Oleh: Ady Sulistyono D, SSos*)
RADARSOLO.COM - Canthang Balung di Kasunanan Surakarta dan Edan-edanan di Kasultanan Yogyakarta memperlihatkan sejumlah kesamaan fungsi yang menarik.
Keduanya tampil dengan penampilan yang tidak lazim, bahkan cenderung lucu, ganjil, dan "melampaui kewajaran".
Namun di balik penampilan tersebut tersimpan fungsi ritual yang lebih dalam daripada sekadar hiburan.
Canthang Balung dalam tradisi Surakarta dikenal sebagai figur berjenggot putih, bertopi tinggi, berpakaian mencolok, bertingkah jenaka, dan berada di barisan depan berbagai prosesi keraton.
Dalam tradisi lisan keraton, mereka pernah berperan mengawal pembukaan wilayah untuk memindahkan entitas yang tidak kasat mata yg menguasai wilayah Kedhung Lumbu yang kemudian menjadi lokasi Keraton Surakarta Hadiningrat.
Pada perkembangan berikutnya mereka menjadi pengiring upacara, pengawal gunungan Grebeg, sekaligus pelawak keraton yang menyampaikan kritik sosial melalui humor di era Pakubuwono (PB) X.
Sementara itu, Edan-edanan di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga menampilkan sosok-sosok berpenampilan aneh.
Wajah dicoreng-coreng, pakaian acak-acakan, serta gerak-gerik yang dibuat lucu dan tidak biasa.
Dalam berbagai upacara keraton, terutama yang bersifat sakral seperti Dhaup Ageng, mereka berfungsi sebagai penolak bala dan pengusir gangguan yang tidak diinginkan.
Baca Juga: Kegelisahan Empu Keris Asal Palur Karanganyar: Belum Ada Sosok Pengganti
Penampilan yang "edan" dipercaya dapat mengecoh atau menakut-nakuti kekuatan negatif sehingga tidak mengganggu jalannya upacara.
Jika dicermati, kedua tradisi tersebut memperlihatkan pola simbolik yang hampir sama.
Sosok yang tampak lucu, ganjil, bahkan seperti orang gila justru ditempatkan pada ruang-ruang sakral dan berada di garis depan prosesi.
Dalam banyak kebudayaan tradisional, figur semacam ini sering berfungsi sebagai "penjaga ambang" (liminal guardian).
Yaitu tokoh yang mengawal peralihan dari satu keadaan ke keadaan lain: dari hutan menjadi keraton, dari belum menikah menjadi menikah, dari ruang biasa menjadi ruang sakral, atau dari keadaan kacau menuju keadaan tertib.
Menariknya, arkeolog Belanda Willem Frederik Stutterheim pernah mengemukakan bahwa Canthang Balung kemungkinan memiliki akar yang jauh lebih tua.
Baca Juga: Keris sebagai Sarana Meditasi di Era Modern, seperti apa?
Dalam penelitiannya terhadap relief Candi Borobudur, ia menemukan figur brahmana berjenggot dan berkumis yang digambarkan sedang menari dalam suatu prosesi keagamaan.
Menurut Stutterheim, figur tersebut dapat dipahami sebagai pendahulu dari Canthang Balung yang kemudian bertransformasi dalam tradisi keraton Jawa.
Bila gagasan Stutterheim ini dijadikan titik tolak, maka Canthang Balung dan Edan-edanan dapat dipandang sebagai sisa-sisa tradisi ritual yang sangat tua.
Pada masa awal, figur tersebut mungkin merupakan pemimpin ritual atau pendeta yang bertugas membersihkan ruang upacara, mengawal persembahan suci, dan menjaga keteraturan kosmis selama berlangsungnya prosesi keagamaan.
Seiring perubahan agama, politik, dan budaya di Jawa, sosok pendeta ritual tersebut mengalami transformasi bentuk.
Unsur kesakralannya tetap dipertahankan, tetapi tampil dalam wujud yang lebih dekat dengan masyarakat, yakni melalui humor, tarian, tingkah laku jenaka, dan kostum yang tidak biasa.
Dalam kerangka ini, Canthang Balung dan Edan-edanan bukan sekadar pelawak upacara.
Mereka dapat dipahami sebagai pewaris figur ritual kuno yang berfungsi menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia tak kasatmata.
Tawa, kelucuan, dan keganjilan yang mereka tampilkan bukan semata hiburan.
Baca Juga: Bukan Lagi Penghuni Lemari Lembap: Bagaimana Keris Menjadi Statement Art di Hunian Urban
Melainkan bagian dari mekanisme simbolik untuk menetralkan kekacauan, menolak gangguan, serta mengawal berlangsungnya peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan keraton.
Dengan demikian, apabila mengikuti interpretasi Stutterheim, terdapat kemungkinan adanya garis kesinambungan budaya yang panjang: dari figur brahmana penari pada relief Borobudur, berkembang menjadi tokoh-tokoh ritual keraton seperti Canthang Balung di Surakarta dan Edan-edanan di Yogyakarta.
Bentuk luarnya berubah mengikuti zaman, tetapi fungsi dasarnya sebagai pengawal prosesi suci, penolak bala, dan penjaga keteraturan simbolik tampaknya tetap bertahan hingga sekarang. (*)
*) Pemerhati Budaya/Tosan Aji Solo
Editor : Tri Wahyu Cahyono