RADARSOLO.COM - "Kok usianya sudah kepala tiga tapi masih seperti anak kecil?"
Kalimat seperti itu mungkin pernah terlintas ketika melihat seseorang yang sulit menerima kritik, enggan memikul tanggung jawab, selalu menghindari komitmen, atau justru bergantung pada orang lain untuk menyelesaikan masalahnya. Di media sosial, perilaku semacam ini sering diberi label manchild.
Namun, tahukah kamu? Jauh sebelum istilah manchild populer di internet, psikologi sebenarnya telah lama membahas fenomena serupa.
Baca Juga: Nggak Langsung Jatuh Cinta, Justru Ini yang Bikin Hubungan Slow Burn Terasa Spesial
Dalam psikologi analitis yang dikembangkan oleh Carl Jung, terdapat konsep Puer Aeternus, bahasa Latin yang berarti eternal boy atau "anak laki-laki yang abadi". Konsep ini menggambarkan seseorang yang telah dewasa secara usia tetapi masih kesulitan menjalani kedewasaan secara emosional dan psikologis.
Berbeda dengan anggapan banyak orang, ini bukan sekadar soal hobi yang dianggap kekanak-kanakan. Seseorang yang gemar bermain gim, mengoleksi action figure, atau menonton film animasi belum tentu dapat disebut manchild. Yang menjadi perhatian justru adalah pola perilaku yang terus-menerus menghindari tanggung jawab, takut berkomitmen, dan enggan menghadapi konsekuensi dari pilihan hidupnya.
Baca Juga: Rumah Dilempari Sampah Tetangga, Warga Solo Lapor Polisi 110
Menurut Carl Jung dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh psikolog Marie Louise von Franz, individu dengan karakteristik Puer Aeternus sering menjalani apa yang disebut sebagai provisional life, yaitu seolah-olah hidup yang sebenarnya belum dimulai. Mereka merasa pekerjaan saat ini bukan yang tepat, hubungan yang dijalani belum benar-benar cocok, atau terus menunda mengambil keputusan karena berharap akan ada kesempatan yang lebih baik di masa depan. Akibatnya, banyak rencana hanya berhenti sebagai angan-angan tanpa pernah diwujudkan.
Lalu, mengapa seseorang bisa mengalami kondisi seperti ini?
Baca Juga: Gara-Gara Hentikan Pulbaket MBG, Kejari hingga Kejagung Digugat ke PN Solo
Psikologi tidak memberikan satu jawaban pasti karena perkembangan kepribadian dipengaruhi banyak faktor. Akan tetapi, salah satu penjelasan yang sering dibahas adalah pola pengasuhan sejak kecil. Anak yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu melindungi atau selalu menyelesaikan setiap masalahnya bisa jadi memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk belajar mandiri, mengambil keputusan, dan menghadapi kegagalan. Sebaliknya, ada pula individu yang menghindari tanggung jawab karena pengalaman hidup tertentu atau rasa takut menghadapi kegagalan dan penolakan. Dengan kata lain, penyebabnya bisa berbeda pada setiap orang.
Rasa takut terhadap kegagalan juga menjadi salah satu ciri yang sering dikaitkan dengan konsep ini. Daripada mencoba lalu gagal, sebagian orang memilih tidak mengambil keputusan sama sekali. Mereka ingin tetap memiliki banyak pilihan sehingga enggan terikat pada pekerjaan, hubungan, atau komitmen jangka panjang. Sekilas terlihat seperti mencintai kebebasan, padahal di baliknya bisa tersembunyi kecemasan menghadapi konsekuensi hidup.
Editor : Kabun Triyatno