Hopeless Romantic dan “When ya” yang Tidak Pernah Terputus

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 15:15 WIB
Ilustrasi Seorang Remaja sedang Menonton TikTok dan Berkomentar "When ya". (AI Generated)
Ilustrasi Seorang Remaja sedang Menonton TikTok dan Berkomentar "When ya". (AI Generated)

RADARSOLO.COM - Lagi asyik scroll TikTok, tiba-tiba muncul video pasangan yang saling memberi kejutan atau momen kencan yang manis. Tanpa berpikir panjang, jari langsung mengetik, "when ya?" di kolom komentar. Kalaupun kita tidak ikut berkomentar, hampir bisa dipastikan sudah ada puluhan komentar serupa. Sebenarnya, kenapa ya?

Bagi sebagian orang, kebiasaan menulis "when ya" bisa jadi berkaitan dengan sifat hopeless romantic. Istilah ini merujuk pada seseorang yang memiliki keyakinan kuat terhadap cinta sejati dan hubungan yang romantis. Mereka cenderung membayangkan kisah cinta yang ideal, layaknya yang sering ditampilkan dalam film, novel, atau dongeng.

Baca Juga: Emoji Pertama di Dunia Bentuknya Seperti Apa? Ternyata Sederhana Banget

Seorang hopeless romantic biasanya mudah tersentuh oleh hal-hal yang berbau romantis. Mereka percaya pada konsep seperti cinta pada pandangan pertama, menyukai bunga, surat cinta, atau gestur sederhana yang penuh makna.

Mereka juga sering kali lebih fokus pada sisi baik pasangan hingga mengabaikan kekurangannya demi mempertahankan gambaran hubungan yang sempurna. Bahkan, perhatian kecil dari seseorang bisa dengan mudah membuat mereka berbunga-bunga dan mulai membayangkan berbagai kemungkinan di masa depan.

Baca Juga: Nggak Langsung Jatuh Cinta, Justru Ini yang Bikin Hubungan Slow Burn Terasa Spesial

Oleh sebab itu, ketika melihat pasangan lain berbagi momen manis di media sosial, respons yang muncul sering kali adalah "when ya?" Bukan semata-mata karena iri tetapi karena mereka ikut membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi yang sama. Dua kata sederhana itu menjadi ungkapan spontan atas keinginan untuk merasakan pengalaman romantis yang selama ini hanya mereka saksikan dari layar ponsel.

Dari sisi psikologis, kebiasaan ini juga berkaitan dengan kecenderungan mengidealkan hubungan romantis. Film, novel, hingga konten media sosial membuat seseorang membangun gambaran mengenai hubungan yang dianggap sempurna.

Baca Juga: Link Video Cadar Hitam Coolmax Durasi 6 Menit Viral di TikTok, Siapa Perempuan di Dalamnya?

Ketika melihat orang lain menjalani momen tersebut, mereka tanpa sadar membandingkannya dengan kondisi diri sendiri. Perbandingan inilah yang kemudian melahirkan komentar seperti "when ya?" sebagai bentuk harapan yang disampaikan dengan cara yang ringan dan penuh humor.

Di sisi lain, frasa "when ya" juga menjadi cara untuk mengekspresikan kerinduan akan kedekatan emosional tanpa harus mengungkapkannya secara serius. Di balik kesannya yang bercanda, tidak sedikit orang yang sebenarnya sedang berharap suatu hari nanti mereka juga memiliki seseorang untuk diajak berbagi cerita, bertukar perhatian, atau sekadar menikmati momen sederhana bersama.

Baca Juga: Duduk Lama di Depan Laptop tapi Ide Nggak Muncul? Bisa Jadi Kamu Lagi Creative Block

Tentu saja, tidak semua orang yang berkomentar "when ya" adalah seorang hopeless romantic. Ada yang sekadar mengikuti tren, bercanda dengan teman, atau ikut meramaikan kolom komentar.

Bagi mereka yang memang percaya pada kisah cinta yang ideal, dua kata tersebut sering kali menjadi cerminan harapan yang masih terus dijaga.  Dua kata itu adalah cara paling sederhana untuk mengatakan, "Semoga suatu hari nanti aku juga merasakan kebahagiaan seperti itu." Sebuah jeritan hati yang dibungkus humor tetapi tetap menyimpan harapan bahwa giliran mereka untuk jatuh cinta akan datang pada waktunya.

 

Editor : Kabun Triyatno
Hopeless romantic when ya tren