Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Galeri Penuh? Bisa Jadi Anda Mengalami Digital Hoarding

Inayah Choirunisa • Sabtu, 18 Juli 2026 | 13:00 WIB
Fenomena digital hoarding. Gambar: Pinterest
Fenomena digital hoarding. Gambar: Pinterest

RADARSOLO.COM - Pernah berniat membersihkan galeri ponsel, tetapi akhirnya mengurungkan niat karena merasa semua foto dan tangkapan layar masih mungkin dibutuhkan? Atau memiliki ribuan file, dokumen, hingga video yang tidak pernah dibuka lagi, tetapi tetap enggan menghapusnya? Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian.

Kebiasaan menyimpan terlalu banyak file digital dikenal dengan istilah digital hoarding. Fenomena ini merujuk pada kecenderungan seseorang mengumpulkan dan mempertahankan berbagai berkas digital, seperti foto, video, tangkapan layar, dokumen, email, maupun pesan, meskipun sebagian besar sudah tidak lagi digunakan.

Baca Juga: 7 Pertimbangan Sebelum Membeli iPhone 15 di Promo Salebration Blibli

Berbeda dengan kebiasaan menyimpan file penting sebagai cadangan, digital hoarding ditandai dengan sulitnya memutuskan mana yang perlu disimpan dan mana yang sebenarnya bisa dihapus. Akibatnya, kapasitas penyimpanan terus penuh, sementara jumlah file bertambah dari hari ke hari.

Fenomena ini semakin sering ditemui seiring berkembangnya teknologi. Kapasitas penyimpanan ponsel dan layanan komputasi awan (cloud) yang semakin besar membuat banyak orang merasa tidak perlu lagi memilah file. Selama ruang penyimpanan masih tersedia, hampir semua hal disimpan begitu saja.

Baca Juga: Sunyinya Hutan Kota Sungkur: Misteri Hilangnya Kerkof Belanda dan Pemakaman Eropa di Tengah Kota Klaten

Contohnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang memiliki puluhan tangkapan layar promo belanja yang sudah berakhir, foto menu restoran yang tidak pernah dikunjungi, gambar inspirasi yang terlupakan, hingga dokumen lama yang sudah tidak lagi digunakan. Tidak sedikit pula yang menyimpan ribuan foto dengan objek yang hampir sama karena merasa sayang jika harus menghapus salah satunya.

Lalu, mengapa seseorang sulit menghapus file digital?

Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran bahwa file tersebut suatu saat akan dibutuhkan. Pikiran seperti "siapa tahu nanti berguna" atau "takut menyesal kalau dihapus" membuat seseorang memilih menyimpan semuanya, meskipun kemungkinan file tersebut dibuka kembali sangat kecil.

Baca Juga: Mengintip Geliat Solo Diecast Photography yang Ubah Mainan Jadi Karya Seni

Selain itu, beberapa file juga memiliki nilai emosional. Foto bersama keluarga, tangkapan layar percakapan, atau video dari momen tertentu sering kali disimpan karena menjadi pengingat pengalaman yang pernah dialami. Meski tidak pernah dibuka kembali, keberadaan file tersebut memberikan rasa tenang bagi pemiliknya.

Dalam beberapa penelitian, digital hoarding juga dikaitkan dengan perilaku menunda pengambilan keputusan. Menghapus file berarti harus memilih mana yang penting dan mana yang tidak. Bagi sebagian orang, proses tersebut terasa melelahkan sehingga mereka lebih memilih membiarkan semuanya tetap tersimpan.

Sekilas, kebiasaan ini mungkin tampak sepele. Namun, jika dibiarkan, digital hoarding dapat membuat penyimpanan cepat penuh, menyulitkan pencarian dokumen penting, hingga menimbulkan rasa kewalahan saat melihat ribuan file yang belum pernah dirapikan.

Bayangkan ketika ingin mencari satu dokumen penting, tetapi harus melewati ribuan tangkapan layar, foto, dan video yang sebenarnya sudah tidak relevan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari informasi justru habis karena berkas digital tidak tertata dengan baik.

Untuk mengurangi kebiasaan ini, seseorang dapat mulai dengan membersihkan file secara bertahap. Misalnya, menghapus tangkapan layar yang sudah tidak diperlukan, memindahkan dokumen penting ke folder khusus, atau meninjau kembali foto yang memiliki banyak salinan serupa. Langkah kecil yang dilakukan secara rutin biasanya lebih mudah dibandingkan menghapus ribuan file sekaligus.

Di era digital, menyimpan informasi memang menjadi lebih mudah dibandingkan sebelumnya. Namun, bukan berarti semua hal harus disimpan tanpa batas. Sama seperti rumah yang perlu dirapikan secara berkala, ruang penyimpanan digital juga membutuhkan pengelolaan agar tetap rapi, mudah diakses, dan tidak dipenuhi file yang sebenarnya sudah tidak memiliki fungsi.

Editor : Kabun Triyatno
file galeri dokumen digital informasi