RADARSOLO.COM – Pernah mengirim emoji tersenyum kepada teman, tetapi ia justru mengira Anda sedang menyindir? Atau pernah melihat tangkapan layar percakapan yang menampilkan emoji berbeda dari yang muncul di ponsel Anda? Meski menggunakan emoji yang sama, tampilannya ternyata tidak selalu identik di setiap perangkat.
Perbedaan inilah yang sering membuat orang bingung, bahkan memicu salah paham dalam komunikasi digital. Padahal, emoji telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Mulai dari mengucapkan terima kasih, menyampaikan candaan, hingga menunjukkan ekspresi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, semuanya kini sering dibantu oleh simbol-simbol kecil tersebut.
Baca Juga: Bahasa Indonesia Ternyata Punya Banyak Istilah untuk Menyebut ‘Tertawa’, Lho!
Lantas, mengapa emoji yang dikirim bisa berubah ketika diterima di perangkat lain?
Jawabannya terletak pada sistem yang mengatur emoji. Setiap emoji memiliki kode Unicode, yaitu standar internasional yang memastikan sebuah simbol dapat dikenali oleh berbagai perangkat di seluruh dunia. Jadi, ketika seseorang mengirim emoji 😂, yang sebenarnya dikirim bukanlah gambar wajah tertawa itu, melainkan kode digitalnya.
Nah, gambar yang muncul setelah kode tersebut diterima sepenuhnya bergantung pada desain masing-masing perusahaan teknologi. Apple, Google, Samsung, Microsoft, hingga WhatsApp memiliki tim desain sendiri yang membuat tampilan emoji sesuai gaya visual platform mereka. Itulah sebabnya satu emoji dapat terlihat sedikit berbeda di Android, iPhone, Windows, atau aplikasi tertentu.
Baca Juga: Mengulang Kata Tidak Selalu Berarti Jamak, Yuk Kenali Keunikan Bahasa Indonesia
Sebagai contoh, emoji 😁 di iPhone memiliki bentuk mata yang berbeda dibandingkan versi Android. Emoji 😭 juga pernah memiliki desain yang cukup kontras di beberapa platform sehingga ekspresinya terasa lebih dramatis di satu perangkat, tetapi tampak lebih lembut di perangkat lain. Begitu pula emoji 🤭 yang pernah mengalami perubahan desain pada beberapa pembaruan sistem operasi sehingga sempat menimbulkan kebingungan di kalangan pengguna.
Salah satu contoh yang paling sering dibahas adalah emoji 🙏. Di banyak negara, simbol ini dipahami sebagai tangan yang sedang berdoa. Namun, tidak sedikit orang yang mengartikannya sebagai high five atau tos antardua orang. Perbedaan penafsiran tersebut muncul karena bentuk visual dan kebiasaan budaya yang berbeda-beda.
Baca Juga: Duduk Lama di Depan Laptop tapi Ide Nggak Muncul? Bisa Jadi Kamu Lagi Creative Block
Kasus lain terjadi pada emoji 🙂. Bagi sebagian orang, terutama pengguna yang lebih tua, emoji ini sekadar menunjukkan senyum ramah. Namun, di kalangan sebagian pengguna Generasi Z, emoji yang sama justru sering dipakai sebagai tanda senyum yang terkesan dingin, canggung, atau bahkan sarkastis. Sementara itu, emoji 👍 yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai simbol persetujuan kini oleh sebagian anak muda justru bisa dianggap terlalu formal atau terasa pasif-agresif jika digunakan dalam percakapan santai.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa makna emoji tidak hanya ditentukan oleh bentuk gambarnya, tetapi juga oleh budaya internet dan cara suatu generasi menggunakannya. Artinya, meski desain emoji sudah dibuat semirip mungkin, tafsir setiap orang tetap bisa berbeda.
Unicode Consortium sebagai organisasi yang mengatur standar emoji memang memastikan setiap simbol memiliki identitas yang sama. Namun, mereka tidak mengatur bagaimana setiap perusahaan harus menggambarnya. Kebebasan inilah yang membuat Apple, Google, Samsung, dan platform lain memiliki ciri khas visual masing-masing.
Selain desain, pembaruan sistem operasi juga berpengaruh. Ketika Apple atau Google merilis versi emoji terbaru, pengguna yang belum memperbarui perangkatnya mungkin masih melihat desain lama. Bahkan, jika sebuah emoji benar-benar baru dirilis, perangkat dengan sistem operasi lama terkadang belum dapat menampilkannya sama sekali sehingga hanya muncul kotak kosong atau simbol pengganti.
Karena itu, saat mengirim pesan penting, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan atau komunikasi resmi, sebaiknya jangan hanya mengandalkan emoji untuk menyampaikan maksud. Tambahkan penjelasan dalam bentuk kata-kata agar pesan tidak mudah disalahartikan oleh penerima yang menggunakan perangkat atau memiliki kebiasaan komunikasi berbeda.
Di era komunikasi digital, emoji memang memudahkan kita mengekspresikan emosi hanya dengan satu simbol. Namun, di balik gambar-gambar kecil itu ternyata ada standar teknologi, desain masing-masing platform, hingga perbedaan budaya yang membuat maknanya tidak selalu sama bagi setiap orang.
Editor : Kabun Triyatno