RADARSOLO.COM - Bahasa Jawa dikenal sebagai salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur terbesar di Indonesia. Selain memiliki tingkat tutur yang beragam, bahasa Jawa juga menyimpan banyak kosakata yang mampu menggambarkan suatu keadaan secara sangat spesifik. Menariknya, beberapa kata bahkan sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia hanya dengan satu padanan.
Bagi penuturnya, kata-kata tersebut terdengar biasa dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bagi orang yang tidak memahami bahasa Jawa, maknanya sering kali memerlukan penjelasan dalam bentuk kalimat karena tidak ada satu kata dalam bahasa Indonesia yang benar-benar mewakili artinya.
Baca Juga: Apa Itu “Manchild”? Kenapa Ada Orang Dewasa yang Sulit Bersikap Dewasa?
1. Timak-timik
Salah satunya adalah timak-timik. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan anak kecil yang berjalan pelan dengan langkah-langkah mungil. Sekilas, kata tersebut dapat diterjemahkan sebagai "berjalan pelan". Namun, maknanya lebih dari itu. Timak-timik juga menghadirkan kesan langkah yang pendek dan perlahan seperti mengendap-endap, tak jarang sering digunakan untuk menggambarkan balita yang baru belajar berjalan.
2. Ingah-ingih
Ada pula kata ingah-ingih. Istilah ini merujuk pada keadaan seseorang yang tampak bingung atau tidak tahu harus menjawab apa ketika diberi pertanyaan. Misalnya, seorang anak yang diminta menjawab pertanyaan, tetapi hanya terdiam sambil terlihat kebingungan. Dalam bahasa Indonesia, kondisi tersebut mungkin dijelaskan dengan frasa "bingung harus menjawab apa", sedangkan dalam bahasa Jawa cukup diwakili oleh satu kata, yakni ingah-ingih.
Baca Juga: Nggak Langsung Jatuh Cinta, Justru Ini yang Bikin Hubungan Slow Burn Terasa Spesial
3. Cekitang-cekiting
Kosakata lain yang tak kalah unik adalah cekitang-cekiting. Kata ini menggambarkan cara seseorang memegang suatu benda hanya menggunakan ujung dua jari karena merasa jijik, kotor, atau enggan menyentuhnya secara langsung. Misalnya ketika mengangkat tisu bekas, plastik sampah, atau benda yang berlumpur. Bahasa Indonesia memang dapat menjelaskan tindakan tersebut, tetapi memerlukan rangkaian kalimat yang lebih panjang untuk menyampaikan makna yang sama.
4. Mbedhedheg
Dalam urusan makanan, bahasa Jawa juga memiliki kosakata yang sangat spesifik, salah satunya mbedhedheg. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kuah sayur yang sudah menyusut karena terlalu lama dipanaskan atau didiamkan di atas kompor. Masyarakat Jawa sering menggunakan kata ini ketika melihat sayur lodeh, sayur sop, atau gulai yang kuahnya tinggal sedikit akibat terus dipanaskan.
5. Mengkis-mengkis
Contoh lainnya adalah mengkis-mengkis. Kata ini menggambarkan kondisi seseorang yang bernapas terengah-engah setelah berlari, menaiki tangga, atau melakukan aktivitas fisik yang melelahkan. Walaupun bahasa Indonesia mengenal istilah "terengah-engah", nuansa yang ditampilkan oleh mengkis-mengkis terasa lebih hidup bagi penutur bahasa Jawa karena menirukan bunyi napas yang pendek dan berat.
Keberadaan kata-kata seperti ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merekam cara suatu masyarakat memandang pengalaman sehari-hari. Semakin dekat suatu pengalaman dengan kehidupan penuturnya, semakin besar kemungkinan bahasa tersebut memiliki kosakata yang khusus untuk menggambarkannya.
Dalam kajian linguistik, fenomena ini menunjukkan bahwa tidak semua kata memiliki padanan yang benar-benar sama di bahasa lain. Sering kali sebuah kata membawa makna budaya, kebiasaan, hingga pengalaman yang khas sehingga perlu dijelaskan dengan beberapa kalimat ketika diterjemahkan.
Bahasa Jawa sendiri masih menyimpan banyak kosakata serupa, seperti kemrungsung untuk menggambarkan sikap terburu-buru hingga terlihat gelisah, atau semribit yang menggambarkan embusan angin kecil yang terasa sejuk. Kekayaan kosakata tersebut menjadi bukti bahwa bahasa daerah memiliki cara yang unik dalam menangkap berbagai situasi yang mungkin luput jika hanya dijelaskan dengan kata-kata yang lebih umum.
Di tengah derasnya penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari, mengenal kembali kosakata daerah menjadi salah satu cara untuk menjaga kekayaan bahasa Nusantara. Sebab, di balik kata-kata yang terdengar sederhana, tersimpan cara pandang masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor : Kabun Triyatno