Kenapa Sih Emoji Baru Muncul Tiap Tahun? Ini Rahasianya!

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 14:30 WIB
Munculnya emoji baru tiap tahun ternyata lewat proses ketat Unicode Consortium, siapa pun bisa usul. Gambar: Pinterest
Munculnya emoji baru tiap tahun ternyata lewat proses ketat Unicode Consortium, siapa pun bisa usul. Gambar: Pinterest

RADARSOLO.COM – Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa hampir setiap tahun muncul emoji baru di WhatsApp, Instagram, atau media sosial lainnya? Mulai dari wajah tersenyum dengan ekspresi baru, hewan, tumbuhan, hingga benda-benda unik, semuanya seolah terus bertambah. Padahal, emoji bukan sekadar gambar lucu yang bisa dibuat sesuka hati.

Di balik setiap emoji yang muncul di layar ponsel, terdapat proses panjang yang melibatkan penilaian, penelitian, hingga persetujuan dari sebuah organisasi internasional. Artinya, penambahan emoji tidak dilakukan secara sembarangan.

Baca Juga: Masih Sering Salah Tulis? Ini Deretan Kata Bahasa Indonesia yang Kerap Keliru

Organisasi yang bertanggung jawab atas standar emoji adalah Unicode Consortium, sebuah lembaga nirlaba yang juga mengatur standar karakter digital agar huruf, angka, dan simbol dapat dibaca dengan sama di berbagai perangkat dan sistem operasi. Berkat standar inilah emoji yang dikirim dari ponsel Android tetap bisa dibaca oleh pengguna iPhone, meski tampilannya mungkin sedikit berbeda.

Lalu, bagaimana sebuah emoji bisa masuk ke keyboard ponsel?

Ternyata, siapa pun sebenarnya dapat mengusulkan emoji baru kepada Unicode Consortium. Namun, usulan tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan. Pengusul wajib menyusun proposal resmi yang menjelaskan alasan mengapa emoji tersebut layak ditambahkan.

Baca Juga: Pernah Bilang "Gan" atau "Sob"? Bahasa Ternyata Juga Punya Umur

Proposal itu tidak cukup hanya berisi gambar. Pengusul harus menunjukkan bahwa emoji yang diajukan memiliki potensi digunakan oleh banyak orang, memiliki makna yang luas, relevan secara global, dan belum diwakili oleh emoji lain yang sudah ada. Bahkan, proposal juga perlu menyertakan bukti mengenai tingkat pencarian atau minat masyarakat terhadap simbol yang diusulkan.

Selain itu, Unicode juga mempertimbangkan apakah emoji tersebut dapat digunakan dalam berbagai konteks komunikasi, bukan hanya untuk kelompok atau budaya tertentu. Emoji yang terlalu spesifik, hanya berkaitan dengan tren sesaat, atau mudah diwakili oleh emoji lain umumnya memiliki peluang lebih kecil untuk diterima.

Setelah proposal dikirim, proses peninjauan bisa berlangsung cukup lama. Tim Emoji Subcommittee akan mengevaluasi usulan tersebut sebelum membawanya ke Unicode Technical Committee. Tidak semua proposal berhasil lolos. Dari banyaknya usulan yang masuk setiap tahun, hanya sebagian kecil yang akhirnya disetujui menjadi emoji resmi.

Baca Juga: Tujuh Emoji Populer yang Jadi Bahasa Rahasia Gen Z

Jika sudah disetujui, emoji tersebut akan dimasukkan ke dalam versi terbaru standar Unicode. Namun, pengguna ponsel belum tentu langsung bisa menggunakannya. Perusahaan teknologi seperti Apple, Google, Samsung, maupun Microsoft masih harus mendesain ulang emoji sesuai gaya visual masing-masing sebelum menghadirkannya melalui pembaruan sistem operasi. Karena itu, waktu kemunculan emoji baru di setiap perangkat bisa berbeda-beda.

Menariknya, beberapa emoji yang kini sering digunakan ternyata berawal dari proposal masyarakat. Emoji harpa, misalnya, pernah diajukan oleh seorang pembuat film bersama musisi karena dinilai belum ada representasi alat musik tersebut dalam kumpulan emoji. Setelah melalui proses penilaian, usulan itu akhirnya diterima dan menjadi bagian dari standar Unicode.

Setiap tahun, Unicode juga membuka periode pengajuan proposal baru. Hal ini membuat kumpulan emoji terus berkembang mengikuti kebutuhan komunikasi digital masyarakat di berbagai belahan dunia. Meski demikian, jumlah emoji yang disetujui tetap terbatas karena setiap simbol harus benar-benar memiliki manfaat dan potensi penggunaan yang luas.

Bagi banyak orang, emoji mungkin hanya pelengkap saat mengirim pesan. Namun, di balik simbol-simbol kecil itu terdapat proses seleksi yang cukup ketat, mulai dari penyusunan proposal, penilaian manfaat, hingga penyesuaian di berbagai platform. Jadi, ketika suatu hari Anda menemukan emoji baru di keyboard ponsel, besar kemungkinan simbol tersebut telah melewati perjalanan panjang sebelum akhirnya bisa digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Editor : Kabun Triyatno
emoji konteks unicode komunikasi ponsel