RADARSOLO.COM – Ketika mendengar istilah Word of the Year atau "Kata Tahun Ini", kebanyakan orang mungkin membayangkan sebuah kata baru yang sedang populer. Misalnya, istilah yang berkaitan dengan teknologi, politik, atau fenomena sosial. Namun, pernahkah Anda membayangkan bahwa penghargaan tersebut justru pernah diberikan kepada sebuah emoji?
Hal itulah yang terjadi pada 2015. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Oxford Dictionaries memilih emoji 😂 atau Face with Tears of Joy sebagai Word of the Year. Keputusan ini sempat mengejutkan banyak orang karena pemenangnya bukanlah kata yang tersusun dari huruf, melainkan gambar kecil yang biasa digunakan dalam percakapan digital.
Baca Juga: "Sesi Potret" Puncaki Spotify Indonesia, Ini Makna Lagu yang Sudah Diputar Lebih dari 177 Juta Kali
Lantas, bagaimana bisa sebuah emoji dinobatkan sebagai "kata"?
Perlu dipahami bahwa Word of the Year bukan penghargaan untuk kata yang paling indah atau paling baku.
Oxford Dictionaries setiap tahun memilih satu istilah yang dianggap paling mencerminkan suasana, budaya, atau cara masyarakat berkomunikasi pada tahun tersebut. Penilaiannya didasarkan pada penggunaan, pengaruh, dan relevansi sebuah istilah dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kenapa Nama Sendiri Terasa Aneh Jika Diucapkan Berkali-kali? Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya
Pada 2015, penggunaan emoji meningkat sangat pesat di berbagai platform digital. Menurut Oxford Dictionaries, emoji 😂 menjadi salah satu simbol yang paling banyak digunakan secara global. Emoji tersebut dinilai mampu mewakili berbagai emosi, mulai dari tawa, kegembiraan, hingga reaksi terhadap sesuatu yang dianggap sangat lucu. Popularitasnya bahkan melampaui banyak kata yang sebelumnya diprediksi menjadi pemenang.
Keputusan itu diambil bekerja sama dengan perusahaan teknologi keyboard SwiftKey, yang menganalisis miliaran data penggunaan emoji di berbagai negara. Hasilnya menunjukkan bahwa 😂 menjadi salah satu emoji yang paling sering dipakai oleh pengguna ponsel di seluruh dunia.
Data tersebut memperkuat anggapan bahwa cara manusia berkomunikasi mulai bergeser. Tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui simbol visual.
Meski menggunakan istilah Word of the Year, Oxford menjelaskan bahwa pemilihan emoji bukan berarti emoji telah berubah menjadi kata dalam pengertian linguistik.
Baca Juga: Dulu Dianggap Aneh, Ternyata Kata-Kata Ini Sudah Resmi Masuk KBBI
Penghargaan tersebut lebih mencerminkan kenyataan bahwa komunikasi digital terus berkembang dan masyarakat semakin sering menggunakan gambar untuk melengkapi atau bahkan menggantikan sebagian ungkapan dalam percakapan.
Fenomena ini menarik perhatian banyak ahli bahasa. Menurut pakar linguistik David Crystal, perkembangan internet memang mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi bukan berarti bahasa akan hilang. Sebaliknya, bahasa justru beradaptasi dengan teknologi. Emoji hadir sebagai pelengkap yang membantu menyampaikan ekspresi, intonasi, dan emosi yang sulit ditampilkan dalam pesan teks.
Hal senada juga disampaikan ahli semiotika Marcel Danesi dalam bukunya The Semiotics of Emoji. Ia menjelaskan bahwa emoji merupakan bentuk komunikasi visual yang memperkaya bahasa tulis.
Emoji memang mampu menyampaikan perasaan secara cepat, tetapi tetap bergantung pada konteks dan kata-kata yang menyertainya. Dengan kata lain, emoji bukan pengganti bahasa, melainkan pendamping yang membuat komunikasi digital menjadi lebih ekspresif.
Menariknya, meski 😂 pernah menjadi "Word of the Year", tren penggunaan emoji terus berubah. Dalam beberapa tahun terakhir, emoji seperti 😭 atau💀 semakin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan Generasi Z. Pergeseran ini menunjukkan bahwa makna dan popularitas emoji terus berkembang mengikuti budaya internet.
Hingga kini, pemilihan emoji 😂 sebagai Word of the Year masih dikenang sebagai salah satu keputusan paling unik dalam sejarah Oxford Dictionaries.
Peristiwa tersebut menjadi penanda bahwa komunikasi manusia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada rangkaian huruf. Simbol-simbol kecil di layar ponsel pun dapat mencerminkan perubahan budaya dan kebiasaan masyarakat di era digital.
Jadi, jika Anda mengira emoji hanya berfungsi mempercantik percakapan, kisah ini menunjukkan hal yang berbeda. Sebuah emoji bahkan pernah dianggap paling mampu menggambarkan semangat zaman dibandingkan ribuan kata lain yang ada di kamus.
Editor : Kabun Triyatno