Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Yakin Ingatannya Benar? Yuk Kenali Apa Itu Mandela Effect

Inayah Choirunisa • Minggu, 12 Juli 2026 | 13:40 WIB
Ilustrasi: Today Show
Ilustrasi: Today Show

RADARSOLO.COM - "Pikachu dulu ujung ekornya berwarna hitam, kan?” atau "Monopoly Man pakai monokel."

Kalimat-kalimat seperti ini kerap muncul di media sosial dan mengundang ribuan komentar dari warganet yang merasa memiliki ingatan yang sama. 

Namun, setelah diperiksa kembali, banyak di antaranya ternyata tidak pernah benar-benar ada. Fenomena ketika banyak orang memiliki ingatan yang sama, tetapi keliru, dikenal sebagai Mandela Effect.

Baca Juga: Berawal dari Dapur Rumah, Brownies Ketan Sidoarjo Kini Sukses Tembus Pasar Australia hingga Turki

Istilah Mandela Effect pertama kali diperkenalkan pada 2009 oleh penulis asal Amerika Serikat, Fiona Broome. Ia menyadari banyak orang percaya bahwa mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, meninggal di penjara pada era 1980-an. 

Faktanya, Mandela dibebaskan pada 1990 dan meninggal dunia pada 2013. Dari pengalaman tersebut, Broome menggunakan istilah Mandela Effect untuk menggambarkan kondisi ketika sekelompok orang memiliki ingatan yang sama, tetapi tidak sesuai dengan fakta.

Baca Juga: Tercepat di Practice Moto3 Jerman 2026, Veda Ega Pratama Buka Peluang Start dari Barisan Depan

Dalam psikologi, fenomena ini dijelaskan melalui konsep false memory atau ingatan palsu. Berbeda dengan anggapan bahwa memori bekerja seperti kamera yang merekam setiap peristiwa secara utuh, para peneliti menjelaskan bahwa ingatan manusia bersifat rekonstruktif. 

Artinya, setiap kali seseorang mengingat suatu peristiwa, otak sebenarnya menyusun kembali informasi berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan berbagai informasi lain yang pernah diterima.

Baca Juga: Bosan Scroll Shorts? Ini 7 Channel YouTube Travel yang Bikin Serasa Keliling Dunia

Karena itu, ingatan dapat berubah atau bahkan terdistorsi seiring waktu.

Ketika seseorang berulang kali melihat informasi yang sama di media sosial atau mendengar orang lain mengingat suatu hal dengan cara tertentu, otak dapat menganggap informasi tersebut sebagai bagian dari ingatan pribadi. 

Akibatnya, banyak orang merasa sangat yakin bahwa mereka mengingat sesuatu dengan benar, meskipun faktanya berbeda.

Meski sering dikaitkan dengan teori konspirasi seperti dimensi paralel atau perubahan realitas, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

Sebaliknya, sebagian besar psikolog menjelaskan Mandela Effect sebagai bagian dari cara kerja memori manusia yang memang tidak selalu akurat.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa ingatan bukanlah rekaman yang tersimpan sempurna di dalam otak. 

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk memverifikasi fakta menjadi semakin penting.

Jadi, ketika suatu unggahan membuat kita yakin pernah melihat logo, tokoh, atau lirik tertentu, tidak ada salahnya memeriksa kembali sumber aslinya.

Bisa jadi, yang sedang bekerja bukanlah perubahan realitas, melainkan cara otak menyusun kembali sebuah kenangan.

Editor : Kabun Triyatno
#mandela effect #false memory #informasi #psikologi