RADARSOLO.COM - Hampir setiap hari, jutaan orang mengetik menggunakan susunan tombol QWERTY di laptop, komputer, maupun ponsel. Meski begitu, tidak sedikit yang bertanya-tanya mengapa huruf pada keyboard tidak disusun berdasarkan urutan alfabet agar lebih mudah dipelajari.
Ternyata, susunan QWERTY yang digunakan hingga saat ini memiliki sejarah panjang yang bermula dari mesin ketik pada abad ke-19.
Nama QWERTY diambil dari enam huruf pertama pada baris paling atas keyboard, yaitu Q, W, E, R, T, dan Y.
Tata letak ini pertama kali dikembangkan oleh Christopher Latham Sholes, seorang penemu asal Amerika Serikat yang merancang mesin ketik modern pada awal tahun 1870-an.
Pada masa itu, mesin ketik bekerja menggunakan batang logam yang akan menghantam pita tinta untuk mencetak huruf di atas kertas.
Baca Juga: OTT Bupati Sukoharjo Jadi Alarm, Wali Kota Solo Respati Ardi Ajak Kawal Pemerintahan Bersih
Ketika dua batang huruf yang letaknya berdekatan ditekan secara berurutan dengan sangat cepat, keduanya berpotensi saling bertabrakan atau macet. Kondisi ini membuat proses mengetik menjadi terhambat.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Sholes menyusun ulang posisi huruf-huruf yang sering digunakan secara berdekatan dalam bahasa Inggris.
Dengan menempatkan kombinasi huruf tertentu pada posisi yang lebih berjauhan, kemungkinan batang logam saling bertabrakan dapat dikurangi sehingga mesin ketik bekerja lebih lancar.
Namun, sejumlah peneliti menilai alasan di balik lahirnya QWERTY tidak sesederhana itu. Selain mempertimbangkan aspek mekanis, tata letak tersebut juga diduga dirancang agar nyaman digunakan operator telegraf dan mudah dipelajari oleh juru ketik profesional pada masanya.
Hingga kini, tidak ada satu penjelasan tunggal yang benar-benar disepakati mengenai alasan pasti lahirnya susunan QWERTY.
Meski teknologi mesin ketik telah lama ditinggalkan, susunan QWERTY tetap bertahan hingga era komputer dan telepon pintar.
Salah satu penyebabnya adalah efek standar. Karena jutaan orang telah mempelajari tata letak tersebut dan produsen perangkat menggunakannya secara luas, beralih ke susunan baru justru akan membutuhkan biaya pelatihan dan penyesuaian yang besar.
Padahal, beberapa tata letak alternatif sebenarnya telah dikembangkan. Salah satunya adalah keyboard Dvorak yang diperkenalkan pada tahun 1930-an.
Tata letak ini dirancang agar huruf yang paling sering digunakan berada di baris utama (home row), sehingga jari tidak perlu bergerak terlalu jauh saat mengetik. Selain Dvorak, terdapat pula Colemak yang menjadi pilihan sebagian pengguna karena dianggap lebih mudah dipelajari tanpa mengubah posisi seluruh tombol.
Meski demikian, hingga kini belum ada tata letak yang mampu menggantikan dominasi QWERTY. Kebiasaan pengguna, kompatibilitas perangkat, serta standar yang telah digunakan selama lebih dari satu abad membuat QWERTY tetap menjadi pilihan utama di berbagai sistem operasi dan perangkat digital.
Jadi, jika selama ini susunan keyboard terasa acak, sebenarnya ada alasan historis di baliknya. Tata letak QWERTY bukan muncul tanpa perhitungan, melainkan merupakan hasil perkembangan teknologi mesin ketik yang kemudian bertahan karena telah menjadi standar global. (*)
Meski lahir lebih dari 150 tahun lalu, warisan desain tersebut masih menemani aktivitas mengetik masyarakat modern hingga saat ini.
Editor : Tri Wahyu Cahyono