RADARSOLO.COM - Pernah mencoba mengucapkan nama sendiri berulang kali hingga tiba-tiba terdengar aneh? Atau mungkin saat membaca sebuah kata berkali-kali, kata tersebut mendadak terasa asing, seolah-olah bukan bagian dari bahasa yang biasa digunakan. Jika pernah mengalaminya, tidak perlu khawatir.
Fenomena ini ternyata telah lama dikenal dalam dunia psikologi dan linguistik dengan istilah semantic satiation.
Baca Juga: Baru Lewat Depan Gerai, Tiba-Tiba Dapat SMS Promo? Ternyata Bukan Kebetulan
Semantic satiation adalah kondisi ketika sebuah kata yang diulang terus-menerus untuk sementara kehilangan makna di benak seseorang. Akibatnya, kata tersebut terasa janggal, asing, atau bahkan seperti sekadar rangkaian bunyi tanpa arti. Menariknya, fenomena ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk ketika mengucapkan nama sendiri.
Fenomena ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Leon James pada tahun 1962. Dalam penelitiannya, James menjelaskan bahwa pengulangan kata secara terus-menerus dapat menyebabkan penurunan sementara dalam pemrosesan makna oleh otak.
Ketika otak menerima stimulus yang sama berkali-kali dalam waktu singkat, respons terhadap stimulus tersebut menjadi melemah sehingga perhatian bergeser dari makna menuju bentuk bunyinya.
Baca Juga: Pernah Bilang "Gan" atau "Sob"? Bahasa Ternyata Juga Punya Umur
Sebagai contoh, cobalah mengucapkan nama sendiri sekitar 20 hingga 30 kali tanpa jeda. Pada awalnya, nama tersebut akan terdengar biasa saja. Namun setelah beberapa saat, banyak orang mulai merasa bahwa nama itu terdengar aneh, lucu, atau bahkan seperti nama orang lain. Hal yang sama juga bisa terjadi pada kata-kata sederhana seperti "rumah", "meja", atau "makan". Semakin sering diulang, semakin terasa asing.
Fenomena ini berkaitan dengan cara kerja otak dalam memproses bahasa. Ketika mendengar atau membaca sebuah kata, otak akan menghubungkan bunyi atau bentuk tulisan dengan makna yang telah tersimpan di dalam memori.
Akan tetapi, pengulangan yang terlalu cepat membuat hubungan tersebut mengalami kelelahan sementara (temporary neural fatigue). Akibatnya, akses menuju makna menjadi sedikit terganggu meskipun hanya berlangsung sesaat.
Sejumlah penelitian modern turut mendukung penjelasan tersebut. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology menunjukkan bahwa pengulangan kata dapat mengurangi kekuatan asosiasi makna sehingga peserta penelitian membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali arti kata yang sama setelah diulang berkali-kali. Penelitian lain juga menemukan bahwa efek ini hanya bersifat sementara. Setelah seseorang berhenti mengulang kata dan mengalihkan perhatian sejenak, makna kata akan kembali diproses secara normal.
Selain menarik untuk dicoba, semantic satiation juga memberikan gambaran mengenai cara kerja bahasa di dalam otak.
Selama ini banyak orang menganggap memahami kata adalah proses yang sederhana. Padahal, setiap kali mendengar sebuah kata, otak melakukan berbagai tahapan pemrosesan, mulai dari mengenali bunyi, mencocokkannya dengan memori, hingga menghubungkannya dengan makna yang sesuai.
Ketika salah satu tahapan tersebut mengalami kelelahan sementara akibat pengulangan, persepsi terhadap kata pun ikut berubah.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya kumpulan kosakata, melainkan hasil kerja kompleks sistem kognitif manusia. Karena itu, rasa "aneh" saat mengucapkan nama sendiri bukanlah tanda gangguan ingatan ataupun masalah psikologis, melainkan respons normal otak terhadap stimulus yang diulang secara terus-menerus.
Jadi, jika suatu saat nama sendiri tiba-tiba terdengar asing setelah diucapkan berkali-kali, Anda tidak sedang kehilangan identitas. Otak hanya sedang "beristirahat" sejenak dari memproses makna kata tersebut. Beberapa detik kemudian, ketika perhatian telah beralih, nama itu akan kembali terdengar biasa seperti semula.
Editor : Kabun Triyatno