RADARSOLO.COM - "Brain rot." Istilah ini semakin sering muncul di kolom komentar media sosial, video TikTok, hingga percakapan sehari-hari di kalangan Generasi Z dan Generasi Alpha.
Ungkapan tersebut biasanya digunakan saat seseorang merasa terlalu sering mengonsumsi konten yang dianggap tidak bermanfaat, tetapi justru sulit berhenti menontonnya.
Baca Juga: Kenapa Lagu Bisa Muter Terus di Kepala? Ternyata Ada Fenomena Bernama Earworm
Meski terdengar menyeramkan, brain rot bukanlah istilah medis. Frasa ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa pikirannya dipenuhi oleh konten-konten internet yang ringan, repetitif, atau absurd hingga memengaruhi fokus dan kebiasaan sehari-hari.
Dalam penggunaannya di media sosial, brain rot sering kali dipakai secara bercanda atau sebagai bentuk kritik terhadap kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk berselancar di dunia digital.
Istilah brain rot sebenarnya bukanlah istilah baru. Frasa ini telah muncul sejak abad ke-19 dalam karya sastra untuk menggambarkan penurunan kualitas cara berpikir akibat konsumsi bacaan yang dianggap kurang bermutu. Namun, maknanya bergeser seiring perkembangan internet.
Kini, brain rot lebih sering dikaitkan dengan kebiasaan menonton video pendek secara terus-menerus, mengikuti meme yang cepat berganti, atau menghafal berbagai istilah dan tren yang viral di media sosial.
Fenomena ini tidak lepas dari cara kerja platform digital saat ini. Aplikasi seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menyajikan aliran konten tanpa henti melalui sistem infinite scroll.
Baca Juga: Bosan Scroll Shorts? Ini 7 Channel YouTube Travel yang Bikin Serasa Keliling Dunia
Dalam waktu singkat, pengguna dapat berpindah dari satu video ke video lain dengan topik yang sangat beragam. Akibatnya, otak terus menerima rangsangan baru tanpa banyak waktu untuk memproses informasi secara mendalam.
Tak heran jika banyak orang merasa sulit berhenti menggulir layar meski sebenarnya tidak sedang mencari informasi tertentu. Konten berdurasi singkat yang dikemas menarik membuat perhatian terus berpindah.
Meski begitu, menggunakan istilah brain rot tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan pada otaknya. Sebagian besar pengguna media sosial memakainya sebagai ungkapan humor untuk menggambarkan betapa seringnya mereka terpapar tren internet.
Namun, jika kebiasaan mengonsumsi konten digital mulai mengganggu aktivitas belajar, bekerja, atau beristirahat, hal tersebut dapat menjadi pengingat untuk mengatur kembali waktu penggunaan media sosial.
Editor : Kabun Triyatno