik Favorit
Belakangan, muncul pula ungkapan baru seperti "teman lebih dikit". Frasa ini merupakan permainan bahasa yang menyiratkan hubungan yang lebih dari teman, tetapi belum bisa disebut sebagai pasangan. Istilah tersebut banyak digunakan warganet sebagai bentuk humor sekaligus cara baru untuk menamai hubungan yang sulit didefinisikan.
Munculnya beragam istilah tersebut menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya terjadi pada bahasa tetapi juga pada cara generasi muda memahami hubungan romantis. Jika dahulu hubungan cenderung dipahami secara sederhana, teman, PDKT, lalu pacaran, kini terdapat berbagai kategori yang menggambarkan kedekatan emosional tanpa harus memiliki status resmi.
Media sosial menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran istilah-istilah tersebut. Konten di TikTok, X, maupun Instagram memungkinkan kosakata baru menyebar lintas negara dalam waktu singkat. Tak heran jika istilah berbahasa Inggris seperti situationship kini digunakan berdampingan dengan istilah lokal seperti HTS atau TTM.
Pada akhirnya, perubahan istilah tersebut memperlihatkan bahwa bahasa selalu mengikuti dinamika kehidupan sosial. TTM, HTS, PDKT, situationship, hingga "teman lebih dikit" bukan sekadar kata-kata gaul, melainkan cerminan bagaimana setiap generasi mendefinisikan kedekatan, komitmen, dan hubungan romantis sesuai dengan zamannya.
Editor : Kabun Triyatno