RADARSOLO.COM - Kata "bajingan" belakangan ramai diperbincangkan di media sosial setelah diucapkan Presiden Prabowo saat memberikan pidato dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (12/7/2026).
"Presiden boleh ngomong bajingan, boleh nggak, Pak? Ini kan tidak termasuk kasar kan? Bajingan ya bajingan gitu," ujar Presiden Prabowo.
Pernyataan tersebut memicu beragam tanggapan dari warganet. Sebagian menilai kata tersebut hanyalah istilah biasa, sementara yang lain menganggapnya sebagai kata makian. Lantas, benarkah "bajingan" bukan sebuah makian?
Baca Juga: CPNS 2026: Pemerintah Siapkan Rekrutmen, Kepala BKN Sebut Jumlah Formasi Masih Dalam Perhitungan
Jika ditelusuri dari sejarahnya, "bajingan" awalnya bukanlah kata yang bermakna menghina. Bajingan merupakan sebutan bagi orang yang mengemudikan gerobak sapi, alat transportasi tradisional yang dahulu banyak digunakan untuk mengangkut hasil panen maupun barang dagangan dalam masyarakat Jawa.
Pada masa itu, bajingan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan, terutama karena sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dan gerobak sapi menjadi salah satu sarana transportasi utama. Merujuk pada unggahan Instagram National Geographic Indonesia, diyakini bahwa istilah "bajingan" berasal dari nama tokoh pencetus gerobak sapi, yakni Mbah Jingan.
Seiring berjalannya waktu, makna kata tersebut mengalami perubahan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bajingan memiliki beberapa arti, yakni penjahat, pencopet, serta kata makian yang berarti kurang ajar.
Baca Juga: Suhu Minus 1 Derajat Celcius Landa Merbabu, Embun Beku Mulai Selimuti Jalur Pendakian Suwanting
Perubahan makna seperti ini merupakan hal yang lazim dalam perkembangan bahasa. Sebuah kata dapat mengalami pergeseran makna sesuai dengan penggunaan masyarakat dari waktu ke waktu. Karena itulah, meski memiliki sejarah sebagai nama sebuah profesi di masyarakat Jawa, dalam penggunaan bahasa Indonesia masa kini kata "bajingan" lebih umum dipahami sebagai kata makian atau ungkapan bernada menghina.
Editor : Kabun Triyatno