Sebelum Ada Emoji, Orang Chat Pakai Apa Sih? Ternyata Dulu Andalkan Simbol Sederhana

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 14:15 WIB
Sebelum emoji populer, pengguna internet menggunakan emoticon dari tanda baca seperti :-) hingga kaomoji Jepang. Gambar: Pinterest
Sebelum emoji populer, pengguna internet menggunakan emoticon dari tanda baca seperti :-) hingga kaomoji Jepang. Gambar: Pinterest

RADARSOLO.COM – Sulit rasanya membayangkan percakapan digital tanpa emoji. Saat ini, cukup mengirim 😂 untuk menunjukkan tawa, ❤️ untuk mengungkapkan kasih sayang, atau 😭 ketika merasa sedih. Emoji seolah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari cara orang berkomunikasi di era internet.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana orang mengekspresikan perasaan sebelum emoji diciptakan?

Jauh sebelum WhatsApp, Instagram, atau media sosial seperti sekarang, pengguna internet sudah memiliki cara sendiri untuk menyampaikan emosi. Mereka memanfaatkan tanda baca pada keyboard untuk membentuk wajah sederhana yang dikenal sebagai emoticon.

Baca Juga: Masih Relevankah Slogan 'Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing' di Era Digital?

Beberapa emoticon yang mungkin masih diingat pengguna internet generasi awal antara lain :-) untuk tersenyum, :-( untuk sedih, ;-) untuk mengedipkan mata, hingga :-D untuk tertawa. Agar dapat "membaca" wajah tersebut, orang harus memiringkan kepala ke kiri sekitar 90 derajat.

Emoticon pertama yang terdokumentasi luas diperkenalkan oleh ilmuwan komputer asal Amerika Serikat, Scott Fahlman, pada 19 September 1982. Saat itu, ia mengusulkan penggunaan :-) sebagai penanda bahwa sebuah unggahan bersifat lelucon dan :-( untuk menunjukkan pesan yang serius atau tidak menyenangkan di papan diskusi daring Carnegie Mellon University. Usulan sederhana tersebut kemudian menyebar dan menjadi bagian dari budaya internet di berbagai negara.

Memasuki akhir 1990-an dan awal 2000-an, variasi emoticon semakin berkembang. Pengguna layanan percakapan seperti Yahoo! Messenger, mIRC, MSN Messenger, hingga BBM mulai akrab dengan simbol seperti XD untuk tertawa terbahak-bahak, T_T sebagai ekspresi menangis, O_O untuk menunjukkan keterkejutan, serta -_- yang menggambarkan rasa kesal atau bosan.

Baca Juga: Kok Emoji Bisa Menggantikan Kata, Tapi Belum Disebut Bahasa?

Pada saat yang sama, Jepang mengembangkan gaya emoticon yang berbeda, yaitu kaomoji. Berbeda dengan emoticon Barat yang harus dibaca dengan memiringkan kepala, kaomoji dapat dipahami dalam posisi tegak. Contohnya seperti (^^), (T_T), (), atau ¯\()_/¯. Kaomoji lebih menonjolkan bentuk mata sehingga dianggap mampu menggambarkan emosi dengan lebih beragam.

Lalu, kapan emoji mulai muncul?

Emoji pertama kali dikembangkan di Jepang pada akhir 1990-an oleh Shigetaka Kurita, seorang desainer antarmuka yang bekerja untuk perusahaan telekomunikasi NTT DoCoMo. Ia merancang sekitar 176 gambar sederhana berukuran 12 x 12 piksel sebagai pelengkap komunikasi di layanan pesan seluler. Berbeda dengan emoticon yang tersusun dari tanda baca, emoji merupakan karakter digital tersendiri sehingga tidak perlu dirangkai secara manual.

Baca Juga: Sulit Diterjemahkan, Bahasa Jawa Punya Istilah yang Sangat Spesifik untuk Situasi Sehari-hari

Popularitas emoji semakin meningkat setelah Unicode Consortium memasukkan emoji ke dalam standar Unicode pada 2010. Standar ini memungkinkan emoji yang sama dikenali oleh berbagai perangkat dan sistem operasi. Sejak saat itu, Apple, Google, Microsoft, Samsung, dan perusahaan teknologi lainnya mulai menghadirkan desain emoji masing-masing sehingga pengguna di seluruh dunia dapat saling berkirim emoji meskipun menggunakan perangkat yang berbeda.

Meski kini emoji mendominasi komunikasi digital, jejak emoticon ternyata belum sepenuhnya hilang. Hingga sekarang, masih banyak orang yang sesekali menggunakan simbol seperti :) atau :D dalam percakapan. Bahkan, di beberapa komunitas internet, emoticon klasik justru dianggap memberi kesan lebih santai, sederhana, atau menghadirkan nuansa nostalgia.

Menurut pakar linguistik internet David Crystal, perkembangan emoticon hingga emoji menunjukkan bahwa manusia selalu mencari cara untuk mengembalikan unsur-unsur nonverbal yang hilang dalam komunikasi berbasis teks. Jika saat berbicara langsung seseorang dapat tersenyum atau tertawa, dalam dunia digital ekspresi tersebut diwakili oleh simbol-simbol visual.

Dari rangkaian tanda baca sederhana hingga ribuan emoji yang kini tersedia di ponsel, cara manusia berkomunikasi terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Meski bentuknya berubah, tujuannya tetap sama, yakni membantu menyampaikan emosi agar pesan yang dikirim tidak hanya dipahami lewat kata-kata, tetapi juga lewat ekspresi.

 

Editor : Kabun Triyatno
emoji unicode media sosial emosi