Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Healing, Valid, hingga Aura, Ketika Makna Kata Bergeser karena Media Sosial

Inayah Choirunisa • Rabu, 15 Juli 2026 | 14:35 WIB
Gambar: Pinterest
Gambar: Pinterest

RADARSOLO.COM - Pernah mendengar kalimat seperti, "Weekend ini mau healing dulu," atau "Pendapatmu valid banget," hingga "Auranya mahal banget!" Ungkapan-ungkapan tersebut kini begitu akrab di media sosial. Menariknya, makna kata-kata itu tidak selalu sama dengan pengertian yang tercantum dalam kamus.

Seiring berkembangnya komunikasi digital, sejumlah kata mengalami perluasan bahkan pergeseran makna sesuai cara masyarakat menggunakannya.

Dalam ilmu linguistik, fenomena ini dikenal sebagai perubahan makna atau semantic change. Perubahan tersebut merupakan hal yang wajar karena bahasa bersifat dinamis dan terus mengikuti perkembangan budaya, teknologi, serta kebiasaan para penuturnya.

Baca Juga: 9 Checklist Sebelum Mengambil Keputusan Finansial Mendesak

Salah satu contoh yang paling mudah ditemui adalah kata healing. Dalam bahasa Inggris, healing berarti proses penyembuhan, baik secara fisik maupun emosional. Sementara itu, di media sosial Indonesia, kata ini sering digunakan untuk menggambarkan kegiatan berlibur, berjalan-jalan, atau sekadar mencari suasana baru setelah merasa penat.

Kalimat seperti "Akhir pekan ini waktunya healing ke pantai" menjadi hal yang lumrah, meskipun kegiatan tersebut tidak selalu berkaitan langsung dengan proses penyembuhan.

Perubahan serupa juga terjadi pada kata valid. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), valid berarti "menurut cara yang semestinya; berlaku; sahih."

Baca Juga: Ternyata Tanda Baca Bisa Mengubah Kesan Chat, lho!

Namun, dalam percakapan di media sosial, kata ini sering dipakai sebagai bentuk persetujuan atau pengakuan terhadap pendapat orang lain. Misalnya, komentar seperti "Pendapatmu valid" lebih sering dimaknai sebagai "Aku setuju" atau "Masuk akal" daripada merujuk pada keabsahan suatu data atau informasi.

Kata aura juga mengalami perkembangan makna yang menarik. Dalam KBBI, aura dijelaskan sebagai istilah kedokteran yang merujuk pada perasaan subjektif atau gejala yang mendahului serangan tertentu, seperti epilepsi. Akan tetapi, di media sosial, kata ini justru identik dengan kesan, karisma, atau vibe yang dimiliki seseorang.

Ungkapan seperti "Auranya mahal," "Aura pemimpin," atau "Aura anak pertama" kini lebih sering digunakan untuk menggambarkan citra atau kesan yang dipancarkan seseorang daripada makna medisnya.

Selain tiga kata tersebut, masih banyak kosakata lain yang mengalami perluasan makna. Kata random, misalnya, tidak lagi hanya dipahami sebagai sesuatu yang acak, tetapi juga dipakai untuk menyebut perilaku yang dianggap nyeleneh atau sulit ditebak.

Sementara itu, kata brutal yang awalnya berkonotasi kejam atau kasar kini kerap digunakan sebagai bentuk hiperbola untuk menyatakan sesuatu yang sangat hebat, seperti dalam kalimat "Diskonnya brutal" atau "Mainnya brutal banget."

Fenomena ini menunjukkan bahwa makna kata tidak hanya ditentukan oleh kamus, tetapi juga oleh cara masyarakat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kamus berfungsi mendokumentasikan penggunaan bahasa, sedangkan penutur bahasa menjadi pihak yang terus membentuk perkembangan makna melalui interaksi sosial.

Karena itu, perubahan makna bukan berarti suatu bahasa mengalami kerusakan. Sebaliknya, perubahan tersebut menjadi bukti bahwa bahasa terus hidup dan berkembang mengikuti zamannya.

Di era media sosial, proses itu berlangsung semakin cepat. Kata-kata yang dulu memiliki makna khusus kini dapat memperoleh nuansa baru karena digunakan secara luas oleh masyarakat, terutama generasi muda. Itulah yang membuat bahasa selalu menarik untuk diamati—ia tidak pernah benar-benar berhenti berubah.

Editor : Kabun Triyatno
random brutal healing valid aura