Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Baru 10 Menit Nonton, Tangan Sudah Cari HP? Ini Penjelasan Psikologinya

Inayah Choirunisa • Selasa, 14 Juli 2026 | 13:20 WIB
Gambar: Pinterest
Gambar: Pinterest

RADARSOLO.COM - Pernah berniat menikmati film favorit, tetapi baru berjalan sekitar 10 menit tangan sudah refleks mengambil ponsel? Awalnya hanya ingin melihat notifikasi, membalas satu pesan, atau sekadar mengecek media sosial. Tanpa disadari, perhatian pun terbagi. Adegan penting terlewat, alur cerita menjadi sulit diikuti, dan pengalaman menonton terasa kurang memuaskan.

Kebiasaan ini ternyata bukan hanya dialami oleh segelintir orang. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena second screen atau penggunaan gawai lain saat menonton semakin umum terjadi. Banyak orang menonton film atau serial sambil membuka media sosial, membalas pesan, bahkan berbelanja daring. Aktivitas tersebut membuat layar ponsel seolah menjadi "teman kedua" saat menikmati hiburan.

Baca Juga: Prediksi Skor Perancis vs Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026: Les Bleus atau La Roja yang Melaju ke Final?

Lalu, mengapa kebiasaan ini begitu sulit dihentikan?

Salah satu penyebabnya adalah cara kerja sistem penghargaan (reward system) di dalam otak. Setiap kali menerima notifikasi, menemukan unggahan baru, atau memperoleh informasi yang menarik, otak melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berperan dalam menimbulkan rasa senang dan memotivasi seseorang untuk mengulangi perilaku tersebut.

Karena notifikasi bersifat tidak dapat diprediksi, otak terus terdorong untuk memeriksa ponsel dengan harapan mendapatkan sesuatu yang baru.

Fenomena ini dikenal sebagai variable reward, yakni pola pemberian "hadiah" yang tidak menentu. Konsep tersebut juga dijelaskan dalam psikologi perilaku sebagai salah satu mekanisme yang membuat seseorang terus mengulang suatu tindakan.

Baca Juga: Kisah Shava Warangga, Sprinter Asal Kota Solo yang Menembus Kejuaraan Dunia Atletik U-20

Ketika setiap membuka ponsel ada kemungkinan menemukan pesan baru, video menarik, atau kabar terbaru, otak menjadi terbiasa mencari sensasi tersebut berulang kali.

Selain itu, kebiasaan berpindah perhatian secara cepat juga memengaruhi kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi. Psikolog kognitif menjelaskan bahwa manusia sebenarnya tidak benar-benar mampu melakukan multitasking. Yang terjadi adalah task switching, yaitu otak berpindah dari satu tugas ke tugas lain dalam waktu singkat.

Meskipun berlangsung hanya beberapa detik, perpindahan ini membutuhkan energi mental dan membuat konsentrasi menjadi terpecah.

Akibatnya, ketika seseorang menonton film sambil sesekali membuka ponsel, otak harus terus berganti fokus antara memahami jalan cerita dan memproses informasi di layar ponsel.

Hal ini membuat pengalaman menonton menjadi kurang mendalam. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa orang cenderung lebih sulit mengingat detail cerita ketika perhatian mereka sering teralihkan.

Tidak hanya notifikasi, desain media sosial juga berperan dalam membentuk kebiasaan tersebut. Konten-konten pendek yang terus berganti, seperti video berdurasi belasan detik atau unggahan yang dapat digulir tanpa batas, melatih otak untuk terus mencari rangsangan baru.

Ketika kemudian menonton film berdurasi dua jam dengan alur yang lebih lambat, sebagian orang mulai merasa tidak sabar dan terdorong mengambil ponsel untuk mencari hiburan tambahan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior juga menunjukkan bahwa kehadiran ponsel, bahkan ketika tidak digunakan, dapat mengurangi kapasitas perhatian seseorang.

Sementara itu, laporan dari Microsoft pada 2015 pernah mengemukakan bahwa paparan teknologi digital yang intens dapat memengaruhi cara manusia mempertahankan perhatian, meskipun temuan tersebut masih menjadi bahan diskusi dan tidak dapat disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa "rentang perhatian manusia terus menurun."

Meski demikian, kebiasaan mengecek ponsel saat menonton bukan berarti tidak bisa diubah. Beberapa langkah sederhana dapat membantu, seperti mengaktifkan mode "Jangan Ganggu", meletakkan ponsel di luar jangkauan, atau menetapkan waktu khusus untuk benar-benar fokus menikmati film tanpa membuka aplikasi lain.

Sesekali, cobalah membuat tantangan sederhana untuk diri sendiri: tonton satu film hingga selesai tanpa menyentuh ponsel sama sekali. Mungkin terasa sulit pada awalnya, tetapi tantangan tersebut dapat menjadi cara untuk melatih kembali kemampuan fokus sekaligus menikmati cerita secara lebih utuh. Siapa tahu, pengalaman menonton yang selama ini terasa biasa saja justru menjadi jauh lebih berkesan ketika perhatian tidak lagi terbagi.

Editor : Kabun Triyatno
dopamin film fokus menonton film ponsel