Banyak orang mungkin mengira emoji pertama adalah wajah tersenyum atau simbol hati. Padahal, sejarah emoji bermula dari kumpulan gambar sederhana berukuran sangat kecil yang jauh berbeda dari emoji berwarna-warni yang digunakan saat ini.
Baca Juga: Kok Bisa? Bunyi yang Didengar Sama, tapi Kata yang Lahir di Tiap Bahasa Bisa Beda
Emoji pertama diciptakan pada tahun 1999 oleh Shigetaka Kurita, seorang desainer antarmuka asal Jepang yang saat itu bekerja untuk perusahaan telekomunikasi NTT DoCoMo. Kurita mendapat tugas mengembangkan layanan internet seluler yang lebih praktis dan menarik bagi pengguna ponsel di Jepang.
Pada masa itu, pesan singkat melalui ponsel masih sangat terbatas. Pengguna hanya bisa mengandalkan teks untuk menyampaikan informasi, sehingga ekspresi emosi sering kali sulit dipahami. Kurita kemudian mencari cara agar komunikasi digital terasa lebih hidup tanpa harus menambah banyak karakter dalam sebuah pesan.
Dari situlah lahir 176 emoji pertama. Jika dibandingkan dengan emoji masa kini, tampilannya terlihat sangat sederhana. Setiap gambar hanya berukuran 12 × 12 piksel, dengan desain kotak-kotak yang jauh dari kesan realistis.
Meski begitu, kumpulan gambar tersebut sudah mampu mewakili berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Sulit Diterjemahkan, Istilah Bahasa Indonesia Ini Punya Makna yang Sangat Khas
Emoji pertama tidak hanya berisi wajah tersenyum atau sedih. Kurita juga merancang ikon cuaca seperti matahari dan awan, simbol hati, payung, telepon, kendaraan, musik, hingga berbagai tanda yang sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat Jepang. Tujuannya bukan sekadar mempercantik pesan, tetapi juga membantu pengguna menyampaikan informasi secara lebih cepat.
Inspirasi desain emoji ternyata datang dari banyak hal. Kurita mengaku terinspirasi oleh manga, yaitu komik Jepang yang sering menggunakan simbol visual untuk menunjukkan emosi tokohnya.
Selain itu, ia juga mengambil referensi dari prakiraan cuaca, rambu-rambu jalan, papan informasi, hingga karakter kanji yang sederhana. Semua unsur tersebut kemudian dirangkum menjadi gambar-gambar kecil yang mudah dikenali.
Baca Juga: Sulit Diterjemahkan, Bahasa Jawa Punya Istilah yang Sangat Spesifik untuk Situasi Sehari-hari
Awalnya, emoji hanya tersedia bagi pengguna layanan NTT DoCoMo di Jepang. Namun, popularitasnya berkembang dengan cepat. Perusahaan telekomunikasi lain mulai membuat versi emoji masing-masing, meskipun belum ada standar yang sama. Akibatnya, satu emoji bisa memiliki bentuk atau makna yang berbeda di setiap layanan.
Perubahan besar terjadi pada 2010 ketika Unicode Consortium memasukkan emoji ke dalam standar Unicode. Sejak saat itu, emoji memiliki kode internasional yang sama sehingga dapat dikenali oleh berbagai sistem operasi dan perangkat. Langkah ini membuat pengguna Android, iPhone, maupun komputer dapat saling bertukar emoji tanpa kehilangan makna dasarnya, meskipun desain visualnya tetap disesuaikan oleh masing-masing perusahaan teknologi.
Kini, perkembangan emoji jauh melampaui bayangan penciptanya. Jika dulu hanya ada 176 gambar sederhana, kini jumlah emoji yang direkomendasikan dalam standar Unicode telah mencapai ribuan. Selain ekspresi wajah, tersedia pula emoji yang mewakili profesi, makanan dari berbagai negara, alat musik, aktivitas olahraga, disabilitas, hingga beragam simbol budaya. Penambahan tersebut dilakukan untuk membuat emoji semakin inklusif dan relevan dengan kehidupan masyarakat di seluruh dunia.
Atas kontribusinya dalam mengubah cara manusia berkomunikasi, koleksi 176 emoji karya Shigetaka Kurita bahkan diakui sebagai karya bersejarah. Pada 2016, Museum of Modern Art (MoMA) di New York memasukkan kumpulan emoji pertama itu ke dalam koleksi permanennya sebagai salah satu contoh desain yang memiliki pengaruh besar terhadap budaya digital.
Lebih dari dua dekade setelah pertama kali diperkenalkan, emoji telah menjadi bagian dari bahasa visual yang digunakan miliaran orang setiap hari. Meski kini tampil lebih berwarna dan beragam, semuanya berawal dari gambar-gambar mungil berukuran 12 × 12 piksel yang dirancang untuk membuat percakapan digital terasa sedikit lebih ekspresif.
Editor : Kabun Triyatno