Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berkembang melalui penambahan kosakata baru, tetapi juga mengalami pergantian dalam cara masyarakat berkomunikasi.
Baca Juga: MPLS Dulu Disebut MOS, Kok Berubah?
Layaknya tren fesyen atau musik, pilihan kata pun memiliki siklus popularitas. Ada kata yang bertahan lama, ada pula yang perlahan ditinggalkan karena dianggap tidak lagi merepresentasikan zamannya.
Jika mengingat kembali era forum internet seperti Kaskus pada akhir 2000-an hingga awal 2010-an, sapaan "agan" dan "gan" menjadi ciri khas percakapan antaranggota. Sementara itu, kata "sob", "bro", "sist", hingga "coy" juga banyak digunakan untuk menunjukkan kedekatan dalam pergaulan, baik di dunia maya maupun kehidupan sehari-hari.
Kini, sapaan tersebut mulai jarang terdengar di kalangan remaja dan dewasa muda. Sebagai gantinya, muncul berbagai sapaan baru seperti "bestie", "ges", "kak", "bang", "broki", atau bahkan cukup menyebut nama tanpa tambahan sapaan.
Pergantian ini terjadi secara alami seiring perubahan budaya digital, tren media sosial, serta munculnya generasi pengguna internet yang baru.
Bahasa memang terus berubah mengikuti masyarakat penuturnya. Setiap generasi cenderung menciptakan atau memilih kosakata yang dianggap lebih sesuai dengan identitas mereka.
Ketika sebuah kata terlalu lama digunakan atau lekat dengan generasi sebelumnya, kata tersebut perlahan kehilangan daya tarik dan mulai dianggap "tua", meskipun maknanya tidak berubah.
Media sosial menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan tersebut. Dulu, forum diskusi dan Facebook banyak memengaruhi gaya berbahasa warganet.
Kini, TikTok, Instagram, hingga X menghadirkan tren baru yang berganti dalam hitungan minggu atau bahkan hari. Kata yang sedang populer dapat menyebar dengan sangat cepat, tetapi juga bisa menghilang ketika muncul tren berikutnya.
Menariknya, tidak semua kata benar-benar punah. Beberapa justru mengalami perubahan fungsi. Misalnya, sapaan "gan" terkadang masih digunakan, tetapi lebih sering muncul sebagai bentuk nostalgia atau bahkan sengaja dipakai untuk memberi kesan lucu dan lawas.
Hal serupa juga terjadi pada kata "sob" yang kini lebih banyak digunakan secara ironis atau bercanda dibandingkan sebagai sapaan sehari-hari.
Perubahan kosakata juga berkaitan dengan pembentukan identitas. Pilihan kata yang digunakan seseorang dapat memberi petunjuk mengenai lingkungan pergaulan, usia, hingga platform digital yang sering mereka gunakan. Karena itu, tidak jarang orang menyesuaikan gaya bahasanya agar terasa lebih akrab dengan kelompok tertentu atau mengikuti tren yang sedang berkembang.
Meski demikian, tidak ada istilah benar atau salah dalam menggunakan sapaan-sapaan tersebut.
Bahasa pada dasarnya bersifat dinamis. Kata yang hari ini dianggap ketinggalan zaman bisa saja kembali populer beberapa tahun mendatang, terutama ketika tren nostalgia kembali muncul di media sosial.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perubahan budaya. Dari "agan" hingga "bestie", setiap sapaan menyimpan cerita tentang zamannya sendiri.
Jadi, jika suatu hari mendengar seseorang masih menyapa dengan "gan" atau "sob", mungkin bukan karena mereka tidak mengikuti tren, melainkan karena setiap generasi memang memiliki bahasa yang menjadi ciri khasnya.
Editor : Kabun Triyatno